Site icon Berita Kota Makassar

Budaya Baru yang Teroganisir

BUDAYA minta-minta menggambarkan betapa buruknya mentalitas anak-anak penerus bangsa. Hal itu disebabkan oleh pola pikir mereka yang instan. Mendapatkan uang dengan cepat namun dengan cara yang tak seharusnya.
Pandangan itu disampaikan Guru Besar Sosiolog Universitas Bosowa Prof Dr Husain Hamka. Menurutnya, persoalan gepeng dan anjal di Makassar bukan hanya disebabkan faktor ekonomi. Melainkan, di satu sisi jiwa dan pola pikir mereka telah tertanam istilah yang disebut dengan budaya minta-minta.
“Kita harus lihat secara multisisi ini masyarakat gepeng dan anjal. Karena bukan hanya ekonomi. Tapi ini sudah termasuk penyakit. Pola pikir mereka sekarang tertanam kalau minta-minta saja bisa dapat uang, lalu mengapa harus berkerja. Nah, pola pikir ini yang sudah terbentuk dalam diri mereka. Dan itu bisa menular ke teman-teman dan anak-anak yang lain,” terang Prof Husain, Jumat (5/4).
Bahkan lebih parahnya, Prof Husain melihat adanya faktor lain yang berkaitan dengan nilai-nilai kebudayaan baru. Dalam artian, meminta-minta yang dilakukan oleh para gepeng dan anjal ini sudah berterima di tengah masyarakat. Sehingga perlu ada tindakan sesegera mungkin yang dilakukan pemerintah, untuk berperan serta dalam mengelola anak-anak jalanan.
“Saya melihatnya ini sudah menjadi budaya baru dan terorganisir oleh oknum-oknum tertentu yang memanfaatkannya. Untuk menghilangkan budaya ini memang tidak gampang. Makanya, harus ada langkah sedini mungkin yang perlu dilakukan pemerintah. Karena saya lihat ini, mereka mau bekerja dan mencari uang demi kebutuhan hidupnya,” jelasnya.
Guru Besar Antropologi Unhas Prof Dr Hamka Naping, mengatakan banyaknya gepeng dan anjal yang berkeliaran karena tidak adanya bimbingan mental yang dilakukan pemerintah secara intensif kepada mereka selama ini. Sehingga, banyak anak-anak saat ini dalam posisi salah didikan dan pengasuhan.
“Seharusnya mereka diberikan penyadaran serta pencerahan dalam terapi kelompok. Karena mereka memutuskan menjadi anjal dan gepeng itu dalam pola hasutan dan didikan yang salah. Jiwa seperti itu sudah tertanam dalam pikiran mereka, bagaimana mengumpulkan rupiah dengan cara meminta-minta,” tuturnya.
Menurutnya, gepeng dan anjal pada dasarnya sehat secara mental. Mereka turun ke jalan dengan motif berbeda-beda. Termasuk tuntutan yang ada di lingkungan sekitarnya.
“Banyak dari mereka menjadi pengemis dan anak jalanan karena keterpaksan. Ada yang memang tidak mempunyai keluarga. Ada yang memang asli berprofesi sebagai pengemis. Ada juga yang terpaksa karena tuntutan hidup di kota yang sangat keras dan serba sulit ini,”tandasnya. (ita/rus)

Exit mobile version