PENGAMAT politik dari Universitas Muhammadiyah Makassar Dr Luhur A Prianto, menilai bahwa persaingan untuk meraih kursi di DPR RI cukup kompetitif. Para petahana di demua Dapil tidak cukup aman untuk bertahan.
Di beberapa kabupaten/kota terjadi perubahan formasi dukungan. Caleg baru di dapil 1 dan 2 punya ketokohan mumpuni. Potensi penambahan kursi pada partai-partai tertentu tetap terbuka, dengan syarat terjadi konsistensi suara dukungan partai di pileg dengan pilpres.
“Partai Golkar dan Demokrat sangat tidak diuntungkan dengan pencalonan Jokowi dan Prabowo di pilpres. Akseptabilitas dukungan pada Jokowi cenderung ke partai politik pendukung utama, yakni PDIP, Nasdem, dan PKB. Sementara resistensi pada Jokowi bisa diderita oleh Golkar. Begitu pun Demokrat, dukungan ke Prabowo lebih mungkin dikapitalisasi atau menguntungkan Gerindra,” ujar Luhur A Prianto, kemarin.
Menurutnya, Partai Golkar dan Demokrat tetap punya peluang mempertahankan kursi DPR RI nya di Dapil 1 dan 2. Sementara di Dapil 3, karakteristik persaingan internal lebih tajam.
“Setiap partai harus optimal mendorong semua caleg berkontribusi secara optimal. Memang di dapil 1, basis dukungan untuk Golkar mengalami perubahan. Basis pemilih tradisional Golkar di masa SYL seperti di Gowa, Takalar, dan Jeneponto akan bergeser, mengikuti arah dukungan para kader Golkar yang berdiaspora ke partai lain. Begitu pula dengan basis dukungan Demokrat di Kota Makassar, yang akan tergerus pascakepemimpinan IAS,” pungkas Luhur. (rif/rus)
Luhur: Golkar-Demokrat Sangat tak Diuntungkan
