MAKASSAR, BKM — Haji dan permasalahannya selalu menarik untuk disoroti dan dibicarakan. Karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak.
Sesi diskusi Membahas Problematika Kota Kita (Mempoki) ri BKM yang berlangsung, Kamis (28/2) cukup menarik. Sebab yang hadir adalah dua orang berkompeten menjelaskan tentang ibadah haji.
Mereka adalah Samsu Niang, anggota Komisi VIII DPR RI dari PDIP, serta Kepala Bidang Perjalanan Haji dan Umrah Kementerian Agama Provinsi Sulsel Kaswad Sartono.
Di Senayan, Samsu Niang terkenal cukup getol dalam memperhatikan penanganan ibadah haji. Setiap tahun, dia melakukan pemantauan ke Tanah Suci untuk melihat persiapan yang dilakukan dalam rangka menyambut tetamu Allah.
Dia menuturkan, persoalan haji selalu aktual dan menarik untuk diperbincangkan. Sejak tahun 2014 saat dirinya masuk ke Senayan, ada beberapa komponen yang jadi persoalan rumit.
Di antaranya transportasi, baik darat dan udara yang menjadi salah satu faktor penentu naik tidaknya biaya haji.
Bersyukur, karena perjuangan komisi VIII bersama pemerintah, tahun ini biaya haji cenderung stabil. Begitu juga dengan
biaya pondokan, konsumsi dan lainnya.
“Perjuangan agar biaya haji tetap stabil sangatlah berat. Apalagi melihat kondisi saat ini. Di mana Pemerintah Arab Saudi menaikkan pajak sebesar lima persen,” ungkap Samsu Niang.
Kendati tak ada kenaikan biaya haji, legislator PDIP asal Sulsel ini memastikan pelayanan akan terus ditingkatkan dari tahun-tahun sebelumnya.
Untuk konsumsi misalnya, tahun ini jamaah haji akan diberi layanan 40 kali makan di Mekkah dan Madina. Makanannya pun sesuai selera nusantara.
Penginapan rerata bertaraf bintang tiga. Malah ada yang bintang lima.
“Pokoknya, fasilitas jamaah haji reguler dan khusus sudah hampir sama. Murah dan fasilitasnya sama,” katanya.
Pemerintah juga tahun ini akan memberlakukan sistem zona, yakni Indonesia barat, tengah, dan timur.
“Jadi tidak lagi diacak. Ini menguntungkan jamaah haji yang berasal dari wilayah yang sama,” jelas dia.
Terkait penginapan saat di Arafah, Samsu Niang mengatakan pemerintah juga sudah menyiapkan tenda Armina yang lebih baik. Jamaah haji yang selama ini mengeluh kepanasan, semoga tidak lagi merasakannya di musim haji tahun ini. Karena pemerintah sudah menambah fasilitas AC.
Petugas haji pun ditambah cukup banyak. Sebanyak 4.100 petugas akan melayani sekitar 240 ribu jamaah haji.
Mereka sudah dibekali pelatihan maksimal di setiap kabupaten dan provinsi.
Begitu juga dengan manasik haji sudah bagus. Buku yang disiapkan juga sudah langsung diberikan pas pelunasan biaya haji.
Yang masih menjadi persoalan, kata Samsu Niang, adalah ketersediaan toilet yang masih sangat terbatas.
“Ini selalu kami tanyakan pada penyelenggara haji, bagaimana siasati jamaah agar tidak antre lagi,” katanya.
Dia juga menyoroti soal koper dan seragam haji yang masih berkualitas rendah. Sehingga ditekankan kepada pihak perbankan menyiapkan perlengkapan itu untuk lebih mempertahankan kualitas.
“Karena itu menjadi penampilan wajah Indonesia,” jelasnya.
Soal living cost selama di sana, jamaah haji disiapkan dalam bentuk riyal agar tidak pusing lagi mencari penukaran uang.
“Tahun ini merupakan tahun yang betul-betul pelaksanaan maksimal biaya murah,” kata dia.
Satu lagi yang menjadi persoalan haji tahun lalu, dibenahi pada musim haji tahun ini yakni antrean panjang biometrik di Bandara King Abdul Azis. Tahun ini tidak ada lagi. (rhm/rus)
Penginapan Haji Gunakan Zonasi
