Site icon Berita Kota Makassar

Mendorong Kesejahteraan Petani Singkong

SEJAK 2015 usaha yang dimiliki Asri Jumari, owner dari Kikome sudah memiliki tempat tersendiri bagi penyuka jajanan atau camilan. Bahkan kini tidak hanya warga Sulsel saja, namun sudah merambah hingga diluar pulau sulawesi.

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

Pemilik dari Embung Jaya ini juga mengaku sudah ada kontrak kerja dengan sebuah perusahaan dengan permintaan 1.000 pcs setiap harinya yang dibayar cash setiap bulan. Belum lagi, permintaan dari berbagai pusat perbelanjaan dan pusat oleh-oleh yang selalu meminta pemasokan stok setiap harinya.
“Sebenarnya stoknya itu sudah ada diluar pulau Jawa, kalimantan dan Sumatera. Kebetulan saya sudah punya kontrak kerjasama dengan perusahaan, merekalah yang mendistribusikan Kikome hingga ke berbagai kota dan permintaanya itu kurang lebih 1.000 an/pcsnya,” ungkapnya kepada penulis.
Anak dari pasangan Jumari dan Rasiyah ini menuturkan keinginanya menjadi pengusaha besar. Apalagi, cita-cita itu sudah tertanam dalam dirinya ketika menginjak mahasiswa akuntansi semester VII. Dimana usaha itu ia ikutkan dalam pergelaran expo yang bekerjasama dengan HIPMI Sulsel, dari situlah banyak pengalaman dan ilmu yang didapatkannya untuk menjadi pengusaha besar.
“Dari expo saya juga banyak belajar dari senior di HIPMI, karena mau jadi pengusaha besar sejak dulu, makanya saya itu banyak belajar dari orang yang sudah besar dan banyak pengalamannya dalam dunia usaha. Sebab cara bisnis Asri diakui salah sebab Uang pribadi dicampuradukkan dengan modal usaha. Sehingga sering tanpa disadari modal usaha dipakai untuk keperluan pribadi.
“Makanya dulu itu saya keteteran soal modal karena biasa modal yang dipakai saya gunakan pribadi, jadi ketika mau tambah produksi lagi, modalnya habis. Disitu banyak strategi usaha yang gagal, jika ada yang mau membangun usaha, sekecil apapun itu, harus dijalankan secara profesional, kalau tidak ingin usahanya gagal,” ujarnya.
Hingga saat ini bisnis yang dimilikinya semakin berkembang, kini mempekerjaan 14 tenaga kerja dengan produksi 3.500 pcs. Omset yang dikantongi mencapai Rp 26 juta perbulan. Apalagi, belakangan beberapa peritel modern juga memintanya memasukkan Kikome ke minimarket mereka.
“Saya punya tempat produksi di Gowa, bulan kemarin membuka tempat produski di kawasan Jalan Perintis Makassar. Sebenarnya usaha saya juga ini ingin mendorong kesejahteraan para petani, dimana tidak lagi diperhitungkan kesejahteraannya. Bahkan petani kita ini hidupnya begitu-begitu saja,” ujarnya.
Sedangkan Kikome sendiri menurutnya adalah kependekkan dari keripik leko lame, nama ketiga sejak camilan ini diproduksi. Ditambah nama ini membawah ciri khas budaya daerah Makassar yang identik sekali rasa dan cita khas rasa yang dipunya. (*)

Exit mobile version