MAKASSAR, BKM — Hari pertama Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) untuk tingkat SMA/sederajat berlangsung, Senin (1/4). Sebanyak 76.230 siswa dari 580 SMA negeri dan swasta di Sulsel mengikutinya.
Secara khusus dan untuk pertama kalinya di Sulsel, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy melakukan pemantauan langsung pelaksanaan UNBK di daerah ini.
Didampingi Direktur Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen Dikdasmen) Hamid Muhammad, Direktur Pembinaan SMA Purwadi Sutanto, dan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Sulsel Irman Yasin Limpo, Mendikbud datang ke SMAN 21 Makassar saat pelaksanaan sesi 1 UNBK.
Setelah itu, Mendikbud melakukan video conference (VC) dengan beberapa kepala daerah dan kepala sekolah SMA di kantor Disdik Sulsel. Kemudian kembali melakukan peninjauan di SMAN 1 Makassar bersama Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah.
Dipandu Kadisdik Sulsel Irman Yasin Limpo, Mendikbud Muhadjir Effendy melakukan video conference dengan sejumlah sekolah yang menyelenggarakan UNBK. Di antaranya SMAN 1 Wajo, SMAN 1 Tana Toraja, SMAN 9 Takalar, SMAN 3 Bulukumba, SMAN 3 Wajo, dan beberapa sekolah lainnya.
Dari hasil komunikasi dengan sejumlah sekolah, rerata yang mereka keluhkan adalah kekurangan perangkat komputer. Untuk menyiasati hal itu, sekolah meminjam laptop atau komputer ke sekolah lain atau peserta didik dan guru.
Mendikbud juga sedianya melakukan video conference dengan salah satu sekolah di remote area, yakni Seko, Luwu Utara. Namun karena persoalan jaringan, video conference itu batal dilaksanakan.
Usai melakukan video conference, Muhadjir mengatakan secara umum pelaksanaan UNBK tingkat SMA di Sulsel berjalan baik. Bahkan Sulsel bisa menjadi percontohan daerah, lain karena semua SMA baik negeri maupun swasta melakukan UN berbasis komputer.
“Hasil pemantauan saya, baik peninjauan langsung maupun VC, Alhamdulillah hari pertama pelaksanaan UNBK berjalan baik. Waktu tepat, server yang dioperasikan berjalan baik dan tak ada gangguan. Semoga yang berlangsung di Sulsel juga terjadi di daerah lainnya,” katanya.
Soal evaluasi, Muhadjir menyebutkan hampir semua sekolah masih kekurangan komputer. Ini bisa dilihat dari pelaksanaan UNBK yang dilakukan tiga sesi dan beberapa sekolah masih melakukan peminjaman komputer atau laptop ke sekolah lainnya, siswa atau guru.
Dirinya berjanji akan membahas pemenuhan komputer ini dengan pemerintah daerah. Kemendikbud sendiri setiap tahun mengeluarkan anggaran dari APBN, baik dalam bentuk Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik dan bantuan pusat langsung.
Untuk pemerintah daerah, dirinya berharap pemprov menggunakan ABPD untuk pengadaan komputer. Tak hanya itu, pemenuhan komputer dapat dilakukan melalui swadaya sekolah dengan melibatkan komite sekolah.
“Termasuk memanfaatkan bantuan dari alumni yang sudah berhasil, tetapi lewat jalur komite sesuai aturan Permendikbud 75 tahun 2016. Di mana bantuan untuk sekolah yang berasal dari masyarakat, perusahaan dan alumni itu dibolehkan,” jelasnya.
Dirjen Dikdasmen Kemendikbud Hamid Muhammad, menambahkan selain pemenuhan komputer, pihaknya juga akan mendukung sarana internet. Terkait hal ini, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).
“Sekolah di daerah yang tidak ada internet itu yang diprioritaskan terutama 3T. Tahun lalu ada 17 ribu sekolah, sekarang sudah mulai berkurang dengan program interniassi kecamatan. Daerah yang tidak terjangkau, sekolah bisa sewa sendiri dengan menggunakan provider swasta,” tambahnya.
Di depan Mendikbud, Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah berjanji UNBK tahun 2020 sudah tak ada lagi sekolah yang meminjam komputer atau laptop. Untuk itu dirinya akan bekerja sama dengan Kemendibud melakukan pemenuhan komputer.
“Ini menjadi kendala kita, karena belum mencukupi. Tahun depan tidak boleh lagi jadi polemik. UNBK berikutnya tak ada lagi peminjaman. Kita join program. Tahun depan kita akan lengkapi ini semua. Termasuk mendesain semua sekolah berstandar,” tandasnya.
Kepala Dinas Pendidikan Sulsel Irman Yasin Limpo menyebutkan, dari hasil pendataan SMA dan SMA se-Sulsel, masih dibutuhkan 12 ribu unit komputer. Tahun lalu, pihaknya telah mengadakan masing-masing 20 unit komputer untuk 325 sekolah.
Soal pelaksanaan UNBK tahun ini, menurut None -panggilan akrab Irman Yasin Limpo- jauh lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Kendala jaringan yang sering down atau bermasalah hampir sudah tak terjadi lagi. Bahkan beberapa daerah remote area sudah melaksanakan UNBK secara mandiri.
Di Sulsel sendiri sebanyak 76.230 siswa dari 580 SMA negeri dan swasta mengikuti UNBK. UNBK SMA sederajat dilaksanakan selama empat hari, yakni 1, 2, 4, dan 8 April.
Ketat
Kepala SMA Negeri 5 Makassar Atman Amir, mengklaim pelaksanaan UNBK di sekolahnya berlangsung lancar. Sama sekali tidak ada kendala teknis dalam penerapan perangkat komputer, jaringan, hingga materi ujian.
“Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar sampai sesi ketiga. Apa yang selama ini dikhawatirkan soal kendala teknis, tidak terjadi,” ujar Atman Amir, kemarin.
Jauh sebelum pelaksanaan UNBK ini berlangsung, pihaknya telah melakukan upaya persiapan yang sangat maksimal. Kekhawatiran terkait kendala yang bisa saja terjadi, seperti error pada perangkat komputer hingga listrik padam, sejauh ini tidak terjadi sama sekali.
“Kita sudah persiapkan secara keseluruhan soal itu. Saya tegaskan sama sekali tidak ada kendala. Bahkan untuk pelaksanaan ini, sampai beberapa hari ke depan kita sudah pastikan semuanya aman,” jelasnya.
Dari pantauan BKM, peserta ujian di SMA Negeri 5 Makassar, sebelum memasuki ruangan mereka diperiksa terlebih dahulu. Tidak diperbolehkan membawa masuk tas, kertas, serta gawai.
Siswa yang mengikuti UNBK sebanyak 529 orang. Mereka menggunakan sembilan ruangan ujian dengan pembagian tiga sesi. Sesi pertama pukul 07.30-09.30 Wita. Sesi kedua pukul 10.30-12.30 Wita. Sesi ketika 14.00-16.00 Wita.
Diakui Atman Amir, untuk pelaksanaan UNBK tahun ini, cukup berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebagian besar siswa peserta ujian langsung memahami kondisi pelaksanaan ujian dengan baik. Apalagi, persiapan sarana dan prasarana yang telah cukup memadai.
“SDM pengawas, laptop, hingga server semua bagus. Ada empat orang operator untuk teknisi. Pengawas kami silang penuh dari SMA Negeri 9 dan SMA Negeri 12. Laptop dari orang tua siswa 180 unit, inventaris 40 unit. Semua laptop tetap diseleksi mana yang layak, mana yang tidak layak untuk digunakan,” terangnya. (rhm-jun/rus)
