MAKASSAR, BKM — Memasuki bulan suci Ramadan, tim terpadu dari berbagai organisasi perangkat daerah di Pemprov Sulsel mulai memperketat pengawasan terhadap anak jalanan, gelandangan dan pengemis (Anjal-Gepeng)
Pasalnya, berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, anjal dan gepeng semakin massif menyerbu Makassar saat Ramadan tiba. Selain yang bermukim di Makassar, para anjal dan gepeng tersebut berasal dari berbagai wilayah bukan hanya di kabupaten/kota di Sulsel, namun juga dari sejumlah daerah di Indonesia.
Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulsel, Ilham A Gazaling menjelaskan, pihaknya akan semakin massif melakukan penertiban karena saat Ramadan, para anjal dan gepeng akan semakin banyak berkeliaran di kota.
Salah satu yang dilakukan adalah mendirikan posko pengandalian anak jalan di sejumlah titik yang kerap dijadikan tempat mangkal anak jalanan. Seperti di bawah flyover dan Panakkukang.
“Kami sudah melaksanakan rapat dengan tim pengendali anak jalan. Semua stakeholder terkait akan melaksanakan perannya,” ungkap Ilham.
Hanya saja, lanjut Ilham, kendala yang dihadapi tim terpadu saat ini, yakni belum adanya sarana seperti kendaraan operasional lapangan, adanya potensi kaum urban yang datang ke kota Makassar jelang bulan ramadan, belum adanya regulasi yang benar-benar mengikat untuk memberikan efek yang signifikan kepada anjal, peran serta masyarakat yang kurang, dan belum ada keterpaduan antara OPD.
Dia mengatakan inti dari persoalan anjal dan gepeng ini adalah masalah ekonomi.
“Setelah kita asesmen dari beberapa pelaku, ternyata memang masalah ekonomi yang mendasari mereka,” ujarnya.
Ia juga membeberkan dari data yang dihimpun selama ini, jumlah anjal dan gepeng yang telah terjaring di Makassar sebanyak 511 orang, terdiri dari 232 anjal, 107 Gepeng, 69 pengamen, 103 pengguna obat-obatan/lem.
“Tapi setelah kita lakukan penertiban dari Januari hingga Maret 2019, jumlahnya berkurang menjadi 95 orang, diantaranya 47 anjal, 16 gepeng, 3 pengamen, dan 29 pengguna obat-obatan/gepeng,” bebernya.
Lebih jauh kata dia, pihaknya menerapkan dia model penanganan anjal, yakni model persuasif dan model represif.
“Persuasif itu turun langsung ke jalan memberikan pengertian dan penjelasan. Kita juga memang papan bicara seperti spanduk yang berisi ajakan kepada masyarakat. Sementara represif seperti penertiban yang kita sasar di beberapa titik,” bebernya.
Tim Gubernur Upaya Percepatan Pembangunan, sekaligus Ketua Tim Penanganan Anjal menjelaskan sudah ada langkah penanganan yang jadi acuan tim dalam bekerja.
“Ini tugas kemanusiaan, bersama kita sadar dan pemerintahan harus hadir melindungi,” ujar Jayadi Nas, selaku
Tim yang terdiri dari 9 bidang ini mencoba memetah daerah perkotaan untuk mengkaji dan memberantas aktivitas anjal. Sejumlah program pun disusun untuk merangkul mereka.
“Kami ada 19 bidang, kita satukan. Ini tugas kemanusiaan kita mencoba cari data, dan paling banyak dipertanyakan anak-anak ini, masalah ekonomi, di mana mereka makan? Di mana cari uang? Dan berangkat dari itu maka kita siapkan lahan pekerjaan buat dia,” paparnya.
Kata Jayadi, masalah ini mudah diselesaikan apabila semua bisa terlibat. Selain dikawal oleh pihak kepolisian dan TNI, menurtny pihak perusahaan swasta juga harus andil membuka lapangan pekerjaan.
“Kita libatkan dunia usaha, Dinas seperti dinas koperasi, dinas tenaga kerja bisa memberikan fasilitasi. Seperti juga Balai Latihan Kerja, bisa merangkul mereka. Kita mengacu pada Pasal 34 UU 45, bahwa pemerintah harus hadir melindungi setiap warga negara,” tuturnya.
Jayadi juga membeberkan, dari hasil operasi yang dilakukan di lapangan, pihaknya menemukan jika sejumlah gepeng dan anjal ini berasal dari luar provinsi Sulsel.
“Ada dari NTB, dari Kolaka, dan banyak dari daerah dan provinsi lain. Yang kita takutkan, jangan sampai Makassar ini dijadikan kota yang paling ramah memberi sedekah ke gepeng,” ujarnya.
Dia juga mengajak kepada masyarakat agar tidak tertipu dengan modus yang dilakukan anak-anak jalanan mengelabui targetnya meminta uang.
“Kadang dia menangis di pinggir jalan biar yang lihat dia itu ibah, padahal memang begitu modusnya,” tutupnya. (rhm)
