Site icon Berita Kota Makassar

Tiga Hari tak Makan, Minum Air Hujan

KISAH sedih, mengharukan, dan heroik mewarnai peristiwa banjir dan tanah longsor di Kabupaten Gowa. Kisah terbaru datang dari seorang bidan Puskesmas bernama Reski Dagryani.

DI jalan wilayah Dusun Mangempang menuju posko tim di Dusun Pattiro, Desa Pattallikang, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa, Jumat (25/1). Seorang perempuan berjalan lunglai. Tak lama kemudian ia terjatuh.
Kala itu rombongan tim evakuasi korban bencana alam tengah berada di lokasi. Reski alias Ekki yang berhasil menemukan tim itu pun langsung dievakuasi untuk mendapatkan pertolongan.
Gadis berusia 25 tahun ini belakangan diketahui berprofesi sebagai bidan penugasan pusat yang tergabung dalam Nusantara Sehat. Ia ditempatkan di Puskesmas Sapaya sejak September 2018.
Sejak bencana tanah longsor melanda Kelurahan Sapaya dan sejumlah desa lainnya di Bungaya, wilayah ini langsung terisolir. Ekki berhasil selamat setelah tiga hari berjuang mencari bantuan, dan berlari dari material longsoran yang terjadi.
Saat ditemukan tim evakuasi, anak kelima dari enam bersaudara ini tak lagi bisa berkata-kata. Ia pun menangis di antara kondisinya yang begitu lemas.
Perasaan Ekki bercampur gembira. Sebab dirinya bertemu langsung dengan kakak iparnyanya Aipda Ahriansyah, anggota Satuan Sabhara Polres Gowa. Sang kakak menjadi bagian dari tim evakuasi yang bertugas mencari korban longsor di Kecamatan Bungaya.
Tanpa menunggu waktu, Aipda Ahriansyah dibantu anggota tim evakuasi lainnya langsung membawa adiknya ke posko tim di Dusun Pattiro untuk mendapatkan tindakan awal.
Ekki belum bisa banyak berbagi cerita tentang peristiwa yang dialaminya. Sebab kondisinya masih lemah. Itu disebabkan karena berhari-hari ia berusaha menyalamatkan diri, tanpa bekal makanan yang cukup.
Untuk bisa bertahan hidup, Ekki hanya mengonsumsi tetesan air hujan sekadar melepaskan dahaganya. Sementara makanan hanya seadanya. Itu pun hanya berupa cemilan yang dibawanya, saat tas ranselnya masih menggelayut di punggungnya.
Namun, tas itu sudah tidak ada lagi. Entah hilang di mana. Longsor membuat Ekki terjebak di mana-mana. Usai memperoleh tindakan awal, Ekki dibawa ke Sungguminasa setelah salat Jumat.
Kisah heroik Ekki disampaikan Dian Eka Putri, istri Aipda Ahriansyah. Dihubungi melalui telepon selularnya, kemarin, Dian berharap adiknya tetap kuat usai kejadian yang menimpanya.
”Adik saya (Ekki) bertugas sejak 2017 sebagai bidan di Puskesmas Sapaya. Tapi dia bukan bidan PNS. Ekki adalah bidan penugasan pusat (Nusantara Sehat). Itu pun dia tidak masuk secara kelompok, tapi individu. Selama bertugas di Sapaya, Ekki bertujuh dengan teman seprofesinya,” terang Dian.
Sebenarnya, lanjut Dian, Sabtu pekan lalu Ekki baru naik ke Sapaya. ”Dia memang pulang pergi sejak ibu kami menjalani proses pemeriksaan kesehatan. Karena tahun ini ibu akan berangkat haji. Jadi Ekki semua yang urus. Sebab dia tahu urusan masalah kesehatan,” jelas Dian.
Sebelum longsor terjadi di Sapaya, menurut Dia, Ekki sempat mengabari bahwa Senin (21/1) ia akan balik lagi ke Sungguminasa untuk mengantar ibunya, Nurhaedah Darmawan untuk periksa kesehatan.
Tapi saat itu, sang ibunda Nurhaedah Darmawan melarang putrinya untuk pulang. Alasannya, hujan terus menerus mengguyur. Akhirnya Ekki pun mengurungkan niatnya untuk kembali ke Sungguminasa.
“Ekki menelepon lagi Selasa (22/1). Dia bilang sudah dalam perjalanan pulang ke Sungguminasa. Namun berselang beberapa jam saya sudah hilang kontak dengan dia. Tidak lama setelah tiu saya dan keluarga mendengar kabar adanya longsor di Bungaya. Kami semua mulai cemas karena tidak ada lagi kontak dengan Ekki. Dia baru menelepon saya setelah menemukan tim evakuasi,” beber Dian.
Dian yang bertempat tinggal di Aspol Batangkalulu Blok F nomor 5 Kecamatan Somba Opu, Gowa ini mengaku sedang menunggu kedatangan Ekki yang dibawa pulang oleh tim evakuasi.
Dari pembicaraannya dengan Ekki melalui sambungan gawai, Dian menuturkan kisah sang adik selama proses menghindari longsor. Kala itu hanya Ekki yang perempuan. Selebihnya laki-laki. Mereka adalah teman seprofesi Ekki dan warga lainnya, yang sama-sama berjuang menyelamatkan diri dari longsor.
Di saat berpindah-pindah ke tempat yang tidak longsor, Ekki terus berusaha menggengam kuat gawainya. Silih berganti gawainya diaktifkan dan dinonaktifkan. Cara itu untuk menghindari kehabisan cas baterai.
Dia berusaha hemat dengan tidak mengaktifkan gawainya. Apalagi jaringan telepon selular di tempat ini agak sulit, dan tidak memungkinkan untuk berkomunikasi melalui sambungan telepon selular.
Ekki kerap berpindah-pindah tempat, sebab tanah tempatnya berpijak labil dan seringkali tiba-tiba longsor. Ekki sempat tak berdaya karena terseret longsoran, hingga kakinya sakit dan luka.
“Adek saya bilang sempat bertahan di wilayah Bangkeng Batu. Namun karena wilayah itu juga mengalami longsor, akhirnya Ekki kembali lari hingga masuk ke wilayah terisolir. Beruntung dia sudah tidak berada di Sapaya, karena di situ pusat longsor,” jelas Dian menirukan penuturan Ekki.
Selama tiga hari Ekki tanpa makan. Sebab persediaan yang dibawa di ranselnya hanya cemilan selama perjalanan pulang.
”Bahkan saat menghubungi saya setelah berhasil menemukan tim evakuasi di jalan, Ekky mengaku sempat berlindung di sebuah rumah sawah dengan teman-teman yang bersama-sama lari dengannya. Ekki trauma. Dia mengalami syok psikis. Apalagi melihat langsung kejadian longsor dan sempat menolong warga yang kena material longsoran di saat menyelamatkan diri,” beber Dian.
Setelah melalui perjalanan melelahkan, Ekki pun tiba di Aspol Batangkaluku, Sungguminasa.
Terpisah, Aipda Ahriansyah anggota Satuan Sabhara Polres Gowa mengatakan, adik iparnya itu tidak ditemukan oleh tim evakuasi. Melainkan turun sendiri dari atas bukit saat melihat adanya tim evakuasi tak jauh dari tempatnya berada.
“Jadi Ekki tidak ditemukan, Tapi dia yang menemui tim evakuasi di jalan Mangempang, kebetulan dekat dengan posko tim evakuasi yang ada di Pattiro. Ekki turun sendiri dari tempatnya berada setelah lama mencari bantuan. Saat bertemu tim, adik saya lemas. Dia dehidrasi tinggi. Sebab selama pelariannya tidak makan dan minum. Bahkan kakinya sakit, karena sempat terseret arus longsor saat kejadian,” jelas Aipda Ahriansyah, kemarin siang. (sar/rus)

Exit mobile version