Site icon Berita Kota Makassar

Ke Makassar Dengan Modal Nekat

SEJAK kecil ia memang suka merantau dan terbiasa menerima tantangan untuk pekerjaan yang baru. Apalagi, menjajaki usaha rujak buah tidak membutuhkan tenaga besar dan pekerja yang banyak.

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

Sederhana merupakan gambaran dan tampilan Mas Yono. Hidup di Kota Daeng yang besar seperti Makassar, tidak mau membuat keluarganya kesusahan. Olehnya itu, dirinya rela banting tulang mencari sesuap nasi. Dirinya berbagi kisah ke penulis, bagaimana ia merantau ke Makassar bersama keluarganya diawali modal nekat.
“Di kampung kalau mau dapat uang yah berkebun atau kuli panggul mbak. Bisa kesini juga karena nekat saja dan jual motor di kampung. Sebenarnya mau ke Maluku tapi nyasar disini. Yah sudah, saya cari uang saja di Makassar daripada uang sudah mau habis tapi belum dapat kerja apa-apa,” ungkapnya, kemarin.
Berbagai suka duka juga dialaminya di awal-awal merantau ke Makassar. Tuntutan biaya hidup dan tempat tinggal menjadi awal mula Mas Yono mendapat masalah, mulai diusir dari kontrakkan rumah hingga sepiring nasi untuk bertiga dengan istri dan anaknya telah dialaminya.
“Uang sisa jual motor kita pakai biaya tiket kapal kesini, sisa buat bayar rumah, itu juga sudah dua kali diusir karena tidak bisa bayar mbak. Karena sisa uang saya buat untuk gerobak saya ini, kalau tidak begitu mau kerja apa saya mbak saya cuman tamatan SD,” tuturnya.
Seiiring waktu, usaha rujak yang digelutinya mulai laris manis. Mas Yono mulai mendapatkan kehidupan yang cukup, termasuk mampu menyekolahkan anaknya hingga menabung untuk membeli rumah bagi keluarga kecilnya.
“Sekarang sih, alhamdulliah bisa buat bayar semuanya. Tidak diusir lagi, anak juga mampu sekolah semua. Anak harus mampu sekolah tinggi-tingi biar dapat kerjanya juga bagus, jangan seperti saya,” ucapnya.
Ungkapan itu tentu didasarinya, akibat hidup pelik dan sudah yang telah dilaluinya, sehingga tidak ingin juga dirasakan kedua anaknya nanti. Modal sehari yang dikeluarkan Mas Yono untuk membeli buah rujaknya sebesar Rp 350 ribu dengan harga per porsinya Rp 10 ribu. Dalam sehari Mas Yono mampu menghabiskan 600-700 porsi, jika dihitung dalam sebulan bersihnya Mas Yono bisa mendapatkan Rp 9 juta setiap bulannya.
“Hidup begini saja itu mbak, sudah syukur tidak minta apa-apa lagi. Dikasih rezeki syukur, dikasih sehat yah alhamdulliah,” ceritanya.
Ia menjajakan rujak buahnya di sekitar kompleks BTP Blok M setiap harinya.
Sosok bapak dua anak ini setiap harinya mendorong gerobak hingga berjarak satu kilometer lebih dari kontrakannya. Laki-laki asal Jember ini merantau ke Makassar guna mencari rezeki halal. Ia rutin mangkal di depan Kantor Kelurahan Tamalanrea Makassar.
“Cukup jauh mbak dorongnya, Disini enak jualannya karena semua udah tahu (rujak) saya sering disini. Jadi biar dimana mbak kalau memang Tuhan memberi pasti rezeki itu datang, kalau bukan yah pasti bukan rezeki saya mbak,” ungkapnya, kepada penulis.
Bagi masyarakat di sekitar daerah mangkalnya, rujak milik Mas Yono memiliki cita rasa yang enak dan gurih. Sehingga kini, sudah banyak pelangan setianya yang rutin membeli rujak buahnya setiap hari. Bahkan terkadang rujak miliknya sewaktu mangkal sudah diserbu pelanggannya.
Setiap subuh, Mas Yono sebelum berjualan harus berangkat ke pasar berbelanja buah untuk jualan rujaknya. Pulang ke rumah dibantu sang istri membersihkan dan mengupas buah, baru sekitar pukul sepuluh pagi dia membawa gerobaknya ke tempat-tempat yang biasa disinggahi.
“Kalau subuh itu ke pasar dulu mba beli buahnya. Apalagi, kalau subuh buahnya masih segar-segar, setelah ituistri membantu mengupas buahnya. Baru pukul 10 pagi saya keluar rumah mendorong gerobak ke tempat biasa. Selebihnya tidak kemana-mana lagi karena disini saja sudah laku mbak, biasanya siang jam 2-3 itu sudah habis,” katanya.(*)

Exit mobile version