JENEPONTO, BKM — Sejak Kabupaten Jeneponto berdiri, baru kali ini mengalami dampak banjir cukup parah. Pasalnya, mirip dengan tsunami. Hanya ini airnya dari gunung. Bukan dari laut. Namun dampaknya hampir sama. Air setinggi 3 meter menggulung dan meninggal 15 orang, puluhan rumah hanyut dan rusak berat.
Selain itu, puluhan mobil tak terhitung jumlahnya serta ternak seperti ayam, kambing, kuda, sapi, dan lainnya, berserakan di Kampung Sapanang. Karena menurut warga yang rumahnya hanyut mengaku bernama Hatta saat ditemui di Kampung Sapanang, rumahnya viral di Medsos yang hanyut di bawah air.
”Padahal, rumah saya cukup besar berukuran 10×18 meter. Meski rumah panggung, tapi biayanya cukup mahal ada sekitar Rp200 juta. Rumah itu saya bangun pada tahun 2015 lalu. Semua jerih payah saya hilang disapu banjir. Termasuk lahan pertanian sawah ladang rusak. Demikian juga tambak dan tambak garam rusak diterjang banjir,” jelas Hatta berderai air mata saat ditemui di Kampung Sapanang, Senin (28/1).
Lanjut Hatta mengatakan, hilangnya rumah yang menjadi harta satu-satunya membuatnya bingung. ”Rumah saya yang hilang itu. Saya tidak tahu kemana minta bantuan untuk mendapatkan rumah tinggal bersama anak isteri,” ujar Hatta terbata-bata.
Hal ini dibenarkan Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Jeneponto, H Syafruddin Nurdin. ”Saya sudah presentasekan dampak banjir Jeneponto di depan gubernur. Sehingga bantuan banjir dengan chas atau tunai sebesar Rp5 miliar nanti pada hari Jumat, 2 Februari 2019 baru terealisasi,” jelas Syafruddin.
Sedangkan bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos) senilai Rp1,3 miliar dalam bentuk barang, berupa alat pembersih serta bahan pokok kebutuhan warga yang terdampak banjir. (krk/mir/c)
Gubernur dan Kemensos Kucurkan Miliaran Rupiah ke Jeneponto
