Site icon Berita Kota Makassar

Lima Warga Meninggal, NA Utus BPBD ke Papua

MAKASSAR, BKM — Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah menyampaikan ucapan belasungkawa dan rasa duka mendalam atas berpulangnya puluhan korban yang mengalami banjir bandang di Sentani, Jayapura, Papua.
Orang nomor satu Sulsel itu mengatakan, saat ini pihaknya sementara melakukan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua untuk mengetahui berapa banyak korban asal Sulawesi Selatan yang jadi korban dalam bencana tersebut. Selain itu, Nurdin juga segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk membantu warga di sana.
Dalam waktu dekat, dia akan mengutus kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk berangkat ke lokasi bencana guna menginventarisasi dan mendata korban, khususnya yang berasal dari Sulsel. Sekaligus menggali informasi apa saja yang dibutuhkan.
“Kita sementara berkordinasi dengan pihak badan bencana di sana. BPBD akan saya instruksikan berangkat ke sana,” ungkapnya ditemui di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel Jalan Sungai Tangka, Senin (18/3).
Dia berharap pemerintah daerah proaktif untuk mencari dan menggali informasi terkait warga Sulsel yang menjadi korban di sana. Soal bantuan yang akan diberikan ke korban, tambah Nurdin, pihaknya menunggu informasi dari Papua.
“Makanya kita akan berkoordinasi ke sana, apa yang menjadi kebutuhan. Di sana kan banyak warga sulsel,” pungkasnya.
Data hingga Senin (18/3), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut ada 79 orang meninggal. Lima di antaranya yang sudah teredintifikasi adalah warga Sulawesi Selatan. Empat orang berasal dari Soppeng, dan satunya dari Toraja Utara.
Ketua Badan Pengurus Wilayah Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (BPW KKSS) Papua Mansur, membenarkan hal itu. Empat warga asal Soppeng yang menjadi korban masih satu keluarga. Masing-masing Ira Herawati (34), Zakir (9), Muhammad (7), dan Salman (1). Mereka ditemukan tertimbun material longsor di kediamannya.
“Kebetulan rumah mereka membelakangi tebing. Jadi kena longsor. Karena kejadiannya malam, sehingga susah menyelamatkan diri,” ujar Mansur, kemarin.
Jenazah keempatnya, kata Mansur telah dikebumikan di pekuburan Islam di Waena, Kota Jayapura.
Sementara, kabar terbaru yang didapat adalah korban bernama Septian Kedeng. Tian adalah warga Toraja dari Akung, Kecamatan Bangkelekila, Toraja Utara. Saat ini, jenazah Tian masih diindentifikasi di RS Bhayangkara, Jayapura.
Ketua Ikatan Keluarga Toraja Kabupaten Jayapura Ismail Mambi, juga membenarkan hal tersebut. Ia bilang, sejauh ini baru satu warga Toraja yang dinyatakan meninggal dunia, dari 79 jenazah yang sudah ditemukan Tim SAR gabungan sejak proses pencarian dilakukan sejak Minggu (17/3). Ratusan lainnya tengah mengungsi.
“Sejauh ini dari informasi yang kita sudah himpun, ada satu warga Toraja Utara yang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Lainnya hanya luka ringan dan sudah mendapat penanganan,” katanya.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, jumlah korban meninggal terbanyak di Kabupaten Jayapura dengan jumlah 72 orang. Dan tujuh orang di Kota Jayapura.
“Untuk korban yang belum ditemukan, tim SAR terus melakukan pencarian,” kata Sutopo dalam rilis resmi yang diterima, kemarin.
Sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo kepada Kepala BNPB Doni Monardo, upaya dan proses evakuasi korban jiwa harus dipercepat. Selain itu, juga perlu dilakukan penghijauan hutan dan lahan di hulu sungai yang bermuara di Danau Sentani.
Banjir bandang yang terjadi pada Sabtu (16/3) pukul 21.30 waktu setempat, menerjang sembilan kelurahan. Tiga kelurahan di antaranya mengalami kondisi paling parah, yakni Kelurahan Dobonsolo, Doyo Baru, dan Hinekombe.
Sutopo menambahkan, akibat banjir banjir 11.725 keluarga terdampak, 74 orang luka dan 4.728 orang mengungsi di enam titik pos penampungan.
Selain itu, 350 rumah rusak, 211 unit rumah terendam, delapan sekolah rusak berat, tiga rumah ibadah rusak, delapan drainase, tiga jembatan rusak, dan satu pesawat twin otter rusak.
Masa tanggap darurat ditetapkan selama 14 hari ke depan, terhitung sejak Minggu (17/3). Saat ini alat berat masih dikerahkan untuk membersihkan lumpur dan material batu dan kayu dari jalan. Dapur umum di pos pengungsian juga telah berdiri.
Banjir bandang, lanjutnya, dipicu dua faktor. Yakni faktor alam dan ulah manusia. Curah hujan yang sangat ekstrem mencapai 248,5 milimeter jatuh dalam waktu 7 jam. “Seharusnya curah hujan itu turun dalam waktu rata-rata satu bulan. Ini turun dalam waktu 7 jam,” ucapnya.
Akibatnya, air tidak mampu tertampung semuanya. Ditambah lagi topografi di hulu curam dan di hilir landai. Selain itu, batuan penyusun di topografi daerah itu lemah sehingga mudah longsor. “Longsor kemudian menutup alur sungai dan terjadibendung-bendung kecil, sehingga tidak mampu menampung dan akhirnya mengalir melalui sungai-sungai,” paparnya.
Ia menambahkan, kerusakan hutan dan perambahan cagar alam sudah terjadi sejak tahun 2003. Selain itu, juga terjadi penggunaan lahan permukiman dan pertanian lahan kering di daerah tangkapan air seluas 2.415 hektare, serta tambang galian C.

Exit mobile version