MAKASSAR, BKM–Sudah tiga tahun lamanya janji untuk menghadirkan trayek baru layanan Bus Rapid Transit (BRT) Mamminasata rute Malengkeri-Pattalassang belum juga terwujud. Padahal sebelumnya, Perum Damri memiliki keinginan untuk membuka trayek baru tersebut.
Bahkan gagasan dari Perum Damri sempat mendapat respons positif dari warga Makassar dan Kabupaten Gowa, khususnya di wilayah Aroelapa, TUN Abdul Razak, Samata hingga Bu’rung-bu’rung Pattalassang.
Menurut Manager Usaha Perum Damri Kota Makassar, Misran, kepada BKM, Rabu (6/2), respons positif dari warga agar dibukanya BRT rute Mallengkeri-Pattalasang dengan melewati jalur Aroepala dan Tun Abdul Razak pernah diusulkan pada periode Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo. Namun hingga kini, realisasi itu dari tahun ke tahun tidak pernah terwujudkan.
Dari pihak Perum Damri Makassar sendiri, jelas Misran, merasa cukup kewalahan untuk membuka rute tersebut, jika tidak ada bantuan/subsidi dari pemerintah. Terlebih lagi, kondisi saat ini Damri sangat terseok jika tidak memutar otak untuk membiayai operasional dan perawatan damri dari biaya tiket penumpang.
“Oh Iya pernah itu diusulkan dari beberapa tahun lalu mi itu. Warga disana minta dibuka rutenya, tapi saya liat dulu awal-awalnya ji minta disitu, lama-lama saya liat kurang mi yang mau naik bus disitu,” ungkapnya saat ditemui di kantornya di Perum Damri Daya, Rabu (6/2).
Terlebih lagi, usulan itu hingga kini belum terealisasi meskipun tingginya permintaan warga di daerah tersebut. Olehnya itu, pihak Damri Makassar akan setuju dengan pembukaan rute tersebut, asalkan didukung dengan bantuan subsidi operasional Damri.
“Susah kalau mau buka rute kalau tidak ada subsidi. Kita layani ji semua rute yang penting ada bantuan ke kami. Kita selama ini saja cari sendiri biaya operasional, bayangkan saja biaya operasional damri disini kita gunakan 400 liter perhari, belum biaya pengemudi dimana hasil setoran kita berikan 7 persen perharinya,” ujarnya.
Selama ini Damri hanya membuka rute untuk perjalanan kampus Unhas menuju Teknik unhas Gowa sebanyak enam jemputan dan 3 kali rate PP, itupun dibantu biaya operasional dari pihak kampus. “Rugi total kita kalau mau buka-buka rute saja tanpa ada bantuan,” katanya.
Sebelumnya pada 2016 lalu, General Manager (GM) Damri Makassar Muh Ilyas mengatakan trayek baru ini melalui jalur lingkar luar Mamminasata yang dimulai dari Pasar Patalassang Gowa, menuju Kampus UIN Alauddin Samata (tidak masuk kampus), Jalan Tun Abdul Razak, Jalan Hertasning, AP Petta Rani, Sultan Alauddin, masuk ke Terminal Malengkeri dan kembali ke Patalassang dengan jalur sebelumnya.
Ilyas menyebutkan pelayanan ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang bermukim di jalur yang dilalui.
Pasalnya sampai saat ini tak satupun ada angkutan kota atau lintas kabupaten yang melayani warga jalur lingkar luar trans Mamminasata ini.(rhm-ita)
