Site icon Berita Kota Makassar

Dewan: Tudingan itu tidak Berdasar

JENEPONTO, BKM — Banjir bandang yang melanda Kabupaten Jeneponto beberapa hari lalu, dituding penyebabnya karena tanggul Waduk Kelara Kareloe Jebol. Akibat banjir bandang ini, menelan korban jiwa puluhan orang. Juga, ratusan rumah hanyut terbawa air.
Namun tudingan ini dibantah DPRD Jeneponto. Ketika ditemui di ruang kerjanya kantor DPRD Jeneponto, Rabu (30/1), Wakil Ketua DPRD Jeneponto, Muh Asrul Lachmuddin Karaeng Lolo, menyebutkan, tudingan tersebut sama sekali tidak benar dan tidak berdasar.
”Tudingan tersebut sama sekali tidak benar. Karena Waduk Kelara sendiri belum ada airnya. Yang sekarang dikerjakan baru akses jalannya. Jadi otomatis belum ada genangan air di waduk,” kata Asrul.
Lagian, kata menantu mantan Bupati Radjamilo ini, banjir bukan saja terjadi di Kabupaten Jeneponto pada Selasa, 22 Januari 2019 lalu, tapi ada 10 kabupaten dan kota di Sulsel yang terdampak banjir.
Selain itu, pihak BMKG mengakui kalau penyebab banjir diakibatkan hujan lebat yang intensitasnya tinggi dan lama. Sehingga sungai-sungai meluap menerjang pemukiman warga yang menyebabkan puluhan korban jiwa melayang dan ratusan rumah hanyut dan rusak parah.
Ke depan, kata Asrul, diharapkan kepada seluruh komponen masyarakat Jeneponto agar bahu membahu membangun fasilitas umum seperti Jembatan Munte yang terputus mengakibatkan akses warga. Terutama anak sekolah sulit kalau ingin pergi ke sekolah karena kalau mengharapkan bantuan dari pemerintah daerah tidak akan mampu karena biayanya sangat besar.
”Mungkin di atas Rp100 miliar. Maka dari itu, cukup jembatan darurat saja atau rakit agar bisa dilalui meskipun jalan kaki,” jelas Asrul.
Hal senada disampaikan Kadis PUPR Kabupaten Jeneponto, H Arifin Nur. Dikatakan, sudah datang teknisi dari kontraktor pembangunan Waduk Kareloe menjelaskan di kantor bahwa penyebab banjir bukan dari Waduk Kelara Kareloe, karena belum ada genangan. Sehingga tidak mungkin menjadi penyebab banjir. (krk/mir/c)

Exit mobile version