Site icon Berita Kota Makassar

”Tak Mungkin Istri Saya Dibunuh karena Emosi”

GOWA, BKM — Teka-teki tentang motif pasti tersangka Wahyu Jayadi menghabisi nyawa Siti Zulaeha Jafar, masih terus berlanjut. Jika hanya karena emosi sesaat sehingga Wahyu sampai tega membunuh aparatur sipil negara (ASN) Universitas Negeri Makassar (UNM), masih sulit diterima akal sehat.
Hal itu diyakini Sukri Tenri Gau, suami almarhumah Zulaeha. Penyidik Polres Gowa meminta keterangan dari pejabat Dinas Kehutanan Sulsel yang ditugaskan di Barru ini, Rabu (27/3). Ia menjalani pemeriksaan selama 3,5 jam. Dari pukul 11.00-14.30 Wita di ruang Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim).
”Saya tidak yakin kalau motifnya hanya karena emosi sesaat. Pasti ada hal-hal lain. Saya bahkan menilai ini terencana. Kalau sekadar emosi sesaat, kenapa setega itu dia menghabisi istri saya dengan cara begitu,” terang Sukri kepada wartawan setelah keluar dari ruang penyidik.
Menurutnya, keluarga besarnya sangat tidak menerima meskipun tersangka sudah meminta maaf. Apalagi permintaan maaf itu tidak didengarnya secara langsung.
”Secara manusiawi kami sangat tidak terima. Tapi saya serahkan sepenuhnya kepada polisi untuk menguak apa motif sebenarnya. Mungkin hanya dengan proses peradilan yang bisa mengurangi sedikit beban keluarga kami,” terang Sukri yang telah membina keluarga bersama almarhumah Zulaeha sejak tahun 2005.
Kepada media, Sukri meminta agar menuangkan fakta yang akurat, dengan tidak merekayasa hal-hal yang tidak sesuai. Salah satu yang menjadi sorotan Sukri adalah soal isi pemberitaan sejumlah media yang mengklaim ada hubungan asmara dan utang piutang antara istrinya dengan tersangka.
“Itu tidak benar. Itu bohong. Saya tahu siapa istri saya. Dia itu orang yang paling tegas dan keras. Jika tidak sesuai dengan kata hatinya, maka akan ditentangnya. Contohnya adiknya nikah dan dia tidak setuju, maka sampai adiknya selesai nikah dan pesta, dia tidak muncul-muncul,” bebernya, yang datang ke Mapolres Gowa dengan mengenakan baju kaus warna biru berkerah. .
Selain itu, antara Sukri dan sang istri tak ada konflik apapun. ‘”Selama kami menikah, kami tidak pernah konflik. Seluarga saya akur. Orang tahu keluarga kami harmonis,” jelas Sukri.
Dijelaskan pula bahwa antara istrinya dengan tersangka tidak ada hubungan darah, meski Wahyu Jayadi telah menyampaikan pengakuan bahwa dia ada hubungan keluarga dengan Zulaeha. Termasuk pengakuan tersangka, bahwa ibu korban pernah menitipkan Zulaeha untuk dijaga dengan dalih karena keluarga. ”Itu bohong besar,” cetusnya.
”Bagaimana bisa dikatakan benar, kalau istri saya baru masuk kerja di UNM tahun 2015. Istri saya baru kenal dengan pelaku saat bekerja di Phinisi. Ada sih curhat-curhat istri saya tentang pelaku selama mereka bekerja di UNM, tapi bukan karena ada hubungan spesial. Itu tidak bisa saya sampaikan di sini, karena masuk dalam ranah penyidikan polisi,” ungkap bapak tiga anak ini.
Sukri pun meminta pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus kematian istrinya, yang menurutnya sangat tidak bisa diterima nalar. Kesadisan tersangka pada Zulaeha sangat keterlaluan.
“Tersangka itu beladdirinya Dan 3. Sekali pukul saja bisa menghilangkan nyawa orang lain. Seperti yang dilakukannya terhadap istri saya,” tandas Sukri.

Empat Orang Diperiksa

Usai memeriksa Sukri, Kasat Reskrim Polres Gowa Iptu Muh Rivai didampingi Kasubag Humas AKBP Mangatas Tambunan, memberikan keterangan kepada wartawan. Menurut Rivai, penyidik telah mengambil keterangan saksi pelapor dan saksi lain yang pertama kali menemukan jenazah korban. Termasuk suami korban, Sukri.
Menurut Rivai, pemeriksaan Sukri dimaksudkan untuk mendalami hubungan korban dengan pelaku. Juga hubungan antara korban dengan suaminya.
“Kita sudah periksa empat orang. Satu adalah saksi pelapor dari keluarga. Kedua, saksi yang pertama kali menemukan korban.
Ketiga adalah WJ, yang semula jadi saksi tapi sekarang ditetapkan tersangka,” terang Muh Rivai.
Rencananya, lanjut Rivai, hari ini Kamis (28/3), penyidik kembali akan memeriksa lagi dua orang saksi. Mereka berasal dari kampus UNM. Satu merupakan rekan sekantor korban. Satunya lagi atasan langsung korban.
”Kita mau tahu tentang sejauhmana aktivitas korban di kantornya. Juga mengenai hubungan korban dengan tersangka yang juga sekantor. Jadi kita akan terus kembangkan kasus ini,” jelas Iptu Muh Rivai.
Terkait fakta baru dari pemeriksaan tiga saksi dan tersangka, menurut Kapolres Gowa AKBP Shinto Silitonga kepada BKM, penyidik terus bekerja.
“Kami terus mendalami bagaimana karakter korban. Hubungannya dengan pelaku, dan informasi penting lainnya yang perlu diketahui oleh penyidik. Sekarang kita hadirkan suami korban. Memang baru dihadirkan suaminya, karena sebelumnya masih dalam kedukaan,” jelas AKBP Shinto.
Disinggung soal bakal adanya fakta dari hasil percakapan korban dengan pelaku di gawai korban atau pun gawai pelaku, Kapolres Shinto menyebut hal itu sifatnya teknis. Akan dibuka hanya di depan persidangan nantinya.
”Jadi ada hal-hal yang memang tidak bisa kita ungkap, kecuali hanya melalui persidangan. Di sini kita punya data teknis, yaitu CdR (Call data Record). Itu data teknis sehingga tidak bisa kami sampaikan ke publik,” tandas Kapolres. (sar/rus)

Exit mobile version