KOTA metropolitan sebesar Kota Makassar tidak lepas dari berbagai problematika terkait pendidikan. Selain persoalan sumber daya manusia para guru, prasarana dan infrastruktur ruang kelas, hingga belum terbangunnya Sekolah Menegah Pertama (SMP) di beberapa kecamatan juga menjadi permasalahan.
Kondisi inilah yang menyulitkan penerapan sistem zonasi pada saat penerimaan siswa baru (PSB). Siswa yang kecamatan tempat tinggalnya tidak memiliki SMP, sangat sulit lulus pada sekolah yang berada di kecamatan lain. Salah satu solusinya dengan memasukkan mereka ke sekolah swasta.
Seperti halnya di Kecamatan Makassar, yang tidak memiliki satupun bangunan SMP. Ini menjadi fakta bahwa Kota Makassar ternyata masih kekurangan SMP. Pemerintah kota pun dituntut untuk mencari solusi atas permasalahan ini.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Dr Abdul Rahman Bando mengungkapkan, sebenarnya solusi menambah sekolah adalah membangun sekolah. Namun, jalan keluar ini menjadi tidak efektif mengingat butuh anggaran yang cukup besar. Selain membangun gedung, juga pengadaan tanah untuk lokasinya.
“Sebenarnya solusi untuk menambah sekolah adalah membangun. Tapi kalau membangun, kita cari uang dulu. Beli tanah dulu, baru bangun konstruksinya. Kalau ini yang ditempuh, sulit untuk mewujudkan SMP baru di Makassar, karena tanah mahal, sementara anggaran kurang,” jelas Rahman.
Untuk itu, pihaknya pun mencari jalan lain yang paling bijak dengan memanfaatkan serta memaksimalkan aset yang sudah ada. Yaitu dengan menggabungkan beberapa SD untuk bisa mendapatkan SMP baru. Atau yang lebih dikenal dengan regrouping sekolah.
Setidaknya, ada 85 SD yang akan digabung. Dari hasil regrouping ini akan menyisakan 37 SD, dan menghasilkan 12 SMP baru.
Sebanyak 85 SD ini semuanya telah diverifikasi oleh Dinas Pendidikan Kota Makassar. Saat ini proses regrouping telah sampai pada penyusunan laporan akhir. Laporan akhir ini nanti menjadi dokumen pelengkap untuk dijadukan ke wali kota, guna ditetapkan dalam bentuk SK.
“Laporan akhir ini menyangkut latar belakang yang menjadi dasar mengapa kita mau melakukan regrouping di Kota Makassar,” kata Rahman.
Latar belakang yang menjadi dasar ini menjelaskan bahwa regrouping akan mengurai tentang ketidakseimbangan SMP dan SD di Kota Makassar. Juga tetang banyaknya ruang-ruang kelas yang tidak efektif pemanfaatannya, terutama dalam pusat-pusat kota. Serta mengurai tentang sebaran sekolah yang tidak merata, yang menyebabkan nantinya ketika melakukan zonasi akan muncul keributan lain yang baru.
Di dalam laporan akhir ini juga sudah memuat tentang simulasi sekolah yang digabung. Mana sekolah yang digabung dan melahirkan sekolah SMP nomor berapa. Sampai dengan simpulan berapa SMP yang akan dihadirkan di Makassar dari hasil rekruitmen.
“Karena nanti sistem penamaan sekolah kita mengacu pada yang sekarang sudah ada, yaitu penomoran sekolah. Sampai dengan simpulan berapa SMP yang akan dihadirkan di Makassar dari hasil regrouping Ini tahapannya sekarang,” tambah Rahman.
Rahman berjanji akan berusaha secepat mungkin merampungkan regrouping ini. Paling tidak ia ungkapkan, pihaknya berharap proses regrouping telah selesai saat penerimaan siswa baru tahun ini. (nug/rus/b)
