PASANGKAYU, BKM — Pengembangan tanaman kelapa sawit telah mampu membawa perubahan kehidupan bagi banyak orang. Salah satu di antaranya adalah I Ketut Pupul dan keluarganya.
I Ketut Pupul adalah warga Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Pada tahun 1980, Pupul melakukan hijrah dengan cara transmigrasi mandiri dari daerah asalnya di Bali ke Pasangkayu yang saat itu masih berstatus kecamatan di Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Selatan (sekarang telah berubah menjadi Kabupaten Pasangkayu, Provinsi Sulawesi Barat).
Saat ditemui beberapa wartawan termasuk wartawan Berita Kota Makassar yang ikut dalam rombongan tur PT Astra Agro Lestari Tbk, Pupul yang didampingi putranya I Wayan, menuturkan, kehidupan saat pertama kali datang ke Pasangkayu sangat berat.
Tidak saja kehidupan yang dirasakan berat oleh Pupul dan keluarganya. Tapi juga sarana transportasi untuk menuju ke Pasangkayu ini, juga dirasakan sulit.
”Ketika saya dan keluarga berdiam di Pasangkayu, untuk bisa menyambung hidup, saya menanam kacang tanah, kedelai, dan jagung. Untuk bisa mendapatkan beras yang kami beli saat itu, kami harus berhari-hari memikul beras baru bisa sampai di rumah,” tutur I Ketut Pupul di kediamannya, Desa Marta Sari, Kecamatan Pedongga, Kabupaten Pasangkayu.
Pupul menuturkan, sebelum mengenal namanya tanaman kelapa sawit, dirinya menanam tanaman kakao alias coklat. Namun, tanaman itu tidak lama dikembangkan. Karena prosesnya tidak bisa menjanjikan terhadap kehidupan ekonomi keluarganya. Pasalnya, kakao ini sangat rewel. Karena banyak masalah yang menghambat pada tanaman tersebut. Yakni serangan hama dan beberapa macam penyakit lainnya.
”Pada tahun 2005, kami mulai meninggalkan tanaman kakao dan beralih ke tanaman kelapa sawit. Saat itu, kami menanam kelapa sawit di atas lahan seluas dua hektare. Setelah berjalan beberapa tahun, tanaman sawit kami terus berkembang. Bahkan, areal untuk menanam kelapa sawit bukan lagi dua hektare. Tapi telah berkembang menjadi delapan hektare. Tanaman kelapa sawit ini betul-betul telah mampu mengubah kehidupan dan perekonomian keluarga kami,” tutur Pupul dengan penuh semangat.
Minimnya masalah yang dihadapi dalam pengembangan tanaman kelapa sawit ini, aku Pupul, membuatnya makin bersemangat untuk terus mengembangkan tanaman ini. Apalagi setelah kehadiran PT Astra Agro Lestari Tbk, perusahaan yang khusus bergerak dibidang kelapa sawit.
”Tanaman kelapa sawit ini betul-betul telah mampu mengubah kehidupan ekonomi dan kesejahteraan keluarga kami. Hadirnya PT Astra Agro Lestari di Kabupaten Pasangkayu, telah meningkatkan kesejahteraan kami para petani kelapa sawit di daerah ini. Kami yang dulu mengalami kesulitan ekonomi, sekarang sudah jauh berubah,” ujar Pupul.
I Ketut Pupul pun menyampaikan rasa terimakasihnya kepada perusahaan PT Astra Agro Lestari karena telah menjalin kerjasama dengan para petani sawit di Desa Marta Sari khususnya. Karena setelah adanya kerjasama tersebut, penanaman tanaman kelapa sawit ini semakin berkembang dan para petaninya pun makin bergairah menanam kelapa sawit.
”Sejak mengelola tanaman kelapa sawit pada tahun 2005 dan eksisnya kami rasakan ditahun 2010, kami sudah merasakan perubahan total pada kehidupan ekonomi kami. Kami sudah tidak ada lagi keraguan meminjam dana di perbankan. Karena kami sudah memiliki penghasilan yang menentu setiap bulannya. Yakni hasil dari buah sawit tersebut. Dana yang kami pinjam dari bank digunakan untuk membeli areal untuk penambahan lahan sawit serta truk yang kami gunakan untuk mengangkut hasil buah kelapa sawit itu,” tuturnya.
Dari hasil pengembangan tanaman kelapa sawit ini, aku Pupul, untuk pulang ke kampung halamannya tidak perlu lagi harus menempuh perjalanan selama beberapa hari. Tapi sekarang, hanya dalam tempo sehari, dia sudah bisa berangkat dari Pasangkayu, Provinsi Sulbar ke Badung, Provinsi Bali.
”Pokoknya, pengembangan tanaman kelapa sawit ini tidak hanya membawa kesejahteraan kepada kami para petani kelapa sawit. Tapi desa kami, Desa Marta Sari, ikut pula mengalami perubahan besar. Sarana jalan sudah sangat baik sehingga ikut memperlancara jalur transportasi masyarakat Desa Marta Sari,” kunci I Ketut Pupul bersama putranya, I Wayang. (ala/mir/c)
Sawit Ubah Kehidupan I Ketut Pupul dan Keluarga
