MAKASSAR, BKM — Dua hari sudah bencana banjir melanda. Ribuan warga yang rumahnya terdampak kini mengungsi. Mereka butuh bantuan, khususnya makanan.
Di Kelurahan Manggala, Kecamatan Manggala, Kota Makassar misalnya. Warga yang tempat tinggalnya sudah terendam banjir hingga atap, kini tinggal di pengungsian. Mereka sangat berharap adanya bantuan.
Ada pula yang nekat untuk bertahan di rumahnya, meski sudah kebanjiran. Salah satunya Jamaluddin. Ia membuka posko keamanan di tengah-tengah banjir. Sambil berharap bantuan yang ada di posko bantuan banjir agar cepat disalurkan kepadanya.
“Saya dan beberapa bapak-bapak di Jalan Terompet 16 sampai 19 Kelurahan Manggala memilih tinggal dan membuat posko keamanan. Kalau semua mengungsi, tidak ada yang patroli pada malam hari atau patroli warga yang mengangkut barangnya. Nanti dikira dia yang punya rumah angkat barang, tahu-tahunya bukan,” terangnya.
Ia meminta bila ada bantuan makanan siap saji lebih baik langsung disalurkan. Jangan disimpan, agar korban banjir tak kelaparan.
”Banyak anak kecil kasian. Kemarin memang ada makanan yang datang. Tapi tidak cukup. Banjir sudah masuk dua hari, bantuan makanan siap saji baru satu kali yang sampai,” cetus Jamaluddin.
Tercatat sebanyak 895 kepala keluarga (KK) di Kelurahan Manggala, terpaksa harus meninggalkan rumahnya akibat banjir yang melanda di beberapa titik. Mereka berasal dari delapan RW yang ada di kelurahan ini. Korban sebagian mengungsi ke masjid dan rumah tetangga yang tidak terdampak.
Dari beberapa titik pengungsian dan warga yang memilih tinggal di rumahnya, mengeluh kurangnya dan terlambatnya bantuan makanan. Seperti Aulya, salah satu pengungsi yang berada di Masjid Jabal Nur. Ia menyayangkan lambatnya penanganan dan bantuan kepada pengungsi.
“Saya berempat. Anak saya tiga. Ada bayi 1 tahun 5 bulan. Dari pagi hingga pukul 11 siang belum ada makanan. Pas ada makanan nasi putih dengan mi instan dapatnya hanya 1 piring. Itupun pemberian tetangga yang dia dua orang dibagi ke saya,” keluh Aulya.
Korban banjir di Dusun Japing, Desa Sunggumana, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa juga mengeluhkan hal serupa. Mereka yang kini ditampung di Masjid Al-Insan Perumahan Bumi Sarindah membutuhkan bantuan makanan.
Siswa SMA Tewas
Seorang remaja yang masih duduk di bangku SMA menjadi korban banjir. Jasadnya ditemukan tewas tenggelam, Rabu (23/1). Korban bernama Aser ini tinggal di dalam Kompleks Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Antang. Ia berhasil ditemukan setelah terseret dan tenggelam berjam-jam di genangan banjir. Penyelaman dilakukan Nurhamka dari Basarnas, Hermawan dari Damkar, dan M Ali dari KPLP.
Sejak pagi pukul 11.00 Wita, Basarnas Makassar dengan tim kepolisian dibantu warga setempat turun melakukan pencarian. Pukul 15.00 Wita tubuhnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa lagi, tak jauh dari rumahnya di kompleks IDI Bukit Batu, Antang.
“Kami temukan korban di dasar setelah dilakukan penyelaman di sekitar area terakhir korban berada,” kata Dantim SRU Perahu Karet Rusmadi, Rabu (23/1) pukul 15.00 Wita.
Jasad Aser yang berhasil ditemukan tim SAR langsung dibawa ke rumah keluarganya. Tangisan menyambut jasadnya. Setibanya di rumah, pihak keluarga dengan cepat melarikan jasad Aser ke rumah sakit. Tetapi nyawanya tidak tertolong lagi.
Informasi yang diperoleh, korban bersama sepupu dan pamannya hendak ke kandang babi untuk memberinya pakan. Tapi di tengah perjalanannya, arus banjir yang cukup kuat mengarah kepadanya.
“Jalan yang dilalui korban bersama sepupu dan pamannya itu memang rawa. Karena banjir, jadi tidak terlihat pinggiran rawa. Saat bersamaan juga arus banjir mengarah ke Aser dan rombongannya. Di situlah mereka terpisah,” jelas Dantim Regu Basarnas Arham DS.
Ketinggian air di sebagian kompleks IDI mencapai lima meter. Sejumlah warga korban banjir dievakuasi dengan menggunakan rakit bambu, perahu kayu milik warga, Basarnas Makassar, dan Polri.
Posko Pengungsian
Wilayah lain yang terpantau banjir di Kecamatan Biringkanaya. Yakni kompleks Mangga III RW 012, Katimbang RW 015, Nusa Harapan Permai RW 019, dan terparah BTN Kodam III Paccerakkang. Sedang di Kecamatan Tamalanrea, yakni Perumahan Budi Daya Permai, Kampung Berua, Kompleks Bumi Tamalanrea Permai (BTP) blok AA, Blok AC, AD, AE, AF, Perumahan Bung, Jalan Buntusu, dan kompleks Hartaco.
Camat Tamalanrea Muhammad Rheza mengatakan posko telah disiapkan di kecamatan untuk para warga yang mengungsi. Termasuk di delapan kantor kelurahan juga telah berdiri posko pengungsian. Pihaknya bersama seluruh jajaran kecamatan dan kelurahan turun melakukan evakuasi dan penyelamatan korban banjir, yang diperkirakan jumlahnya bertambah dibanding hari sebelumnya.
“Ada kita siapkan posko di kantor. Juga di setiap kelurahan saya sudah instruksikan lurah-lurah siapkan posko. Bantuan juga ada datang dari Dinsos kota dan provinsi. Itu kita sebar semua di posko pengungsian sementara,” ujar Rheza, kemarin.
Jalan poros pintu 1 Universitas Hasanuddin hingga jembatan Tello (M’tos Ramayana), ditutup sementara dari pukul 06.10 Wita, kemarin. Penyebabnya, air danau Unhas meluap hingga ke jalan raya dan depan SPBU di pintu 1.
Kondisi serupa tampak di depan Universitas Islam Makassar (UIM) hingga Carefour Perintis. Penumpukan kendaraan terjadi di tengah jalan. Kemacetan parah pun tak terhindarkan.
“Iya, sempat penutupan jalan karena air sudah tinggi dan mustahil kendaraan untuk lewat. Kalau jembatan Tello itu memang aliran air yang sangat deras. Kita takutnya terjadi hal yang tidak diinginkan,” jelas Rheza.
Adapun titik pengungsian di Kecamatan Tamalanrea, antara lain Kelurahan Tamalanrea Indah di Masjid Nurul Hassan BTN Antara RW 8. Sebanyak 50 orang ditampung di tempat ini. Di Masjid Nurul Rahmad BTN Hamzi sebanyak 50 Orang.
Di Kelurahan Tamalanrea Jaya, lokasi pengungsian di kantor Kelurahan Tamalanrea Jaya sebanyak 30 orang. Kompleks Bumi Bung Permai 200 Orang. Kompleks Hartaco Permai 100 orang.
Kelurahan Tamalanrea, lokasinya di Masjid Al-Muamalah Blok L 100 orang. Pesantren Hidayatullah 30 orang.
Kelurahan Buntusu, lokasinya di Masjid Nurul Jamil Blok AA 30 orang. Masjid Taqwa RW 7 sebanyak 70 orang. Masjid Bangkala RW 3 sebanyak 30 orang. Blok AB RW 2 sebanyak 50 orang.
Camat Biringkanya Mahyuddin, menyebutkan sejumlah titik pengungsian di wilayahnya. Di antaranya Kelurahan Katimbang sebanyak tiga. Yakni ruko Graha Rahmani dan Pasar Sentral Daya dengan jumlah pengungsi 150 orang lebih. Keluarahan Paccerakang dua posko pengungsian dengan jumlah 100 orang. Keluarahan Bakung sebanyak satu posko di Masjid Muhajirin dengan jumlah 50 orang. Puri Pa’tene Sudiang satu posko dengan jumlah 30 orang.
“Kita sudah siapkan dapur umum juga untuk komsumsi mereka. Kita hanya mengimbau untuk mengungsi dan tidak memaksa mereka yang masih enggan meninggalkan rumahnya. Jika mau dievakuasi, maka segera ke posko yang disiapkan,” katanya.
Salah seorang pengungsi dari Kodam III Paccerakang, Rahmatia (38) mengaku baru pertama kali mengungsi ek posko karena banjir. Sebelumnya tidak pernah, meskipun hujan deras dan menimbulkan genangan air.
“Baru besar begini, Nak airnya. Biasanya hanya sepingang atau dada saja. Makanya jarang-jarang mau mengungsi. Cuman ini cepat sekali airnya datang. Tidak ada yang bisa kita selamatkan,” katanya.
Untuk tidur, dirinya mengaku bertumpuk dengan pengungsi lainnya dari Keluarahan Katimbang dan Kodam III. “Iya di sini semua. Ada juga di lantai atas sama masjid. Khawatir saja saya, rumah ditinggal begitu. Kalau barang-barang sudah habis semua tenggelam,” tandasnya. (jun-arf-ita/rus)
