MAROS, BKM — Sejumlah pasien anak kini menjalani rawat inap di Rumah Sakit Salewangang Maros, Selasa (29/1). Mereka menderita penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disebabkan penyebaran virus dengue.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maros, Sitti Maryam, menjelaskan, penyakit DBD di Kabupaten Maros mewabah sejak November 2018 lalu. Namun pada Januari ini cukup meningkat dikarenakan curah hujan dan pengaruh iklim yang berubah-ubah.
”Sejak November lalu tercatat 20 kasus terjangkit virus DBD, Desember 26 kasus, dan Januari cukup meningkat, yakni 68 kasus. Dimana, 61 orang di antaranya sudah diperbolehkan pulang dan saat ini masih ada 7 orang yang dirawat. Pasien ini didominasi anak-anak,” jelas Maryam.
Dikatakan Maryam, wabah penyakit DBD di Kabupaten Maros meningkat jika dibandingkan tahun lalu. Penyebab penyakit ini dikarenakan virus dengue dari gigitan nyamuk aedes aegypti.
”Dari seluruh pasien DBD yang dirawat, ada 1 pasien yang meninggal dunia yaitu bayi berumur 8 bulan. Waktu pasien tersebut masuk, kami sudah tangani. Cuma dia sudah masuk dengan kondisi sudah shok,” tambah Maryam.
Sementara orangtua pasien DBD bernama Anti dari Kecamatan Bontoa, mengatakan, anaknya dirawat sejak 4 hari lalu setelah sebelumnya dirawat di Puskesmas. ”Sudah 4 malam di sini. Sebelumnya di Puskesmas Barandasi 2 malam. Mungkin anakku terkena virus dengue pascarumah terendam banjir. Karena memang selama musim hujan ini nyamuk banyak sekali. Apalagi rumah di dekat lahan persawahan di Kecamatan Bontoa. Tapi Alhamdulillah, saat ini sudah mendingan,” ujar Anti orangtua pasien.
Tingginya kasus DBD di Maros tahun ini membuat dinas kesehatan Kabupaten Maros seringkali mengimbau kepada masyarakat untuk menjaga lingkungan. ”Jika terdapat kasus DBD segera laporkan agar pihak dinas kesehatan Maros segera mengambil tindakan untuk melakukan fogging atau penyemprotan nyamuk. (ari/mir/c)
Januari, Penderita DBD di Maros Meningkat
