MENJALANKAN bisnis apapun tidak semuanya berjalan lancar dan pasti ada suka dukanya. Termasuk bisnis karpet yang dijalankan Dimas di Jalan Hertasning Baru.
Laporan: JUNI SEWANG
Meskipun kata Dimas, tidak banyak kendala berarti dalam menjalankan usaha ini. Sebab, produk yang dijual adalah kebutuhan sekunder bagi masyarakat. Termasuk dalam pengirimannya.
Jika pun telat, tidak menjadi soal. Pasalnya barang ini tidak busuk. Justru kendala yang sebenarnya pada kondisi perekonomian. Turunnya daya beli masyarakat, maka akan berpengaruh pada omset yang diperoleh setiap bulannya. Termasuk jika turun hujan harus cepat membongkarnya, karena dikhawatirkan basah.
“Dua kondisi yang memang menjadi duka dalam berusaha karpet, selain karena daya beli masyarakat kadang kurang dan bisnis sepi, juga pada saat musim penghujan. Kita harus pintar-pintar melihat kondisi cuaca sebab sedikit saja lengah, karpet yang kita pasang dan susun bisa basah,” ujar Dimas kepada penulis.
Tetapi berbeda ketika saat peringatan hari besar. Seperti menjelang Idul Fitri dan Natal. Dalam kondisi seperti itu, penjual kebanjiran order. Jumlah barang yang dijual pun meningkat 100 persen dari hari biasanya.
“Paling ramai itu bulan puasa. Semakin dekat ke lebaran, semakin ramai. Cuma persoalannya, pengiriman tertunda. Ini karena produk makanan lebih diutamakan masuk di pelabuhan. Sedangkan barang-barang kita adalah kebutuhan sekunder,” bebernya.
Untuk memasarkan produk karpetnya, Dimas sudah berada di Jalan Hertasing Baru pukul 10.00 pagi. Karena menurutnya, pada jam-jam tersebut sudah banyak pengguna jalan yang lalu lalang.
“Saya buka jam 10 pagi, tutup jam 10 malam, diangkut pake mobil. Saya takut simpan barang karena bisa saja kecurian,” ujarnya sambil mengisap sebatang rokok di tangannya.
Ditanya soal besaran keuntungan setiap harinya, ia mengaku jika setiap hari ia bisa peroleh Rp12 juta dan keuntungan bersih mulai Rp2 juta hingga Rp3 juta.
“Sekarang ini banyak karpet berwarna abu-abu menjadi incaran, sedangkan nuansa biru dan merah juga menjadi idaman untuk karpet yang akan dijadikan hiasan. Kami juga menyediakan beragam jenis karpet, dari karpet tabrish pintalan dan mesin, karpet nahin sisal serta nahin nola,” katanya.
Ia menambahkan, di lapaknya ia menyediakan koleksi karpet terbaik dari segi mode dan zaman, tekstur karpet pun beragam. Bukan cuma dengan permukaan yang terpotong rapi, karpet pun berkembang. Mulai karpet dengan bulu-bulu bergulung, ikal, hingga kombinasi keduanya. Dan yang paling baru, adalah karpet dengan tekstur bulu-bulu keriting, panjang, dan lebat. Karpet jenis ini sungguh empuk saat disentuh. Soal harga, masing-masing karpet berbeda, bergantung jenisnya. Karpet dengan bahan wol atau sutra pintalan jauh lebih mahal dibandingkan dengan hasil buatan pabrik. Selain waktu pembuatannya cukup lama, karpet handmade lebih unik dan berbeda. Di Jakarta, misalnya, karpet buatan tangan dibanderol seharga Rp2-3 juta ini harga tertinggi kami,” tuturnya.
Selain harga yang relatif terjangkau, motif karpet juga bisa dipilih sendiri sesuai keinginan pelanggan. Dianggap murah dikarena lokasi jualan yang ia gunakan tidak ditarik retribusi apapun.
“Full keuntungan, tidak ada ongkos penarikan retribusi, kendalanya hanya harus bongkar pasang barang, dan kalau hujan dagangan ditutupi pakai terpal,” kata Dimas yang sampai saat ini masih berstatus Bujang.
Dimas juga menjelaskan saat ini produknya ia ambil dari Batam, yang datang dari Malaysia.
“Masyarakat Sulawesi tertarik dari motif, hal ini masih menduduki peringkat terbaik dibandingkan kualitas. Selain motif yang unik, karpet yang lembut, serta menggunakan warna yang menarik yang banyak diburu pembeli,” kata Dimas.
Pria kelahiran, Bone 10 Maret 2000 ini menambahkan, bicara permadani pastinya terbayang soal motif, dimana motif bunga dan abstrak menjadi motif yang awam dijumpai. Secara umum, motif karpet dibedakan atas dua jenis, yakni klasik dan modern.
Motif klasik biasanya memiliki banyak hiasan, dapat dilihat pada karpet dari Persia, mulai motif floral, geometrik, sampai motif kombinasi. Adapun motif modern terlihat lebih sederhana, hanya perpaduan garis dan warna yang lebih tegas. Motif klasik biasanya menjadi incaran para kaum papan atas karena terlihat lebih elegan dan tidak pasaran. Untuk karpet yang terbuat dari serat alami atau hasil buatan tangan memang memberi nilai lebih dengan menguatkan aksen lebih mewah, namun tetap natural.(jun)
