Site icon Berita Kota Makassar

Kadang tak Dibayar Karena Mesin Tiba-tiba Rusak

MESKI hanya duduk di samping kereta mini mengawasi anak kecil yang sedang bermain odong-odong, bukan tak berarti pekerjaan ini tidak memiliki kisah suka dan duka perjalanannya.

Laporan: ARIF AL QADRY

Mulai dari tidak dibayar pelanggan dan hingga tidak keluar mencari rezeki berhari-hari karena hujan deras telah dirasakan Usdi.
Menjadi pengoperasi kereta mini odong-odong telah lama dilakoni oleh pria kelahiran Ujung Pandang, 04 April 1993 di kawasan Jalan Hertasning Raya. Pekerjaan ini baru ia lakukan setelah pulang bekerja sebagai buruh bangunan.
Menjadi pengoperasi odong-odong dijadikan Usdi sebagai sambilan untuk menutupi biaya hidupnya sehari-harinya. Apalagi ketika tidak ada proyek bangunan yang ingin dia kerjakan.
“Selain pengoperasi odong-odong, saya juga kerja jadi tukang bangunan bagian pemasangan plafon. Ini saya ambil karena kalau tidak ada proyek bangunan, biaya hidup dan kebutuhan ku bisa tertupi dari odong-odong ini,” akunya.
Januari 2018 lalu, menjadi awal Usdi memulai bekerja sebagai pengoperasi odong-odong. Di mana sambilan diambil saat proyek bangunan pada waktu itu kosong selama satu bulan. Sementara keuangannya menipis.
Kebetulan tetangga rumah di Jalan Banta-bantaeng pebisnis mainan anak jenis odong-odong ini. Dan saat itulah dia menawarkan diri menjaga odong-odong di Jalan Hertasning Raya yang masih kosong penjaga (pengoperasi). Mulanya pekerjaan sambilan ini hanya ingin melakoni Usdi sebentar saja, ketika proyek sudah ada, maka pekerjaan ini akan ditinggalkan.
“Tapi setelah saya rasa saya telanjur senang dan suka. Aplagi ini tidak ada yang saling menganggu kerja saya satu lainnya. Kalau buruh bangunan pergi jam 08:30 WITA sampai 16:30 wita. Sedangkan jaga odong-odong mulai pukul 17:00 wita sampai 22:30 wita. Jadinya sampai sekarang ini saya kerjakan dua-duanya. Pekerjaan ini saling menutupi,” sebutnya.
Dalam perjalanannya selama satu tahun jadi penjaga odong-odong, Usdi mengaku pernah sama sekali tidak dibayar pelanggannya. Itu terjadi pada saat mesin di kereta odong-odongnya macet. Di mana rantai yang berfungsi memutar permainan tersebut putus hingga akhirnya pelanggan turun karena waktu perbaikannya cukup lama. Berbeda ketika kalau hanya aki drop atau suak.
“Kalau aki suak paling saya telepon bos, aki baru hanya 15 menit paling lama sudah datang. Pelanggan yang mau menunggu bisa kembali melanjutkan main. Tetapi kalau mesin rantainya putus, hari itunya juga pasti odong-odong sudah pulang. Karena perbaikan rantai bisanya dikerja besok paginya dari pekerja mesin. Ada memang mekaniknya bos sendiri. Kalau kondisinya seperti itu, pelanggan biasa tidak membayar karena tidak puas, tapi ada juga yang bayar karena mengerti. Saya tidak mau paksakan juga,” sebutnya.
Tidak cuma itu saja, kalau musim hujan masuk, odong-odong Usdi tidak beroperasi. Pernah nyaris dua minggu sama sekali terkurang di rumahnya saja. Tidak keluar operasikan odong-odong menghibur anak-anak atau pelanggan setianya. Khawatirnya jika odong-odong dipaksa keluar saat musim hujan, mesin dan kelistrikannya macet.
“Sukanya kalau ada orang tua kasih uang lebih, itu saja. Bonusnya bisa lihat anak-anak ketawa senang main di kereta odong-odong saya. Tapi dukanya kalau di musim hujan. Tidak bisa keluar cari uang dan kalau dipaksakan bahaya juga dengan kelistrikan dan mesinnya bisa-bisa rusak,” lanjutnya.
Cita-cita Usdi cukup sederhana. Dia hanya ingin punya kereta mini odong-odong sendiri dari bosnya. Dan inilah yang sementara dikumpulkan uang dari pendapatannya setiap hari. Apalagi bos tempatnya sekarang mempunyai banyak unit odong-odong yang dijual dengan beragam model dan jumlah tempat duduk. Harganya macam-macam ada 25 juta lebih sampai 30 juta lebih.
“Saya mau punya odong-odong sendiri dan inilah yang sementara saya usahakan kumpulkan uang. Yaa semoga bisa saja. Odong-odong ini juga bisa diorder buat orang tua yang mau senangkan anaknya di depan rumahnya. Caranya dengan menelepon ke nomor 0852 9996 5075. Nanti bos saya arahkan orangnya ke rumah pemesan. Bayarannya sesuai pembicaraan dengan bos saya pastinya,” tambahnya.
Di kereta mini odong-odongnya terdapat tujuh kursi dengan beragam model. Pelanggan Usdi adalah anak-anak berusia di bawah lima tahun. Pelanggan odong-odong paling banyak datang dari warga kompleks di sekitar tempat Usdi mangkal. Dan pengendara yang melintas dan ingin menghibur anak-anaknya.
“Tiga lagu hanya Rp5.000, anak bahagia, dan orang tua pun senang. Permainan sederhana ini tidak kalah aman dengan permainan anak-anak yang ada di mall. Karena orang tua bisa langsung mengawasi anaknya yang lagi main duduk di kursi kereta mini odong-odong,” sambut pria kelahiran Ujung Pandang, 04 April 1993 kepada penulis.
Pekerjaan sebagai pengoperasi odong-odong sudah satu tahun dilakoni Usdi, tepatnya di Januari 2018. Pekerjaan ini dijadikannya sebagai sambilan selain menjadi tukang atau buruh bangunan.
Sejak awal, lokasi tempat odong-odongnya tidak berubah atau berpindah-pindah tempat. Dari dulu memang sudah mangkal depan rumah toko Jalan Hertasning Raya. Lokasi ini telah lama dipesan dan disewa bosnya (pemilik) odong-odong.
“Setiap hari buka, tidak pernah libur. Saya mulai buka malam jam lima sore sampai sepuluh malam kalau hari biasa. Malam Minggu paling lama pulang setengah dua belas. Karena malam Minggu biasanya ramai. Banyak anak-anak biasa antrean. Dari dulu memang saya ada mangkal di sini (Jalan Hertasning Raya),” sebutnya.
Upah yang diterima pria hobi bermain sepak bola dari menjaga odong-odong setiap hari tidak menentu. Jika sedang ramai-ramainya bisa membawa pulang paling banyak Rp200.000, dan ketika sepih hanya membawa pulang Rp50 ribu. Meski penghasilannya tidak begitu besar, namun tetap dia syukuri. Berapapun yang dia terima.
“Saya terima sesuai berapa yang masuk istilahnya bagi dua pemasukan. Kalau hari biasa paling sedikit masuk Rp100.000 dan paling banyak Rp300.000 sampai Rp350.000. Yang masuk itu saya bagi dua dengan bos, pemilik odong-odong ini,” akunya. (*)

Exit mobile version