SETELAH mendapatkan omset yang besar, Herman Saputera mengaku keberhasilan yang diperolehnya tidak mudah, karena butuh kerja keras dan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan hasil yang lumayan seperti saat ini.
Laporan: ARDHITA
“Kenapa sampai saat ini saya masih setia jualan jas hujan, karena omsetnya cukup lumayan. Cukup bagus ke depannya, asalkan bisa bersaing dengan pedagang lain yang sudah lama jualan,” ungkapnya saat ditemui penulis kemarin.
Memasuki musim hujan seperti saat ini, usaha milik Herman tidak pernah sepi pembeli. Bahkan kini omset penjualannya melonjak hingga 50 persen dibandingkan berjualan baju kaod san kemeja pada musim kemarau. Belum lagi menurutnya, penjualan motor terus meningkat maka tidak heran jika bisnisnyapun akan laris di musim hujan seperti saat ini.
“Kita perhatikan mi saja, motor sekarang banyak. Pasti mi kalau hujan mereka mau kerja atau pergi-pergi itu pasti butuh jas hujan. Saya berjualan berdua dengan adekku,” katanya.
Target kedepannya, Herman mengaku tidak muluk-muluk hanya mau bagaimana bisnisnya ini bisa berkembang dan memiliki toko tetap. Tidak seperti saat ini dimana harus berkeliling di Jalan Perintis Kemerdekaan untuk menjual jas hujan.
Belum lagi, terkadang dirinya harus berurusan dengan petugas kecamatan setempat perihal izin usaha.
“Yah itu ji kalau saya, saya mau kedepan bisa saya beli toko kecil-kecil untuk buka usaha ini. Karena biasa kodong harus ki’ pindah-pindah jualan, karena diusir ki sama petugas disini. Kalau ada mi modal bisa mi saya ambil toko kecil-kecilan, inimi saya menabung,” jelasnya.
Sekalian bisa membuka usaha istri yang menjual bakso keliling. Ia mengaku istrinya Maryam (28) adalahpenjual bakso keliling. Ini dilakukan istrinya untuk membantu keuangan keluarga.
“Kalau istri itu jualan bakso keliling setiap hari, itu mi kenapa saya mau buka toko saja. Supaya istri bisa menetap berjualan tidak usah lagi keliling naik sepeda. Apalagi, belum ada anak. Itu mi kenapa dia mau bantu-bantu saya, kalau ada anak tidak mungkin dia begitu kasian,” bebernya.
Olehnya itu, besar harapnnya di tahun ini bisa memiliki itu secepatnya. “Mudah-mudahan bisa tahun ini. Karena penjualan ku ini bisanya laku 15-20 setiap hari ini musim hujan ini. Yah bisalah ditabung untuk itu,” jelasnya.
Beberapa jenis jas hujan yang Herman jual adalah jas hujan model ponco/batman, jas hujan setelan baju celana, setelan baju rok, dan jenis jas hujan lainnya yang menyesuaikan dengan ukuran dan jenis bahannya. Berlaih usaha tentu dirasakan berat oleh Herman, terlebih lagi modal usaha bajunya ia alihkan untuk berjualan baju, sebesar Rp3 Juta lebih.
“Awalnya itu saya jualan jas hujan, karena saya sulitkah dapat pelanggan karena saya tempat jualanku di mobil, yang terkadang tidak menentu tempatnya. Kebanyakan yang mampir di jalan dan hanya tanya harga,” jelasnya.
Olehnya itu, terkadang ia merasa minder dan menyerah menjual jas hujan. Namun, berangkat dari komentar dan kritikan pelanggannya, ia merubah gaya usahanya yang lebih mengutakan kualitas jas hujan miliknya.”Saya sempat ji’ rasa capek marah dan emosi kalau ada yang hina jualanku ini, tapi bukan saya kalau menyerah begitu saja dengan begitu-begitu,” ucapnya.
Lanjut Herman menjelaskan, kebanyakan pembelinya dari kalangan pekerja, yang memilih jas hujan berkualitas. Sedangkan anak muda lebih senang membeli jenis ponco yang cepat dipakai sekali pasang. Apalagi kini, jas hujan miliknya dibandrol harga yang menegah hingga keatas sesuai kualitas jas hujannya.
“Beda-beda ki, tapi lebih banyak yang cari itu yang jas hujan sepasang. Kalau yang setelan langsung, kurang mi cari. Kalau harganya tergantung kualitasnya ji yang paling murah biasanya itu Rp50 ribu- Rp100 ribu itu lumayan tebal, anti sobek, terus kualitasnya juga bagus,” tuturnya. (*)
