BENCANA banjir yang melanda Kabupaten Gowa menyisakan duka mendalam bagi Nurfardiansyah. Mertua perempuannya, Nurjannah Djalil mengembuskan nafas terakhir akibat peristiwa tersebut.
Wanita berusia 70-an tahun ini berpulang di saat menjalani perawatan medis di RSUD Syekh Yusuf Kabupaten Gowa, Rabu sore (23/1). Dari hasil diagnosa medis, nyawanya tak tertolong karena terlalu banyak menelan air banjir yang keruh. Juga kedinginan selama bertahan memegangi sebatang pohon guna menyelamatkan nyawa cucunya yang berumur dua tahun, Waliziab Muhammad Nur.
Di tengah air bah, Nurjannah bertaruh nyawa. Berupaya bertahan dan berjuang melawan arus deras yang telah merendam rumahnya sejak Selasa (22/1). Air sudah mencapai atap kediaman korban yang terletak di Kompleks BTN Zigma Royal Part Kelurahan Pangkabinanga, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa.
Dengan nada tertahan, Nurfardiansyah mengisahkan perjuangan mertuanya itu demi menyelamatkan nyawa Waliziab, putra dari Nurfardiansyah. Saat kejadian menimpa keluarganya, Nurfardiansyah yang merupakan seorang dosen tengah berada di Kota Palopo.
Diceritakan Nurfardiansyah, selama ini anaknya Waliziab berada di Gowa diurus oleh ibu mertuanya. Mereka tinggal bertiga. Masing-masing Nurjannah dan anaknya Ananda, serta sang cucu Waliziab. Kebetulan, Ananda yang tercatat sebagai mahasiswi Universitas Indonesia (UI) sedang libur kuliah. Sehingga ia lebih banyak berada di rumah ibunya BTN Zigma Royal Part tersebut.
Ia juga menjelaskan tentang foto yang viral, di mana seorang wanita paruh baya tengah berusaha menyelamatkan seorang bocah laki-laki dengan berpegangan di sabatang pohon. Dari keduanya, hanya kepalanya yang muncul. Bagian bawah badan mereka terendam air keruh berwarna coklat susu.
“Jadi yang foto itu adalah adik ipar saya yang tinggal sama ibu di rumah. Gambar dia ambil saat melihat ibu sudah terjebak air. Alhamdulilah, adik dan anak saya selamat. Ibu juga sempat diselamatkan dari banjir dievakuasi ke rumah sakit oleh tim penolong. Tapi Tuhan berkehendak lain. Beliau meninggal dunia kemarin (Rabu sore) karena banyak menelan air keruh banjir,” jelas Nurfardiansyah yang dihubungi melalui telepon selularnya, Kamis (24/1).
Nurfardinsyah menyebut, perjuangan ibu mertuanya untuk bisa lolos dari jebakan air bah begitu mengharukan.
‘’Mertua saya terus berjalan. Air rupanya terus meninggi. Di saat berjuang itu ibu masih sempat menelepon saya. Saya minta dia mencari pohon untuk dijadikan tempat berpegangan. Untung ada warga yang tolong, lalu dikasih pelampung. Mertua saya kembali berpegangan di ranting sambil gendong cucu. Tiga jam dia berpegangan sambil menunggu pertolongan,” terang Nurfardiansyah.
Menurutnya, foto yang diunggah di medsos itu atas permintaannya di saat masa-masa kritis. “Saya sempat minta adik ipar yang sementara berjalan di tengah air tak jauh dari ibu, agar foto ibu. Kemudian foto itu dikirimkan segera kepada saya. Selanjutnya saya kirimkan foto itu ke Basarnas untuk meminta pertolongan perahu karet. Namun, kata iparku, tidak lama warga yang melihat ibu segera menolong memberinya pelampung ala kadarnya,” tambahnya.
Dijelaskan Nurfardiansyah, sebelum dibawa ke RSUD Sakit Syekh Yusuf, Nurjannah sempat diberi tindakan pertama di klinik terdekat lokasi banjir Pangkabinanga.
“Jadi hari Selasa itu, beliau sempat dipulangkan ke rumah orangtua saya yang aman dari banjir. Sempat dipulangkan ke rumah, karena baik-baikmi perasaannya kemarin. Tapi hari Rabu habis Ashar tidak enak perasaannya. Makanya dilarikan ke RSUD Syekh Yusuf. Setelah satu jam ditangani medis di rumah sakit, akhirnya ibu meninggal dunia,” ujar Nurfardiansyah.
Pada Rabu malam (24/1), jenazah almarhumah telah dibawa ke kampong halamannya di Kabupaten Luwu. Tepatnya di Keppe, Desa Rantebelu, Kecamatan Larompong.
Diketahui pula bahwa Nurjannah adalah juga mertua dari Andi Surahman Batara, Wakil Dekan III Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UMI Makassar.
Ananda seperti dikutip dari Instastory-nya yang diposting Rabu (23/1) dan postingan Kamis (24/1) berbagi kisah detik-detik yang mencekam kala sang ibu tengah berjuang menghadapi banjir.
“Yang nanya siapa yang foto? Itu saya yang foto. Karena pada posisi itu hp saya sudah mau mati, ngetik juga susah karena layarnya basah kena air hujan. Makanya saya ambil foto untuk kakak saya biar dia tau lokasi saya dan ibu saya di mana,” tulis Ananda.
“Kenapa saya gak nolongin? Saya itu ga tau berenang. Bisa dilihat posisi saya dan ibu saya beda beberapa meter. Ibu saya berpegangan di pohon kayu, saya hanya menginjak batang yang mengapung dan pegangan ke pohon pisang,” lanjutnya.
“Pijakan saya itu rapuh jadi ga bisa gerak banyak. Jadi yang bisa saya lakukan cuma menunggu bantuan sambil berteriak minta tolong,” beber Ananda yang merupakan alumni SMAN 5 Makassar. ini.
“Terimakasih teman-teman, keluarga, dan orang-orang yang tidak saya kenal tapi turut mendoakan dan membantu mengklarifikasi kejadian sebenarnya. Almarhum akan dikebumikan di kampung kami, Kabupaten Luwu setelah dzuhur,” tulis Ananda masih di Instastory-nya, Kamis (24/1). (sar/rus)
