MAKASSAR, BKM– Kota Makassar saat ini tidak masuk dalam kategori Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk Demam Berdarah Dengue (DBD). Hal ini ditegaskan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, Naisyah Tun Azikin.
Naisyah mengaku, suatu daerah masuk dalam kategori KLB apabila terjadi peningkatan kasus dua kali lipat. Sementara saat ini Makassar tidak terjadi peningkatan kasus.
Bahkan kata Naisyah, masyarakat Makassar saat ini sudah semakin sadar akan pencegahan DBD. Semakin berkurangnya masyarakat yang membuang sampah sembarangan serta sadarnya akan bahaya genangan air yang menyebabkan cepat berkembangnya jentik nyamuk, membuat masyarakat yang terkena DBD tak terjadi peningkatan.
“Orang Makassar sekarang lebih sadar, kalau demam langsung pergi berobat. Mau positif atau tidak yang penting cepat ditangani supaya tdk terjadi kematian. Karena yang kita cegah sekarang, jangan ada yang meninggal akibat DBD,” kata Naisyah.
Berbagai upaya juga telah dilakukan Dinas Kesehatan Kota Makassar untuk mencegah penyebaran DBD semakin meluas. Mulai dari puskesmas keliling yang berkeliling di masing-masing wilayahnya hingga mengantisipasi pelayanan obat-obatan.
“Misalnya puskesmas rawat inap dilengkapi cairan yang harus stanby. Obat-obatan yang juga harus standby, bagian bubuk abate harus tersedia di posyandu. Juga yang paling penting adalah meningkatkan informasi kesadaran masyarakat. Begitu demam cepat periksa,” tegas Naisyah.
Sementara Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Makassar, Hadarati Razak mengatakan, telah ada 22 kasus DDB yang terjadi selama Januari 2019. Itu tersebar di hampir seluruh kecamatan yang ada di Kota Makassar.
Meski begitu, kata Hadarati, sejauh ini belum ada pasien meninggal akibat penyakit yang disebabkan nyamuk Aedes Aegypti tersebut. Pasalnya, semua pasien yang terjangkit tertangani dengan baik.
“Alhamdulillah tidak ada yang meninggal. Kemarin diberitakan ada meninggal itu saya sudah investigasi ternyata bukan. Sudah hasil lab nya,” kata Hadarati.
Hadarati menambahkan, sebagai langkah antisipasi meningkatnya kasus DBD, seluruh Puskesmas aktif memberi penyuluhan serta menghimbau masyarakat untuk tetap waspada dan menjaga kebersihan lingkungan agar terhindar dari penyakit tersebut. Selain itu, langkah antisipasi juga bisa melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin.
“Macam-macam antisipasinya termasuk ini satu rumah satu pemantau jentik. Kalau itu terimplementasi dengan baik Insyaallah kasus demam berdarah di Makassar bisa kita kendalikan,” ujarnya.
Ditambahkannya, peran serta masyarakat juga sangat penting dalam mengendalikan penyakit tersebut. Olehnya, masyarakat diminta selalu menjaga lingkungan sekitar agar tetap bersih dari sarang nyamuk.
Hal ini mengingat fogging hanya membunuh nyamuk dewasa saja. Sementara jentik nyamuk akan terus berkembang biak jika masyarakat tidak memberantas sarang nyamuk.
“Jadi peran masyarakat itu penting sekali dalam mengendalikan DBD, khusus tanggungjawab di rumahnya sendiri dulu dan sekeliling rumahnya. Karena nyamuk demam berdarah kan banyak menetas di genangan air,” lanjut Hadarati.
Hadarati menjelaskan, jika masyarakat mengalami gejala DBD segera berobat ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat. Karena penyakit tersebut ternyata mempunyai fase waktu.
“Karena kan demam berdarah itu ada tenggang waktunya dimana sulit prediksi jadi harus memang ke Puskesmas atau Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan,” ujarnya.
Sementara itu, data dari RSUD Daya terhitung Januari 2019, jumlah pasien DBD yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daya (RSUD) Kota Makassar sebanyak 5 pasien. Jumlah ini, tentu sudah berkurang dari 7 pasien sebelumnya.
Hal ini imbas terhadap curah hujan di Sulsel khususnya Makassar yang tinggi dan dampak bencana banjir yang terjadi beberapa minggu yang lalu. Kemungkinan pasien DBD bisa saja bertambah jika curah hujan yang tidak dapat menentu dan kebersihan penampungan air tidak dibersihkan, yang menyebabkan jentik nyamuk bertelur.
Menurut Humas RSUD Daya Makassar, Wisnu, jumlah pasien DBD di RSUD Daya sebanyak 5 orang, pasien tersebut telah dirawat inap di rumah sakit sejak beberapa minggu yang lalu. Namun jumlah ini sedikit menurun jika dibanding pada 2018 lalu.
“Kemarin saya sudah rilis yang tahun lalu, kalau tahun lalu di bulan januari itu pasien DBD kita sebanyak 7 orang, jika sekarang (januari 2019) itu sebanyak 5 orang pasien. Sedikit jauh berbeda dibanding sebelumnya,” ungkapnya, Jumat (1/2).
Sebelumnya Rumah Sakit Umum Daya (RSUD) Kota Makassar pada Januari-Desember 2018 telah merawat sebanyak 98 orang pasien, dibanding tahun-tahun sebelumnya sebesar 52 pasien demam berdarah dengue (DBD). Pasien tersebut terdiri dari golongan usia balita hingga dewasa.
Menurut jumlah pasien DBD yang berada di rumah sakit daya selama tahun 2018 cukup banyak. Jumlah dari RSUD Kota Makassar untuk pasien usia dewasa yang dirawat di ruang interna telah mencapai 63 pasien selama bulan Januari-Dsember.
“Jumlah januari 2019 ini turun, mungkin disebabkan sudah ditangani yang lain di puskesmas. Kalau data kami jumlah pasien DBD Rawat Inap dari bulan Jan-Des 2018 sebanyak 93 orng, Rawat Jalan dari bulan Jan-Des 2018 sebanyak 5 orang. Kalau sekarang kami belum tahu sisa berapa,” ungkapnya saat di temui di RS Daya.
Lanjutnya bahwa pasien anak-anak usia 3-14 tahun yang dirawat di ruang perawatan anak sebanyak 31 pasien selama Januari ini. Sedangkan januari 2019 pasien DBD dengan usia anak-anak dan dewasa. “Ini data kami januari-desember jadi kemuninan akan berkurang atau bertambah itu ada,” tutupnya. (ita)
Dinkes tak Keluarkan KLB DBD
