KARENA nila setitik rusak susu sebelanga. Bunyi peribahasa ini bisa menggambarkan apa yang dialami Erwin dan Hasbi. Persahabatan keduanya yang sudah terjalin lama akhirnya pupus sebab sebuah masalah. Bahkan berujung pada peristiwa tragis yang dipicu siri’.
BILIK sel Mapolres Sidrap, Jumat (1/2). Seorang lelaki mengenakan baju kaus oblong warna hitam dan bercelana pendek abu-abu. Dia adalah Hasbi (32).
Polisi menjebloskan Hasbi ke dalam tahanan karena keterlibatannya menganiaya Erwin (32). Hasbi memarangi Erwin sehingga harus mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Arifin Nu’mang. Korban bukan orang lain bagi Hasbi. Keduanya saling bersahabat. Bahkan layaknya seperti saudara.
Ia lalu menceritakan awal mula peristiwa berdarah yang dilakoninya. Berawal kala Erwin kerap datang ke rumah Hasbi. Kala itu, Hasbi tak punya rasa curiga secuil pun terhadap Erwin.
Namun, seiring perjalanan waktu, muncul sesuatu yang tak disangka-sangka oleh Hasbi. Ternyata, kehadiran Erwin telah menjadi pemicu retaknya hubungan Hasbi dengan istrinya.
”Sejak dia (Erwin) sering datang ke rumah, saya dan istriku kerap bertengkar tanpa alasan yang jelas. Hingga akhirnya kami bercerai dua bulan lalu,” ujar Hasbi yang tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.
Yang sangat disayangkan oleh Hasbi, karena belum lama usai perceraiannya, mantan istrinya bernama Satriani (28) kemudian menikah dengan Erwin, sahabat mantan suaminya. Ini merupakan pernikahan keempat kali yang dijalani Erwin.
Hasbi pun menilai perbuatan Erwin itu tidak lagi menghargai arti sebuah persahabatan. Karenanya, dia pun nekat memaranginya.
”Lelaki siapa yang tidak sakit hati kalau orang yang dianggap sebagai saudara rela merusak hubungan rumah tangga teman yang sebelumnya berjalan dengan baik. Apalagi sudah dikaruniai seorang putri,” cetus Hasbi.
Hasbi menjelaskan, sebagai seorang yang bekerja sehari-hari sebagai peternak itik dan sering tidak berada di rumah, diduga kuat kesempatan itu dimanfaatkan oleh sahabatnya untuk mengganggu istrinya.
“Saya stres, Pak. Sahabat saya menikahi mantan istri saya. Padahal saya masih ingin rujuk kembali, tapi dia (Satriani) sudah tidak mau lagi dengan saya. Tapi ternyata dia sudah kawin dengan Erwin. Sakit benar hati ini, Pak,” tandas Hasbi.
Meski begitu, dia mengaku menyesali perbuatannya telah menganiaya sahabatnya sendiri. “Menyesal sekali, Pak. Tapi itu sudah terjadi. Saya harus bertanggung jawab,” katanya dengan nada lemah.
Erwin, warga asal Abokongeng, Kecamatan Kulo, Sidrap hingga kemarin masih menjalani perawatan intensif di RS. Ia dirawat sejak Kamis (31/1).
Ada jahitan di bagian kepalanya yang mengalami luka cukup serius. Juga sabetan benda tajam di bagian punggung. Sedikitnya ada 43 jahitan di kepala, dan 28 jahitan di punggung.
Hasbi yang warga Passeno, Desa Sipodeceng, Kecamatan Baranti, melakukan penganiayan tersebut di jalan poros Rappang-Pinrang. Tepatnya di Passeno sekitar pukul 10.00 Wita, Kamis (31/1).
Kapolres Sidrap AKBP Budi Wahyono melalui Kapolsek Baranti Iptu Muh Tang mengatakan, saat ini pihaknya masih mendalami kasus penganiayaan tersebut. Namun, dugaan sementara motifnya kecemburuan. Pelaku merasa malu mantan istrinya dinikahi oleh korban yang juga sahabatnya sendiri. Sebelum kejadian, Erwin telah hidup serumah dengan Satriani yang baru kurang lebih satu bulan dinikahinya.
”Tadinya antara pelaku dan korban bersahabat. Namun setelah korban menikahi mantan istri pelaku, muncul rasa dendam hingga akhirnya melakukan penganiayaan,” terang Iptu Muh Tang.
Sebelumnya, Satriani menggugat cerai suaminya di kantor Pengadilan Agama beberapa bulan lalu. Tak lama kemudian putusan cerai pun terbit. Mahligai rumah tangga keduanya yang telah dibangun selama 10 tahun akhirnya kanda. Selanjutnya, mantan istri Hasbi dinikahi oleh korban.
”Kami sudah amankan pelaku dan barang bukti senjata tajam yang digunakan menganiaya korban. Pelaku sudah mengakui perbuatannya. Ia melakukan hal itu karena cemburu. Sebab masih inginkan istrinya rujuk kembali,” jelas Iptu Muh Tang lagi. (ady/rus/b)
