MAKASSAR, BKM — Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto menyebut, banyaknya pembangunan perumahan di Makassar salah satu penyebab banjir sering terjadi. Kondisi tersebut membuat wilayah resapan air semakin berkurang.
Di beberapa perumahan, diakui Danny, memang kerap terjadi banjir maupun genangan. Terutama di kawasan milik Perumahan Nasional (Perumnas).
Karena itu, ke depan Danny akan lebih selektif untuk pemilihan lokasi pembangunan Perumnas. Bahkan jika terpaksa harus dibangun di lokasi yang rawan banjir baiknya ada pengelolaan tata air yang jelas.
“Saya sudah minta sama Pak Kajati dan kajari untuk menjembatani ini. Misalnya, hampir semua perumahan yang banjir itu Perumnas. Artinya, pemilihan lokasi untuk Perumnas harus dievaluasi. Kalaupun terpaksa dibangun, harus ada penanganan tata airnya,” jelas Danny.
Nantinya, lanjut dia, bukan hanya amdal lalin yang akan menjadi fokus dalam pembangunan perumahan. Namun amdal airnya ditekankan juga harus betul-betul diperhatikan.
Danny mengakui, selama menjadi wali kota, dirinya tak pernah mengeluarkan izin untuk pembangunan perumahan yang amdal airnya tak sesuai. Olehnya ia menyarankan agar ke depannya betul-betul tak mengeluarkan izin jika semua syaratnya tak lengkap.
“Nanti ke depannya jangan pernah dikasih izin kalau tidak lengkap. Karena kalau nanti banjir, bukan developernya dicari, tapi pemerintah yang disalahkan,” tandasnya.
Danny juga mengaku kesulitan menemukan solusi pencegahan terjadinya banjir yang kerap melanda Makassar. Hal ini karena erat kaitannya dengan fenomena alam.
Menurutnya, banjir yang kerap terjadi sangat berhubungan
dengan wilayah di sekitar Makassar. Karena hujan deras yang terjadi di hulu sungai, mengakibatkan luapan air masuk Makassar. Sehingga dampak dari tingginya air di hulu yang berada di daerah luar Makassar, sampai ke kota ini.
“Susah memang kalau solusi untuk mengatasi banjir, karena ini berkaitan dengan wilayah sekitar kita. Tidak bisa kita larang air masuk ke sini. Tidak mungkin, karena itu sudah alamiah,” katanya.
Danny mencontohkan, wilayah bagian tengah Kota Makassar yang jauh dari sungai, tak terjadi banjir. Karena di wilayah tersebut sudah dilakukan berbagai solusi. Performa satgas drainase yang sudah maksimal, diklaim Danny merupakan salah satu jalan penyelesaian masalah selama ini.
“Daerah di tengah kota yang tak ada hubungannya dengan sungai, tidak ada banjir sama sekali. Tapi di daerah sekitar sungai terkena. Artinya itu limpahan dari hulu. Air melintas atau menuju ke sini dari daerah sekitar,” tambahnya.
Olehnya, solusi ditawarkan untuk wilayah yang terdampak banjir akibat luapan sungai adalah mitigasi. Mengurangi dampak akibat banjir, bagi Danny, menjadi hal yang lebih penting.
Misalnya adalah pembangunan shelter mitigasi bencana tetap yang diperadakan di beberapa wilayah, dan pembentukan RT/RW siaga bencana. Antara lain di Kodam 3, Paccerakang, Swadaya, Biring Romang, Perumbas Vlok 10, Perumnas Blok 8, Tamalate, dan Malengkeri.
Tempat ini dikatakannya sudah menjadi bagian dari bencana tahunan,. Untuk itu harus ada shelter yg tetap di lokasi ini. Dirinya akan modali genset dan perahu karet dalam shelter ini.
“Sehingga solusinya kini adalah mitigasi saja. Kita cuma bisa mengurangi dampak, mencegah susah. Karena curah hujan juga susah diprediksi,” tandasnya. (nug/rus/b)
Danny Evaluasi Lokasi untuk Perumnas
