DUA TANGAN Nurahman nampak sibuk mengukur kertas berserabut. Satu tangan sebelah kanan memegang spidol, sementara tangan satu sebelah kirinya memegang mistar. Kertas serabut yang dipotong persegi kecil-kecil ini kemudian ditempelkan menggunakan lem di perosotan fiber.
Laporan: ARIF QADRY
Perlengkapan permainan anak untuk Taman Kanak-kanak (TK) ini dibuat oleh pria kelahiran Madura, 7 Maret 1973. Ia terlihat tekun bersama istrinya, Sunarti di tempat tinggalnya berlokasi di Jalan Urip Sumohardjo. Ke dua tangan Maman nampak terampil mengerjakan berbagai jenis permainan anak-anak.
Selain perosotan anak, Maman juga mengerjakan mainan seperti ayunan dorong-dorong, panjat outbond, cangkir putar, bola dunia putar, bongkar pasang sampai kuda-kudaan. Semua permainan itu dikerjakan hanya berdua dengan istrinya.
Untuk satu perosotan, Maman mengaku hanya membutuh kan waktu paling lama dua hari menyelesaikan. Dan lalu kemudian melanjutkannya dengan mengecat tiang atau kaki-kaki. Ada tiga warna sering digunakan pengecatan yaitu hijau, kuning dan merah. Sementara untuk mainan berupa cangkir putar di lukis sendiri. Sering gambarnya adalah pemandangan.
Di Kota Makassar, Maman hanyalah perantau yang coba mengadu nasib untuk mengais rezeki. Bisnis usaha jualan perlengkapan mainan anak-anak TK dia tangkap karena dinilai lebih menjanjikan. Tiga orang anaknya berada di pulau Jawa bersekolah dan tinggal bersama neneknya.
“Kalau rezeki lancar, ada mainan yang terjual langsung saya kirimkan anak-anak saya di Jawa. Tiga anak saya masih bersekolah semuanya. Di Kota Makassar ini, saya cuma bersama istri merantau dan bekerja,” katanya.
Maman mengakui, dia bersama istrinya berbisnis jualan perlengkapan permainan anak TK sudah sepuluh tahun lamanya. Awal jualannya dimulai di Jalan AP Pettatani, sebelum adanya Fly Over. Sebelum masuk berbisnis di Kota Makassar, Maman dulu menjalankan berbisnis ini pulau Kalimantan. Tetapi tidak lama, cuma tiga tahun.
“Tiga tahun pun pindah-pindah kabupaten. Pernah saya jualan di Sampit dan Batu Licin. Saya jualan di Makassar setelah banyak cerita-cerita dengan teman kalau di kota ini baik, kalau masyarakat suka barang, harga tidak jadi masalah baginya. Jadi saya tertarik dan memang sudah terbukti,” sebutnya.
Perlengkapan permainan anak TK buatannya sekarang ini sudah banyak tersebar. Di Sulawesi misalnya, barang ini ada pesan dari Manado, Palu, Kendari, Jeneponto. Di luar dari itu, Papua dan Merauke juga sering pesan. Barang-barang yang dijual paling banyak dipesan dari sekolah-sekolah. Paling sedikit tiga unit beda jenis setiap kali ada pemesanan.
“Soal harga terjangkau. Untuk ayunan dorong-dorong seharga Rp5 juta-Rp6 juta. Penjatan outbond seharga Rp2 juta-Rp3 juta, cangkir putar-putar Rp3 juta-Rp4 juta, prosotan atau luncur-luncuran Rp1,5 juta- Rp3,5 juta. Permaiman bongkar pasang seharga Rp50 ribu-Rp80 ribu dan kuda-kudaan goyang Rp250 ribu-Rp400 ribu,” tutupnya.
Memang saat ini bisnis jualan permainan anak di kota ini memang cukup sulit ditemukan. Jumlahnya paling bisa dihitung dengan jari. Maman bersama istrinya tiap hari beraktivitas. Mengecat dan menggambar semua jenis permainan yang dijualnya. Ada ayunan dorong-dorong, panjatan outbond, cangkir putar, bola dunia putar, prosotan atau luncur-luncuran, hingga kuda-kudaan. Semuanya dikerjakan hanya berdua dengan istrinya.
Semua permainan yang sudah selesai dikerjakan melalui proses pengecatan dan siap jual, lalu kemudian dijemur depan tempat jualannya. Hampir semua jenis permainan dengan warna ceria dipajang depan toko tempat jualan dan berharap adanya pengendara yang melintas melirik permainan-permainan yang dijualnya.
“Belum ada pesanan. Saya cat-cat saja semuanya sambil tunggu siapa tahu ada yang tertatik mau beli. Jualan ini bukan kebutuhan pokok, jadinya kadang dalam seminggu tidak ada yang terjual. Apalagi ukurannya besar yang memang hanya untuk disimpan di taman atau halaman,” sebut bapak tiga orang anak dari pasangan Sunarti saat ditemui penulis.(*)
