TIDAK bisa dipungkiri sudah banyak barang barang unik terbuat dari sampah barang bekas, namum belum dikembangkan di Makassar. Khususnya dalam hal mengolah barang bekas menjadi produk bernilai komersil.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Belum banyak yang melirik nilai ekonomis sampah barang bekas menjadi pundi rupiah. Hal tersebut dimanfaatkan Owner Dua Putri Neon Kreasi, Darmawati Halik dengan memanfaatkan lampu bekas bisa menghasilkan uang.
Bahkan menurut Darma, sampai sekarang peluang bisnis kerajinan barang bekas masih terbuka luas, dan dapat melesat begitu cepat. Itu semua tergantung bagaimana orang dapat memanfaatkan peluang itu.
“Itu semua tergantung kita sih bagaimana memanfaatkan kesempatan itu, karena beberapa teman-teman dan anggota UKM Dua Putri itu rata-rata mereka memilih berhenti dari pekerjaannya sebagai karyawan, menjadi pebisnis sampah barang bekas,” ungkapnya beberapa hari yang lalu.
Tidak hanya lampu bekas yang dapat diolah, menurut Darma ada beberapa barang bekas yang dapat diolah diantaranya sampah plastik, sampah botol, sampah besi, sampah kertas, sampah logam, dan sampah kardus bekas. Hanya saja dirinya, hanya memasarkan untuk kerajinan tangan lampu neon, untuk menjadi pernak pernik yang unik.
“Jadi UKM yang saya dirikan itu tidak hanya olahan lampu saja. Tapi banyak juga hasil olahan lainnya seperti botol, besi, kertas, dan plastik. Khusus untuk lampu neon yang saya kerjakan dan pasarkan sendiri saya sudah ikut kan dalam berbagai kegiatan dan pameran.
Ibu dari dua anak ini, berhasil membuat kerajinan tangan dari lampu neo bekas. Kurang lebih 200 hiasan kaca per-hari dapat dibuat dan kini penjualannya sudah naik berkisar 500 hiasan pernak pernik dibuatnya. Dengan jumlah produksi seperti itu, ia sudah bisa meraup keuntungan sebesar Rp 40 jutaan setiap bulannya.
Banyaknya keuntungan yang sudah dj dapatkannya. Kata Darma, mengaku sangat bersyukur dan berterima kasih atas apa yang dirinya dapatkan sekarang. Bahkan usahanya dapat berjalan dengan lancar, produknya sudah dipasarkan hingga ke semua wilayah Sulawesi, Ambon, NTT, dan hampir di seluruh Indonesia Tmur.
“Jadi perhiasan pernak pernik ini sudah saya sudah saya pasarkan di beberapa di pulau sulawesi dan bagian khususnya di bagian Indonesia timur. Jadi ini pengirimannya melalui bantuan dari Pertamina, saya sudah bisa melakukan retribusi perhiasan pernak-perniknya itu di beberapa kota dan kabupaten di Indonesia dan target Saya Insya Allah ini sudah bisa sampai ke mancanegara,” harapnya.
Adapun beberapa jenis sovenir lampu di buat Darma mulai dari, lampu hias pajangan dan lampu hias duduk, yang dibuat dari sampah neon. Harga jual terbilang sangat murah, hanya Rp 10 ribu/pcs. Untuk meningkatkan penjualannya selain ditopang dengan bantuan pihak kedua, Darma berbagai strategi marketing yang selama ini dijalankan untuk menuai kesuksesan.
Salah satunya yaitu dengan rutin mengikuti kegiatan pameran, baik yang diselenggarakan pemerintah, perusahaan, dan mempromosikan melalui sosial media pribadi miliknya. Untuk terus menaikkan jumlah penjualan perhiasannya.
“Bersyukurnya saya karena selalu ada jalan untuk menjalankan bisnis ini, walaupun juga selalu ada kendala. Tetapi selalu juga datang solusi untuk mengatasi kendala yang terpenting harus sabar untuk menjadi seorang pengusaha,” tutupnya.
Lanjut Darma, membeberkan usaha neon kreasi ini tidak mudah ia besarkan seperti saat ini, tanpa bantuan dan dorongan dari sekitarnya termaksud dari keluarga dan mitra binaan yang selama ini menopang usahanya. “Tentu ini semua karena banyak orang yang mendukung saya, termaksud Pertamina, karena saya ini termaksud binaan dari mereka. Karena setiap usaha pasti dimana-mana itu butuh yang namanya modal,” katanya.
Apalagi menurut Darma, banyak yang belum tahu cara memanfaatkan sampah barang bekas untuk bisa mendatangkan keuntungan, baik dari segi komersil, maupun bagi kehidupan kita sehari-hari. Hal ini yang dibuktikan oleh Darma dengan membuka peluang usaha lampu-lampu bekas bisa mendapatkan omset jutaan dalam perbulannya.
Bahkan pemilik usaha Dua Putri Souvenir Neon Kreasi, yang sehari-hari mengolah barang bekas menjadi produk bernilai ekonomis. Semua dikerjakan secara homemade di rumahnya bersama anggota UKMnya. Dirinya juga berani membuka usaha ini untuk membuktikan bahwa perempuan jika memiliki Keterampilan tangan, bisa menjadi suatu pekerjaan yang sangat menjanjikan, terutama bagi yang susah mendapatkan pekerjaan.
“Ini juga mungkin yang saya mau hilangkan jika perempuan hanya bisa bekerja dapat uang itu di kantor atau di pemerintahan. Kita bisa buat lapangan kerja juga, biar di rumah sambil urus keluarga, kita bisa daptkan uang juga asalkan punya bakat dan mau membuat keterampilan kita,” ujarnya.
Kini usahanya semakin berkembang dan dilirik oleh beberapa perusahaan. Bahkan Darma mengaku kurang lebih 200 hiasan kaca per-hari dapat dibuatnya untuk memenuhi permintaan konsumennya. “Alhamdulliah itu semua karena kerja keras saya bersama orang-orag yang mendukung saya, bisa seperti ini sekarang,” tuturnya. (Ita)
