Site icon Berita Kota Makassar

Barisan para Mantan tak Beruntung

MAKASSAR, BKM — Tidak semua mantan kepala daerah mampu meraih simpati masyarakat di kontestasi pemilu legislatif (pileg) kali ini. Mereka yang pernah menjadi bupati, wali kota, ataupun wakil bupati tak beruntung untuk bisa mengulang kesuksesan.
Meski ketika pemilihan kepala daerah pernah meraih seratusan ribu suara hingga akhirnya ditetapkan menjadi bupati dan wakil bupati, namun di pileg yang dihelat 17 April 2019 lalu, mereka tidak bisa dengan mudah mendapat suara dari pemilih.
Dari catatan BKM, sedikitnya ada 16 mantan bupati, wabup, serta mantan wali kota yang ikut bertarung di pileg kemarin. Seperti mantan Wakil Bupati Takalar HM Natsir Ibrahim. Natsir mengincar kursi DPRD Sulsel lewat PDIP melalui daerah pemilihan (dapil) Sulsel 3, meliputi Kabupaten Gowa dan Takalar.
Politisi yang akrab disapa Nojeng ini akan berebut kursi kesembilan setelah Golkar, Gerindra, Demokrat, PPP, Nasdem, Perindo, PKB, dan PAN.
Kedua adalah mantan Wakil Bupati Jeneponto Mulyadi Mustamu Karaeng Tinggi. Mulyadi maju dengan mengendarai Partai Demokrat melalui dapil Sulsel 4, mencakup Kabupaten Jeneponto, Bantaeng, dan Selayar. Data sementara perolehan suara Mulyadi mengungguli Syaiful Arif dari Selayar.
Sementara mantan Wakil Bupati Bantaeng Muhammad Yasin juga maju ke DPRD Sulsel dari Partai Amanat Nasional. Yasin bertarung di dapil Sulsel 4. Data sementara perolehan suaranya tertinggal dari petahana Syamsuddin Karlos.
Mantan Bupati dan Wakil Bupati Selayar Syahrir Wahab dan Saiful Arif juga maju ke DPRD Sulsel lewat dapil Sulsel 4. Hanya saja, Syahrir Wahab mengendarai Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sementara Saiful Arif Partai Demokrat. Data sementara perolehan suara Syahrir Wahab masih di bawah mantan Sekkab Jeneponto Muh Syarif Patta.
Mantan Bupati Sinjai Andi Rudiyanto Asapa juga kembali maju ke DPR RI dari Partai Gerindra. Politisi berlatar belakang pengacara ini maju melalui dapil Sulsel II, meliputi Kabupaten Bulukumba, Sinjai, Bone, Soppeng, Wajo, Parepare, Barru, Pangkep, dan Maros. Rudiyanto masih bersaing dengan Andi Iwan Darmawan Aras.
Berikutnya, dua mantan wakil bupati Soppeng masing-masing Supriansa dan Aris Muhammadia. Supriansa yang menjadi politisi Partai Golkar maju ke DPR RI melalui dapil Sulsel II. Sedang Aris Muhammadia menjadi politisi PKB dan mengincar kursi di DPRD Sulsel lewat Dapil Sulsel 1. Supriansa masih berpeluang, sementara Aris Muhammadia kalah dari Fauzi Andi Wawo.
Hal sama juga dirasakan mantan Wakil Bupati Wajo Andi Syahrir Kube Dauda. Andi Syahrir mengincar kursi DPRD Sulsel dari Partai Demokrat, juga lewat dapil Sulsel 8, mencakup Kabupaten Wajo dan Soppeng. Suara Syarir Kube kalah telak dari petahana Selle KS Dalle.
Mantan Bupati Sidrap H Rusdi Masse (RMS) juga disebut-sebut sangat berpeluang lolos. RMS maju ke DPR RI dari Partai Nasdem melalui dapil Sulsel III meliputi Kabupaten Sidrap, Pinrang, Enrekang, Toraja, Toraja Utara, dan Luwu raya.
Selanjutnya mantan Bupati Enrekang La Tinro La Tunrung juga maju ke DPR RI melalui dapil Sulsel III. La Tinro mengendarai Partai Gerindra bersaing dengan dr Felicitas Tallulembang, Arsyad Kasmar, dan Agus Arifin Nu’mang.
Nama lainnya yakni mantan Wakil Bupati Enrekang HM Amiruddin. Amiruddin yang pernah berpasangan dengan Muslimin Bando ini mengincar kursi DPRD Sulsel menggunakan Partai Bulan Bintang (PBB) melalui dapil Sulsel 9, meliputi Sidrap, Pinrang dan Enrekang.
Nama lain yakni mantan Bupati Toraja Utara Frederik Batti Sorring. Frederik berpeluang duduk ke DPR RI dengan mengendarai Partai Demokrat melalui dapil Sulsel III.
Sementara mantan Bupati Luwu Timur Andi Hatta Marakarma hanya mengincar kursi di DPRD Sulsel. Hatta mengendarai Partai Golkar melalui dapil Sulsel 11 meliputi Luwu Raya.
Adapun nama terakhir yakni mantan Bupati Luwu Utara Luthi A Mutty. Ia kembali maju ke DPR RI melalui Partai Nasdem dan bersaing dengan RMS.
Sekretaris DPW Partai Nasdem Sulsel Syahruddin Alrif, menyebut bahwa caleg partai yang berasal dari kalangan mantan bupati dan wakil bupati memang tidak sebanyak yang dari Golkar dan Gerindra. Meski demikian, Nasdem sangat berpeluang meraih kursi dan suara terbanyak di Sulsel.
“Nasdem saat ini tengah menghitung perolehan kursi dan berpeluang menjadi ketua di DPRD Sulsel,” ujar Syaharuddin Alrif, Minggu (28/4).
Sebelumnya, politisi Demokrat Sulsel Selle KS Dalle mengklaim jika perolehan suaranya jauh lebih tinggi dari mantan Wakil Bupati Wajo Andi Syahrir Kube Dauda.
Dekan ilmu sosial dan ilmu politik Unibos Dr Arief Wicaksono mengakui fenomena tersebut. Menurutnya, persis kata orang, politisi itu bisa mati berkali-kali dan hidup kembali berkali-kali. Setidaknya, barisan para mantan itu memperlihatkan relevansinya.
“Ada sembilan mantan kepala daerah yang berpeluang lolos di bidang pengabdian yang berbeda, dari eksekutif ke legislatif dan ada 7 yang lain, yang dikatakan nyaris gagal ke legislatif. Tapi intinya saya kira, semua akan menunggu hasil akhir penghitungan KPU. Apalagi ada PSU (Pemungutan Suara Ulang) di beberapa tempat,” ujar Arief Wicaksono.
Pengamat politik Dr Luhur A Prianto mengemukakan, bahwa sekali lagi dibuktikan ketokohan atau karakter figur lebih menentukan daripada institusi partai politik. Menurut dosen Unismuh Makassar ini, para mantan bupati dan wakil bupati yang terpilih itu memiliki modalitas politik yang kuat. Selain jabatannya di partai politik, umumnya mereka memiliki basis-basis pendukung tradisional.
Sementara pihak yang nyaris tumbang lebih didominasi para politisi mantan ASN. “Umumnya mereka tidak mengakar di partai politik dan belum sempat memperluas basis politik ketika berkuasa. Langgam kontestasi pileg ini tidak cukup bagi mereka mengandalkan jejaring atau infrastruktur birokrasi, yang semakin all-out berpolitik di bawah tekanan kepala daerah yang sedang berkuasa,” jelas Luhur. (rif/rus)

Exit mobile version