MAKASSAR, BKM– PT Pegadaian Persero bekerjasama dengan Pemerintah Kota Makassar melalui bank sampah patut diacungi jempol. Program sampah tukar tabungan emas dinilai sangat positif.
Bahkan dengan program itu, masyarakat dapat menjual sampah dan hasilnya dapat disimpan dalam bentuk tabungan emas Pegadaian. Selanjutnya, sampah-sampah tersebut akan didaur ulang menjadi kompos. Sementara sampah anorganik akan diolah menjadi kerajinan tangan yang memiliki nilai guna dan nilai jual.
“Itu program bersama PT Pegadaian, yakni bagaimana program sampah menjadi emas yang dicanangkan bersama-sama pemerintah, masyarakat bisa menabung untuk mendapatkan tabungan emas, dengan syarat-syaratnya,” ujar Ketua Umum Asosiasi Bank Sampah Indonesia (Asobsi), Saharuddin Ridwan, Rabu (27/2).
Ridwan menambahkan, permasalahan di setiap kota adalah penanganan tata kelola sampahnya. Sama halnya yang terjadi di Kota Makassar, dengan kehadiran Bank Sampah ini membawa dampak besar terhadap kota Makassar.
Ia mengakui, penanganan sampah plastik di Kota Makassar, masih terkendala di beberapa wilayah. Walaupun saat ini diketahui sudah ada 1.000 bank lebih yang terbangun, namun masih ada 300 lebih yang belum efektif berjalan.
“Kita punya bank sampah yang efektif itu di bank sampah sekolah, RT/RW dan bank sampah Instansi. Yah sekitar 600 lebih bank sampah yang sudah efektif dari 1.000 bank sampah yang kita punya, yang masih kurang ini di lorong-lorong. Kita masih perlu memotivasi warga mengenai Bank Sampah ini,” ungkapnya.
Lanjutnya bahwa, kini kondisi bank sampah Makassar yang terserap di bank sampah pusat di 2017 dan 2018, terhitung 18 persen. Targetnya di tahun 2019, bank sampah sudah mencapai angka diatas 30 persen, sehingga ia mendorong swasembada masyarakat untuk menghidupkan bank sampah di Kota Makassar.
“Hingga kini, masih kurangnya melek masyarakat mengenai nilai ekonomi atau hasil yang bisa didapatkan dari pengelolaan sampah ini. Sedangkan bank sampah dikatakan berhasil ketika jumlah pembuangan sampah ke TPA itu sudah berkurang. Nah yang perlu dilakukan, menggerakkan pengurangan sampah ini,” jelasnya.
Apalagi peran yang paling besar terhadap keberhasilan bank sampah di Kota Makassar lebih banyak dilakukan ibu rumah tangga. Dari 60 kepala keluarga yang terdata sebagai nasabah nasabah bank sampah, ada 50 ribuan lebih kaum ibu-ibu selebihnya bapak-bapak.
“Ini artinya keberhasilan program bank sampah di Kota Makassar tak lain karena 90 persen peran perempuan paling banyak. Sekitar 350 ribu jiwa saja dari jumlah masyarakat Makassar ikut serta dalam bank sampah ini maka ini sudah membantu mensukseskan program bank sampah,” bebernya. (ita)
Pegadaian Programkan Sampah Tukar Emas
