Site icon Berita Kota Makassar

Sulsel Jadi Pusat ‘Pertempuran’ Capres

MAKASSAR, BKM — Pemilihan presiden (pilpres) tak lama lagi dihelat. Dua pasangan calon presiden dan wakil presiden kian mengintensifkan upayanya untuk meraup simpati calon pemilih.
Sulawesi Selatan pun menjadi sasaran. Persaingan yang jor-joran tak terhindarkan. Capres dan cawapresnya saling berlomba untuk datang ke daerah ini.
Dosen politik Universitas Muhammadiyah Makassar Dr Luhur A Prianto, menilai jika posisi geopolitik dan geostrategis Sulsel di lanskap politik nasional, terlalu penting untuk dilewatkan para pasangan capres-wawapres. “Bicara Sulsel, bukan hanya bicara jumlah DPT terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Tetapi sebuah kekuatan politik yang solid dan berdiaspora ke seluruh wilayah di nusantara,” ujar Luhur, Kamis (21/2).Cawapres 02 Sandiaga Uno dalam beberapa kali kesempatan hadir di Sulsel, tentu mengirim pesan waspada kepada pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin. “Akseptabilitas figur Sandi di beberapa momen sosialisasi tidak terlepas dari diferensiasi strategi dan branding politik yang dibangun tim pemenangannya,” ujarnya.
Dijelaskan bila dari sisi strategi, upaya Sandi untuk merebut dukungan pemilih tradisional-primordial, ketika berusaha menghubungkan silsilah keluarganya sebagai bagian dari keturunan Bugis Wajo. “Tentu hal ini sulit dilakukan pasangan capres-cawapres petahana,” ucapnya.
Dari sisi branding politik, kemasan personal Sandi didesain semillenial mungkin, sehingga bisa diterima pada beberapa event komunitas. Sandi juga lebih memanfaatkan pergerakan dan jejaring relawan. Tidak menggunakan infrastuktur kekuasaan negara, sebagaimana yang digunakan pihak petahana.
Kehadiran KH Ma’ruf Amin setidaknya merupakan upaya memelihara stabilitas dukungan, yang di beberapa survei terus tergerus. Memang ada kecenderungan di Sulsel, tren dukungan Prabowo-Sandi terus meningkat dan petahana Jokowi-Ma’ruf yang tergerus.
Pengamat politik dari UIN Alauddin Makassar Dr Firdaus Muhammad, menilai Sulsel jadi magnet politik karena geopolitik yang strategis. “Capres harus prioritas pembangunan kawasan KTI. Hasil survei condong berimbang antara Jokowi dan Prabowo, sehingga jadi wilayah rebutan yang harus digarap. Belum ada yang memastikan menang karenanya setiap pasangan massif garap Sulsel,” jelas Firdaus.
Pemerhati politik dari Indeks Politiks Indonesia (IPI) Suwadi Idris Amir, menilai jika Sulsel yang masuk 10 besar DPT terbesar di Indonesia, membuat daerah ini menjadi zona pertarungan pasangan capres-cawapres. Apalagi Sulsel mampu mempengaruhi pemilih kawasan Indonesia timur. Jadi sangat wajar jika Sulsel jadi rebutan
“Apalagi saat ini di Sulsel elektoral pasangan capres tergolong tipis
Data bulan Januari, Jokowo-Ma’aruf 48,2 persen. Prabowo-Sandi 44,6 persen. 7.2 persen belum menjawab.Artinya tergolong ketat bagi keduanya,” jelas Suwadi.

Disegani Menang di Sulsel

Bagi sejumlah elit politik, kedatangan capres dan cawapres di Sulsel menjadi hal yang positif. ”Itu bagus. Karena artinya Sulsel dianggap daerah yang masyarakatnya lebih terbuka dan demokratis, serta rasional. Khususnya masyarakat dalam menentukan pilihan,” ujar Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sulsel Azhar Arsyad, kemarin.
Dijelaskannya, semakin sering capres dan cawapres berkunjung ke Sulsel, semakin sehat demokrasi kita. “Karena tentu kehadirannya memberi efek pada pendidikan politik,” ucap Azhar yang juga tim kampanye capres dan cawapres Joko Widodo- KH Maruf Amin ini.
Ketua DPW PKS Sulsel Surya Darma menegaskan, posisi politik Sulsel dalam peta politik Indonesia memang diperhitungkan. “Kalau menang di Sulsel seolah-olah sudah merasa menang di Indonesia Timur. Di pentas nasional, tokoh-tokoh politik dari Sulsel juga memang disegani. Sulsel adalah salah satu barometer dinamika Indonesia. Termasuk dalam urusan politik,” jelas Surya Dharma.
Tim pemenangan capres Prabowo, Syawaluddin Arif juga berpendapat sama. Menurut dia, Sulsel adalah pintu gerbang kawasan timur Indonesia. Siapa yang menguasai Sulsel, maka wajar jika menguasai Indonesia.
“Sulsel juga menjadi penentu kemenangan calon presiden. Hasil survei sekarang Prabowo-Sandi unggul 68 persen,” pungkasnya.

Jadi Battle Ground

Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto merasa senang dengan sering hadirnya para calon presiden. Dengan kedatangan mereka, menunjukkan bahwa kota ini memang telah dijadikan tolok ukur bagi mereka.
Selain itu, Makassar juga kini telah menjadi battle ground bagi para calon presiden. Atau bisa disebut juga sebagai pusat pertempuran, terkhusus bagi dua pasang capres dan cawapres.
“Dengan sering datangnya mereka, berarti Makassar menjadi tolok ukur. Makassar menjadi battle ground, pusat ‘pertempuran’. Karena saya kira di sini banyak petarung juga. Saya bangga dan senang sekali Makassar jadi battle ground,” ungkap Danny.
Ditambahkannya, Makassar pasti akan berjuang di jalan kebaikan, terutama pemilu nanti. Danny meyakini rakyat Makassar pasti akan mencari pemimpin yang baik.
“Makassar akan berjuang di jalan kebaikan. Kita cari pemimpin yang baiklah,” tandasnya. (rif-nug/rus/c)

Exit mobile version