BONE, BKM — Panitia Ekspo dan Kontes Ternak 2019 di Kabupaten Bone juga menggelar lelang ternak di kawasan Terminal Petta Ponggawae, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Watampone, Bone, Rabu (27/3/2019). Kegiatan lelang ternak ini adalah pertama kali diadakan di Sulawesi Selatan.
Dinas Peternakan Pemkab Bone menyelenggarakan lelang ternak ini agar peternak memperoleh akses informasi pasar dari pelaku usaha. Dengan begitu akan memperoleh kepastian usaha.
Saat lelang, harga jual ditentukan oleh peternak berdasarkan berat badan sapi setelah ditimbang. Semakin berat badan sapi harga jualnya makin mahal.
Pada lelang ternak ini, sapi milik Andi Baso, salah satu pedagang ternak sapi antar pulau asal Desa Masago, Kecamatan Patimpeng ditawar Rp65 juta. Ia mengaku sangat senang dengan acara ini.
“Dengan lelang ternak ini, harapan untuk mendapatkan keuntungan dari beternak sapi bisa lebih besar, dibanding selama ini dengan pola taksiran bobot hidup,” ungkapnya.
Dari pantauan, sebanyak 57 ekor sapi dewasa dan anak sapi ditampilkan oleh peternak untuk dilelang. Banyak pedagang ternak yang menyatakan minatnya dan memberikan harga yang menarik. Bahkan peternak lainnya pun ikut pula melakukan transaksi lelang karena proses lelang dilakukan terbuka untuk umum.
Informasi dari panitia, lelang ternak tersebut menghasilkan nilai transaksi Rp 329 juta. Dan transaksi ini pun nilainya belum termasuk transaksi di luar pelelangan ternak antara masyarakat dan peternak sapi di lokasi kandang kontingen kontes masing-masing kecamatan.
Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Bone, drh. H. Aris Handono sangat mengapresiasi dan mendukung inisiatif panitia Ekspo dan Kontes Ternak menyelenggarakan pelelangan ternak sapi. Apalagi sapi yang ditampilkan merupakan sapi andalan yang juga ikut dalam kontes ternak.
“Ternak sapi yang dilelang ini tentu saja merupakan bentuk apresiasi terhadap usaha peternak dalam budidaya sapi, mekanisme ini memang terbilang baru, tapi dengan lelang ini selain menjamin “supply and demand” juga menjamin kualitas ternak sapi yang akan dipelihara (penggemukan) maupun diperdagangkan,” terang Aris. (rls)
