SALAH satu yang menjadi penentu kemenangan pada pemilihan presiden dan wakil presiden 17 April 2019 mendatang adalah dari kaum perempuan. Mereka didominasi oleh emak-emak.
Berdasarkan hasil survei, penduduk Indonesia lebih banyak wanita dibanding pria. Jumlah itu didominasi oleh ibu-ibu.
Selain itu, pemilih milenial juga menjadi salah satu penentu kemenangan. Lantas condong ke mana arah dan dukungan mereka di pilpres mendatang?
Politisi Partai Gerindra Andry Suryana Arief Bulu, mengemukakan bila kontestasi pilpres kali ini adalah yang paling meriah dan bersemangat diikuti oleh para kaum emak-emak dan milenial.
“Bisa kita lihat bersama, mereka all out memberikan dukungan dalam setiap kedatangan Pak Sandiaga ke Sulsel,” ujar Andry, Senin (11/3).
Menurutnya, relawan emak-emak dan milenial bagaikan jamur yang tumbuh di musim hujan. Banyak sekali berjuang bersama Prabowo-Sandiaga di Sulsel. “Insyaallah suara dan dukungan mereka 70 persen ke pasangan 02,” ujar Andry yang juga juru bicara tim pemenangan Prabowo-Sandi di Sulsel
Klaim Andry ditanggapi Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sulsel HM Aras. Menurut dia, hasil tersebut harus ditanggapi secara positif. Bahwa kerja elektoral semua pendukung 01 masih belum terlalu maksimal.
Oleh karenanya, sisa waktu yang ada harus dimassifkan. ”Jangan kasih kendor. Sekaligus saya menginstruksikan kepada seluruh caleg dan kader PPP agar bersungguh-sungguh mensosialisasikan paslon 01 secara massif. Juga mengkounter isu-isu yang tidak benar yang diarahkan ke 01,” ujar Aras.
Dijelaskan bahwa semua tim harus solid. Tokoh-tokoh yang berpengaruh harus turun lapangan memberikan semangat dan support yang maksimal. “Jokowi-Maruf Amin harus menang di Sulsel,” tandas Aras.
Suwadi Idris Amir dari Indeks Politika Indoneisa (IPI) menilai, pemilih emak-emak dan milenial cenderung berimbang dukungannya ke kedua pasangan capres. “Sebab kedua pasangan capres memiliki ciri khas yang disukai kedua segmen pemilih tersebut,” ujar Suwadi.
Menurutnya, Jokowi disukai sebab dianggap bersih, merakyat dan berkarakter. Ditambah kinerjanya selaku petahana dianggap cukup baik
“Prabowo-Sandi disukai karena dianggap tegas, lantang bersuara, mantan ABRI. Sosok Sandi adalah pengusaha muda yang sukses dan gagah,” jelasnya.
Dosen politik dari Unismuh Makassar Dr Luhur A Prianto, menilai jika pergerakan partai koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin seperti tidak terkonsolidasi. Meskipun sebenarnya, situasi itu terjadi di dua kubu, petahana dan penantang.
Sepertinya, kata Luhur, gerbong koalisi Jokowi-Ma’ruf ini sulit digerakkan, yang secara bersamaan lebih fight menghadapi pileg. Umumnya partai politik pengusung, di luar PDIP, PKB dan PSI, menganggap pileg adalah arena kontestasi yang sesungguhnya. Dukungan di pilpres dianggap tidak cukup membawa insentif elektoral bagi perolehan suara partai politik mereka.
Secara umum, ini bisa dijelaskan dalam dua perspektif. Pertama, pilpres adalah keputusan elit nasional. Elit partai politik di daerah merasa keputusan dukungan di pilpres tidak berdasar pada aspirasi dan kepentingan elektoral mereka di daerah. Umumnya elit partai di daerah, memahami kalau keputusan dukungan itu berbasis pragmatisme. Kedua adalah pembiayaan.
“Saya kira salah satu masalah besar yang membuat pergerakan TKD adalah teknis pembiayaan. Beberapa anggota tim sering mempertanyakan koordinasi TKN-TKD, yang belum tuntas mengatur sharing pembiayaan koalisi. Partai-partai pendukung umumnya menunggu dukungan teknis dan pembiayaan. Termasuk dari kepala daerah. Kalau perihal pembiayaan tidak tuntas, maka sulit mengharapkan pergerakan elektoral dari gerbong koalisi pendukung,” jelas Luhur.
Ditambahkan bahwa tren elektabilitas petahana cenderung stagnan, bahkan menurun. Bila tidak ada usaha terstruktur dan massif dari koalisi petahana Jokowi-Ma’ruf untuk membendung, maka tren peningkatan elektabilitas penantang Prabowo-Sandi akan terus bergerak naik.
“Semua pasangan bertarung dengan waktu. Bagi tim petahana, terasa begitu lama menuju April 2019. Sebaliknya, bagi tim penantang, waktu terasa begitu cepat sampai di April 2019. Sisa 1 bulan ini, mereka sudah harus sprint di jelang garis finish. Tidak boleh lagi ada kendala teknis dan non-teknis, yang bisa menghambat pergerakan elektoral mereka,” pungkasnya. (rif)
Condong ke 02, Kerja Tim 01 Belum Maksimal
