Site icon Berita Kota Makassar

Penyaluran Logistik Terhalang Banjir

BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPD) Sulsel mencatat ada 10 daerah yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor. Yakni Kabupaten Gowa, Kota Makassar, Kabupaten Soppeng, Jeneponto, Barru, Wajo, Maros, Bantaeng, Sidrap, dan Pangkep.
Crisis Media Center di Kantor Gubernur Sulsel, kemarin merilis data kejadian bencana per 23 Januari 2019 pukul 18.00 Wita. Jumlah rumah rusak ringan 25, dua rusak sedang, 12 rumah rusak berat, rumah terendam 2.024, rumah hanyut 32, rumah tertimbun 5, tempat ibadah 6, fasilitas pemerintah 3, pasar 2, jembatan 9, sawah 15.221 hektare, jalan 10.700 meter, dan 12 gedung sekolah.
Di Kabupaten Maros misalnya, dari laporan yang diperoleh, kerusakan akibat pertanaman padi akibat banjir terjadi di empat kecamatan di Bumi Turikale tersebut.
Di Kecamatan Mandai dengan luas 1.528 hektare. Kecamatan Maros dengan luas 675 hektare. Kecamatan Tanralili dengan luas 2.182 hektare, dan Kecamatan Bantimurung dengan luas 3.964 hektare.
Total luasan 8.332 hektare dengan umur tanaman padi bervariasi, dari 1-7 minggu. Data ini diperoleh dari POPT Tanaman Pangan kecamatan yang berada di Maros.
“Semoga air cepat surut dan tidak lebih dari empat hari, sehingga tidak terjadi puso,” harap Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan Fitriani.
Kepala BPBD Sulsel Syamsibar melaporkan, jumlah masyarakat Gowa yang telah diungsikan akibat banjir hingga saat ini mencapai 3.321 jiwa. Bantuan makanan logistik jadi kebutuhan mendesak para pengungsi di beberapa titik yang disediakan pemerintah.
“Pak Wakil Gubernur sudah menginstruksikan segera mengirim bantuan logistik, seperti beras yang jadi kebutuhan utama mereka yang terkena dampak bencana. Dinas Sosial dan Bulog sudah menyiapkan,” katanya.
Syamsibar menambahkan, saat ini pihaknya juga sudah menyiapkan layanan dapur umum untuk korban banjir. Disebutnya semua sudah dalam perjalanan ke lokasi, namun masih terkendala banjir di ruas Jalan Perintis Makassar.
“Mobil dapur umum BPBD Sulsel diyang kirim masih terjebak macet banjir di Jalan Perintis Makassar. Mobil di sana tidak bergerak,” ungkapnya.

PLN Pulihkan Sistem Kelistrikan

Curah hujan yang tinggi di kota Makassar dan sekitarnya sejak Senin, (22/1) mengakibatkan pohon tumbang sehingga menimpa tiang listrik PLN. Selain itu, gardu distribusi PLN di beberapa daerah terendam banjir, sehingga petugas PLN harus mematikan pasokan listrik agar aman bagi masyarakat.
Tidak hanya gardu, beberapa kantor PLN juga terendam banjir. Seperti di Pattalasang, Maros, Pangkep, dan lainnua.
Dari hasil pendataan di lapangan, 37 tiang listrik PLN rusak karena dampak hujan lebat dan 617 trafo padam maupun dipadamkan di Kota Makassar dan sekitarnya.
Daerah yang terdampak padam yaitu Maros, Daya, Pangkep, Karebosi, Sungguminasa, Tallasa, Takalar dan Malino
General Manager PLN UIW Sulselrabar Bambang Yusuf, menyampaikan sampai dengan sekarang petugas PLN di lapangan sedang melakukan penormalan sistem dengan memperbaiki infrastruktur yang rusak, seperti tiang patah dan membersihkan jaringan yang terkena ranting.
“Untuk daerah yang terdampak banjir, PLN menunggu banjir surut. Setelah itu petugas akan menormalkan pasokan sesegera mungkin,” kata Bambang.
“Apabila rumah masyarakat terendam banjir diharapkan agar segera mematikan instalasi listrik dan mencabut peralatan listrik yang masih tersambung dengan stop kontak,” tutup Bambang.

Bulog Respon Wagub

Pemprov Sulsel mengambil langkah memberikan berbagai bentuk pertolongan dan bantuan. Termasuk untuk penyaluran bantuan bahan makanan bagi warga terdampak.
Pemerintah melalui Wakil Gubernur Sulsel meminta Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk melakukan penyaluran beras kepada korban.
“Saya barusan berbicara dengan Pak Wagub mewakili gubernur untuk proses penyaluran bantuan beras sebesar 20 ton dari Bulog tahap pertama,” kata Kepala Perum Bulog Divre Sulselbar Mansyur, kemarin.
Selain Bulog, wagub juga melakukan koordinasi dengan Dinas Sosial Provinsi Sulsel.”Alhamdulillah kita ada stok beras. Kita minta 20 ton untuk tahap pertama dikeluarkan” sebut Andi Sudirman Sulaiman usai berkoordinasikan dengan Kadis Sosial Sulsel Ilham A Gazaling.
Bulog akan menyiapkan 20 ton beras untuk Kabupaten Gowa, Kabupaten Jeneponto dan daerah lain terdampak banjir. Termasuk Kabupaten Maros, Pangkep dan Barru.
Selain itu, bantuan perahu karet untuk melakukan evakuasi warga untuk Kabupaten Gowa.
Kepala Dinas Sosial Sulsel Ilham A Gazaling mengatakan, semua komponen Dinsos siap diterjunkan. “Kami semua komponen Dinsos, Tagana telah disiapkan, dan dapur umum masing-masing dari Dinsos kabupaten dan Makassar. Kita tambahkan dapur umum dari provinsi dan semua personel tagana untuk pengungsi dan makanannya,” jelas Ilham A Gazaling.

Gubernur Akan Tinjau Enam Daerah Terdampak Banjir

Saat kejadian banjir melanda sejumlah daerah di Sulsel, Gubernur Nurdin Abdullah sementara melakukan kunjungan kerja ke beberapa kabupaten. Di antaranya Kabupaten Barru, Enrekang, Tana Toraja, dan Luwu.
Berada jauh dari sejumlah daerah yang terdampak oleh banjir, menimbulkan banyak tanda tanya masyarakat. Di media sosial, sejumlah warganet mengkritisi sikap gubernur yang tidak langsung kembali ke Makassar ketika masyarakat sudah ribut soal bencana.
Sedianya, gubernur berada di daerah selama empat hari. Namun, dia mempersingkat jadwal kunjungannya itu. Setelah menghadiri HUT Kabupaten Luwu dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu, Rabu (23/1) siang, gubernur langsung bertolak ke Makassar via darat.
Setiba di ibukota Sulsel, rencananya akan meninjau enam daerah yang terdampak banjir.
“Ini sebentar (kemarin siang), saya langsung pulang temui warga, dan kita harus ke Gowa dulu sambil saya harus singgah di Barru, Pangkep, Maros. Saya juga akan ke Takalar dan Jeneponto,” kata Nurdin Abdullah di Kota Palopo, kemarin.
Menurutnya, untuk banjir yang terjadi saat ini dan yang terkena dampak diharapkan seluruh stakeholder agar bisa mengambil langkah-langkah cepat.
“Kami sudah mengimbau kepada Basarnas untuk terus melakukan evakuasi terhadap korban. Juga Kepala Balai Pompengan untuk terus menjaga pintu-pintu air. Alhamdulillah terus turun. Mulai tadi malam kita pantau dari jam ke jam,” ungkapnya.
Ke depan, lanjut Nurdin Abdullah, karena ini merupakan gejala alam yang luar biasa, supaya tidak terjadi terus menerus, maka harus dilakukan pengkajian bersama pihak terkait.
“Tapi yang pasti, pendangkalan sungai Bili-bili ini sudah serius. Yang kedua, konservasi kita di atas ini perlu segera dilakukan, karena DAS Je’neberang itu sudah masuk DAS yang sudah super kritis,” tegasnya.
Sementara itu, data yang dikeluarkan Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWSPJ), Teungku Iskandar pukul 18.30 Wita, kemarin, elevasi tinggi muka air (TMA) waduk Bilibili sudah mulai ada penurunan elevasi menjadi +100.30. Volume waduk sekitar 272.060 juta m3/detik, dan inflow sekitar 829.432m3/detik. Serta outflow sekitar 829.700 m3/detik. Status masih batas siaga.
“Mudah-mudahan terus menuju ke elevasi normal pada posisi maksimal +99 50,” imbuh Iskandar. (rhm/rus)

Exit mobile version