MAKASSAR, BKM — Tak terasa, hampir lima tahun sudah kepemimpinan duet Mohammad Ramdhan Pomanto dan Syamsu Rizal MI di Makassar. Menjabat sebagai wali kota dan wakil wali kota di salah satu kota metropolitan Indonesia, tentu bukanlah perkara mudah.
Di akhir masa jabatan keduanya yang tinggal menghitung hari, ada banyak yang menjadi pembahasan di tengah masyarakat. Intinya, apakah mereka berhasil atau tidak dalam memimpin dan membangun kota ini.
Keberhasilan seorang pemimpin daerah tentu dinilai oleh masyarakatnya. Baik di bidang sosial, ekonomi, kemasyarakatan, hingga internal struktur pemerintahan. Namun satu yang pasti bisa diukur dari pasangan yang dikenal dengan singkatan DIA (Danny-Ical) ini, adalah jumlah penghargaan yang telah diperoleh.
Selama masa pemerintahannya dari 2014 hingga kini, tercatat telah ada ratusan penghargaan yang dipersembahkan. Bahkan ada lagi satu penghargaan yang baru akan didapatkannya pada 25 April nanti.
Ini tentu bukan prestasi main-main. Kota sebesar Makassar dengan permasalahannya yang begitu kompleks, mereka mampu buktikan dengan torehan prestasi melalui kerja keras.
Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto atau yang biasa disapa Danny, mengungkapkan bahwa penghargaan ini baginya adalah sebagian dari apresiasi orang lain. Baik dari pemerintah pusat, luar negeri, maupun beberapa lembaga. Memberikan sebuah simbol kepada pemerintahan yang dipimpinnya.
Danny ternyata tak pernah mengukur pencapaiannya dari sebuah penghargaan. Karena menurutnya, berbuat hal-hal terbaik untuk kota ini sudah menjadi kebanggaannya. Sehingga kepuasan pun urung ia rasakan, karena masih banyak pekerjaan rumah (PR) baginya untuk masyarakat.
“Saya kira kita tak pernah harus puas dengan itu. Karena sudah bagian dari apa yang kita buat adalah hal-hal yang terbaik untuk kota ini. Kalaupun kita dapat penghargaan, Alhamdulilah. Kalau tidak, ya tidak apa. Yang penting jangan pernah berhenti,” katanya.
Baginya, penghargaan masyarakat terhadap kepuasan kerja pemerintahannya adalah yang paling ia banggakan. Masyarakat bisa puas dengan kinerjanya, itulah kepuasan yang paling besar dirasakan oleh Danny.
“Saya kan cita-citaku sederhana. Bukan menjadi wali kota. Tapi disayang banyak orang. Mati masuk surga. Itu saja. Tapi kalau disayang banyak orang, terus jadi wali kota, itu urusan lain,” tambahnya.
Danny mengakui bahwa masih banyak kekurangan yang harus ia bisa benahi. Bahkan, ia menyebut jika kekurangannya bahkan lebih banyak dari penghargaan yang telah didapatkan.
“Kekurangan waktu adalah yang paling utama. Kita tidak cukup waktu untuk mengelola kota ini. Kemudian kekurangan profesionalisme yang menuntut kota ini menjadi lebih cepat, serta kekurangan konsistensi,” jelasnya.
Dalam rentang waktu lima tahun terakhir, Kota Makassar telah mendapatkan ratusan penghargaan. Rinciannya, di tahun 2014 sebanyak 5 penghargaan. 2015 berjumlah 21 penghargaan. 2016 sebanyak 50 penghargaan. 2017 bertambah sebanyak 58 penghargaan. 2018 diperoleh 44 penghargaan. 2019 ada 3 penghargaan. Dan tanggal 25 April mendatang ada penghargaan LPPD dan tiga penghargaan lainnya.
Sementara Wakil Wali Kota Makassar, Syamsu Rizal MI atau yang biasa disapa Daeng Ical mengatakan, realisasi program DIA tahun 2018 lalu telah mencapai 64 persen. Untuk tahun ini, ia menyebtu telah mencapai kurang lebih mencapai 75 hingga 80 persen.
Namun baginya, ada banyak sekali yang perlu dilanjutkan di pemerintahannya. Antara lain menindklanjuti hasil rakorsus yang merupakan penjabaran hasil RPJMD yang harus dituntaskan.
Secara teknis semisal penyelesaian lampu lorong, perencanaan tahun pariwisata 2019 yang salah satunya pengelolaan kawasan spermonde, peresmian kantor PTSP, hingga memastikan kawasan 100-0-100 utk jalan program kotaku. Termasuk 100 sanitasi, 0 kumuh, 100 akses air bersih.
“Kita harapkan Bappeda menyelesaikan program-program yang sifatnya tinggal finishingnya. Secara umum kita sifatnya finishing terhadap beberapa program yang kita anggap strategis, dan sesuai dengan RPJMD nya kita untuk bisa dipastikan,” kata Daeng Ical.
Dari segi sosial masyarakat, aktivasi dan reinforcement auditor sosial, dikatakan Daeng Ical harus dimaksimalkan. Karena baginya, itu menjadi pintu komunikasi yang baik antara masyarakat dengan pemerintah.
Beberapa yang perlu dipertahankan dari pemerintahannya saat ini, seperti aktivasi dari kelompok sosial yang lain, yang selama ini telah berkontribusi aktif.
“Auditor sosial, PPKB PPKBD penyuluh keluarga berencana daerah, hingga aktivasi forum LPM perlu dipertahankan. Karena hal ini juga yang menjadi penyeimbang pemerintahan selama ini,” jelasnya. (nug/rus/b)
