Site icon Berita Kota Makassar

10 Ketua Parpol di Ujung Tanduk

MAKASSAR, BKM — Pemilu legislatif (pileg) yang berlangsung 17 April lalu membuat ribuan politisi keteteran karena tidak terpilih. Tercatat sedikitnya ada 10 ketua partai di tingkat Provinsi Sulsel yang kini berada di ujung tanduk.
Mereka terancam tak lolos untuk duduk di kursi parlemen. Karena meraih suara di bawah caleg lain, baik untuk tingkat Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI maupun DPRD Sulsel.
Sebagai contoh Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Sulsel Ni’matulla Erbe. Ia menjadi caleg DPRD Sulsel dari daerah pemilihan (dapil) Sulsel 6 meliputi Kabupaten Maros, Pangkep, Barru, dan Parepare. Data sementara hasil rekap PPK menempatkan perolehan suara Ni’matulla di bawah Akbar Endra.
Saat dihubungi, politikus yang akrab disapa Ulla ini mengaku masih menunggu hasil resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulsel. ”Kita tunggu rekap dari KPU,” ujarnya singkat, kemarin.
Demikian pula dengan Ketua DPD Partai Gerindra Sulsel Andi Idris Manggabarani (IMB), yang menjadi caleg DPR RI dari dapil Sulsel I meliputi Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng dan Selayar. Data sementara yang dikumpulkan koran ini, suara IMB berada di bawah petahana Azikin Solthan.
Hal yang sama dialami Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sulsel HM Aras. Ia maju ke DPR RI lewat dapil Sulsel II, meliputi Kabupaten Bulukumba, Sinjai, Bone, Soppeng, Wajo, Parepare, Barru, Pangkep, dan Maros. Berdasarkan data sementara yang masuk, HM Aras kalah dari Andi Yuslim Patawari dan H Askar HL.
Begitu juga dengan Ketua DPD Hanura Sulsel Andi Ilhamsah Mattalatta yang maju di DPR RI lewat Dapil Sulsel II. Andi Ile –sapaan akrab Andi Ilhamsyah– gagal, lantaran partainya tidak lolos dalam perolehan ambang batas parlemen sebesar 4 persen.
Berikutnya adalah Ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) H Azhar Arsyad. Azhar menjadi caleg DPRD Sulsel lewat Dapil 9 meliputi Kabupaten Sidrap, Pinrang, dan Enrekang. Ia mendapat suara yang tidak begitu tinggi dibandingkan perolehan suara dari Golkar, Nasdem, Gerindra, Demokrat, dan PAN.
Hal sama juga dialami Ketua DPW Partai Bulan Bintang (PBB) Badaruddin P Sabang yang juga maju di dapil Sulsel 9. Perolehan sementara untuk PBB juga masih di bawah lima partai besar, seperti Golkar, Gerindra, Nasdem, Demokrat, dan PAN.
Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) Suzanna Kaharuddin juga hanya meraih suara yang kurang tinggi. Maju ke DPRD Sulsel lewat dapil Sulsel 3 meliputi Kabupaten Gowa dan Takalar, membuat Suzanna Kaharuddin tinggal mengincar kursi papan bawah, di bawah Gerindra, Golkar, Demokrat, PPP, Nasdem, Perindo, PAN, dan PKB. Ketua DPD Partai Perindo Sulsel Sanusi Ramadan yang maju ke DPRD Sulsel lewat Dapil Sulsel 2 juga masih tetap optimistis. Meski hasil rekap sementara Perindo meraih suara yang tidak begitu besar, namun yang menentukan adalah rekap suara di KPU Sulsel.
Menurut Sanusi, yang menang atau gagal belum bisa ditentukan karena belum ada hasil rekap PPK secara keseluruhan. “Yang pastinya sesuai data C1, Perindo berpeluang dapat 1 kursi di Makassar B,” ujar Sanusi yakin.
Ketua DPW Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Sulsel Muh Fadli Noor juga belum mau buang handuk. Caleg yang maju ke DPRD Sulsel lewat dapil Sulsel 1 ini menegaskan, pihaknya belum bisa memprediksi karena masih dilakukan penghitungan di PPK. “Kalau sekarang belum bisa diprediksi,” kilahnya.
Yang terakhir adalah Ketua DPW Partai Berkarya Sulsel Muhammad Ilham Abdullah. Caleg yang maju ke DPRD Sulsel lewat dapil Sulsel 1 ini, akumulasi suara partainya berada di peringkat ke 11 atau 12.
Pengamat politik dari UIN Alauddin Dr Firdaus Muhammad, menilai jika ketua parpol belum memiliki nilai jual untuk memenangkan pileg. “Mungkin karena ketokohan dan kerja politiknya yang tidak maksimal,” ujarnya, kemarin.
Sementara dekan Fakultas Ilmu sosial dan Politik Unibos Dr Arief Wicaksono mengaku kaget dengan fakta tersebut. Menurutnya, kalau hal itu benar terjadi, berarti ada beberapa kemungkinan.
Pertama, memang konsentrasi ketua parpol tidak pada pencalegan dirinya, melainkan kader-kadernya. “Artinya, memang para ketua parpol tersebut tidak serius maju sebagai caleg. Kedua, para ketua parpol mungkin sedang menunggu perolehan suara partai secara akumulatif. Karena ketua partai punya kewenangan menentukan siapa yang duduk di kursi yang tersedia,” jelasnya.
Namun, lanjutnya, bila sama sekali tidak dapat kursi atau tidak lolos ke parlemen, berarti ada yang salah dalam sistem rekrutmen caleg di partainya. Karena menjadi caleg adalah satu cara untuk merebut kekuasaan. (rif)

Exit mobile version