SETIAP usaha yang dimulai dari hobi dan rasa suka pasti akan berbuah keberhasilan. Seperti perjalan usaha Warung Kopi Orange yang didirikan oleh Andi Iwan.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Selain membuka usaha warung kopi, Andi Iwan memiliki usaha jualan baju di Pasar Butung. Hanya saja, ia tidak puas hanya satu usaha tetapi bagaimana membuka usaha yang sesuai dengan kegemarannya.
Apalagi pria kelahiran Makassar, 3 November 1987 ini didukung dengan fasilitas serta modal yang memadai sehingga ia memberanikan diri untuk membentuk usaha baru dengan harapan akan menjadi penyaluran hobinya selama ini.
Meski menjalani dua bisnis sekaligus, Andi Iwan mengaku tidak kewalahan, pasalnya di setiap bidang usahanya dirinya mempunyai cukup karyawan yang membantu menjalankannya.
“Memang basic saya itu lebih ke pengusaha ketimbang harus menjadi pegawai kantoran. Dulu waktu ingin membuka usaha warkop, saya sempat membaca sebuah majalah yang berisi tentang kopi di dalam pesawat menuju Jakarta,” ungkapnya, kepada penulis, kemarin.
Lanjut Anak kedua dari empat bersaudara ini mengaku, karena kesukaannya terhadap kopi, akhirnya dari majalah serta beberapa buku yang telah ia baca tentang kopi akhirnya tertarik untuk membuka usaha warkop. Bahkan beberapa rekannya hanya mengajarkan cara meracik kopi, namun untuk pilihan kopi ia yang menentukan sendiri serta membuat racikan sendiri.
“Bukan cuma dari buku, beberapa juga rekan saya yang memiliki bisnis begitu, saya ajak tukar pikiran sekalian minta diajarkan bagaimana cara meracik kopi. Jadi dari pengalaman itu, alhamdulillah warkop ini sudah sukses. Kalau disini di warkopku saja ada enam karyawan yang dibagi dua shif dan dua peracik kopi, jadi usaha saya yang di Pasar Butung juga tidak terganggu ji,” jelasnya.
Selain itu, karena kecintaannya terhadap tim keseblasan dari negara kincir angin Belanda yang identik dengam warna cerah itu, sehingga nama bisnis kopinya pun diberi nama Warkop Orange. Warna orange memang cocok dengan warna kopi yang kecoklatan, warna orange juga dianggapnya sebagai warna familiar yang gampang diingini oleh semua orang.
“Saya memang senang dengan warna orange, selain terang juga akan terlihat cerah, liat mi semua warna dindingnya saya kasi juga warna orange dipadukam dengam hitam biar hidup warnanya. Toko ku juga di Pasar Butung warna orange juga. Jadi biar banyak warkop menjamur tetapi saya disini lebih mengutamakan pelayanan, dan bagaimana supaya orang saat ngopi disini seperti di rumah sendiri bahkan bisa dekat dan berbaur dengan karyawan disini,” jelasnya.
Lebih jauh, Iwan menjelaskan bahwa meskipun sebuah warkop, akan tetapi ia sengaja mendesain dengan konsep yang bernuansa cafe, itu dilakukan agar para pengunjung dapat merasa nyaman di warkop miliknya. Bahkan dari usahanya bisa mencapai omset yang besar setiap bulannya hingga Rp30 Juta perbulannya dengan modal awalnya Rp100 an lebih.
“Selama setahun ini saya pikirkan modalku kayakanya awalnya Rp100 jutaan lebih. Kalau sekarang hasilnya rata-ratanya Rp30 jutaan keatas. Kalau bisnis baju ku di Pasar Butung hasilnya Rp50 jutaan. Itu sudah ada yang atur, tapi kalau warkopku disini harus memang saya perhatikan dulu,” ucapnya.
Ia berharap untuk pengembangan kedepannya, dirinya menargetkan akan menguasai seluruh pasar bisnis warkop baik di selatan dan utara kota Makassar dengan membuka cabang dimana mana, setelah sudah dibuka di Jalan A Mappanyukki.(*)
