Site icon Berita Kota Makassar

Kadang Penghasilan Menurun Jika Mahasiswa Libur

MAKASSAR memang benar-benar mengubah kehidupan Wendi. Kehidupan sulitnya di Wonogiri ia ubah dengan berjualan bakso.

Laporan: NUGROHO
Sebenarnya bukan cuma bakso saja yang dijualnya. Ada juga mie ayam pangsit yang menjadi andalan di warung baksonya. Bakso dan mie ayam ini juga terbagi dari beberapa varian.
Yang menjadi andalannya adalah Mie Ayam Bakso Boom. Dimana mie ayam pangsit dipadukan dengan bakso boom, bakso dengan ukuran sebesar bola tenis. Rasanya begitu nikmat, bakso boomnya amat terasa cita rasa khasnya. Menu ini pulalah yang laris manis di warungnya.
Selain itu ada juga disajikan bakso keju, bakso urat, bakso biasa, hingga bakso mercon. Semua bisa dipesan sesuai selera masing-masing.
Wendi sangat bersyukur dengan kondisi usahanya saat ini. Dengan usahanya kini, ia tak lagi repot mencari pekerjaan, apalagi hanya sebagai lulusan SMP. Bahkan dari hasil ini, dirinya belum punya rencana kembali lagi ke kota kelahirannya.
“Mau disini saja dulu. Belum ada rencana ke jawa. Saya mau kumpulkan uang dulu. Alhamdulillah selama ini masyarakat banyak yang suka racikan menu bakso disini,” kata Wendi.
Walaupun begitu, tiap tahunnya Wendi tetap menyempatkan diri untuk pulang kampung. Tepatnya saat lebaran tiba, ia berlayar ke kampungnya dengan menggunakan kapal laut. Lebaran pun menjadi satu-satunya momen dirinya bisa berkumpul bersama keluarga.
Walaupun biasa kondisi warungnya ramai, namun ada kalanya juga sepi. Beberapa mahasiswa yang biasa singgah ke warungnya, akan berhenti sejenak apabila musim libur tiba. Pendapatannya saat musim libur pun jelas turun drastis dibanding hari biasanya.
“Kadang juga sepi, apalagi kalau libur mahasiswa. Kalau hari biasa bisa sampai 300 orang perhari yang datang. Kalau hari libur, jauh dibawah itu,” ucap Wendi.
Suka duka juga ia rasakan selama menjual. Tak selamanya para pembeli ini punya niat baik saat ingin menikmati dagangannya. Beberapa diantara mereka bahkan diakatakan Wendi enggan membayar apa yang dibelinya.
“Ada pernah yang ndak membayar, iya biasa itu. Biasa ada yang bilang sudah bayar, tapi saya tahu dia belum bayar. Jadi saya juga biasa mengalah saja, kalau dia datang lagi ya diawasi ketat,” ungkapnya.
Selain itu ada juga yang biasa tidak sabaran. Banyak dari para pelanggan yang ingin cepat dilayani, oadahal jumlah pelanggan saat itu lumayan ramai. Kalau yang betul-betul tidak sabar, mereka bahkan ada yang langsung pulang sebelum pesanannya jadi.
Saat ini Wendi telah punya delapan karyawan di warungnya. Kini ia hanya berharap bahwa warungnya bisa dijadikan permanen. Pasalnya saat ini dirinya masih mengintrak tempat tersebut.
“Kita maunya punya tempat sendiri karena sekarang masih kontrak. Mau juga bikin cabang, tapi kita masih pertimbangkan dulu,” tutup Wendi.
Bangunan setengah beton dan setengah kayu ditempati para pelanggannya untuk makan. Di depannya terdapat gerobak bakso yang digunakan untuk meracik seporsi bakso.
Saat penulis mencoba mewawancarai Wendi, dirinya mengaku bahwa saat ini memang tempat jualannya cukup dikenal masyarakat, khususnya di wilayah sekitar. Padahal dulunya ia mengatakan, saat mendirikan usaha ini, tak pernah punya gambaran akan selaku ini.
Sepupunya yang bernama Ferry lebih dulu ada di Makassar. Berjualan somay keliling, menawarkan somaynya di wilayah Parangtambung. Sepupunya ini pulalah yang mengajak Wandi untuk mencoba membuat usaha yang lebih matang di Makassar, yaitu membuka warung bakso.
Mulailah pada 2015, warung bakso ini buka dengan diberi nama Warung Bakso Mas Ferry.
“Tadinya sasarannya orang-orang dekat sini saja yang beli. Tapi lama-lama banyak yang datang. Mungkin ada orang ndak sengaja lewat sini, dilihatnya ramai, singgah dan suka,” kata Wendi.
Warung bakso ini memang tidak mengandalkan lokasinya sebagai tempat menarik pelanggan. Namun yang sangat diandalkan dari Wendi adalah cita rasa bakso yang disuguhkan.
Saat BKM mencoba mencicipinya, rasanya memang nikmat. Kuahnya begitu kental dengan rasa rempah-rempah yang khas. Baksonya juga terasa padat, gurih, dan sangat berasa di lidah.
“Racikan dan bumbunya yang membedakan memang. Kita punya resep khusus lah,” ucap Wendi.
Cita rasa baksonya juga tidak diragukan lagi. Bahkan bakso yang dibuat Wendi bersama sepupunya juga menjadi acuan buat penjual bakso lain. Beberapa penjual bakso di Makassar maupun di bwberapa daerah, bahkan telah berlangganan memesan baksonya di sini.
“Ada yang pesan bakso dari penjual bakso di sini, di Makassar. Beberapa juga dari daerah yang pesan. Ada dari Jeneponto, ada dari Soppeng. Ya Alhamdulillah lah,” sebut Wendi sembari membungkus beberapa kecap dan saos.(b)

Exit mobile version