Site icon Berita Kota Makassar

36 Petahana DPRD Sulsel di Ujung Kegagalan

MAKASSAR, BKM — Kontestasi pemilu legislatif (pileg) yang telah berlangsung 17 April lalu, menyisakan duka bagi sedikitnya 50 persen anggota DPR Provinsi Sulsel yang menjadi petahana atau incumbent.
Jumlah kursi dewan di DPRD provinsi sebanyak 85, namun yang terpakai hanya 84 kursi lantaran pengganti antar waktu (PAW) Andi Rachmatika Dewi dari Nasdem belum dilantik.
Dari 84 orang wakil rakyat itu, hanya 67 orang saja yang kembali maju untuk DPRD Sulsel. Sementara 17 anggota dewan tidak maju. Ada pula yang naik kelas untuk DPR RI.
Adapun 17 anggota dewan yang tidak maju dan ada yang naik kelas masing-masing Hoist Bachtiar dan Afifuddin Fatta dari Partai Golkar. Andi Irwan Patawari, Nupri Basri dan Andi Nursamsina Aroepala dari Demokrat, serta Erna Amin dan Anas Hasan dari Gerindra.
Berikutnya Ashabul Kahfi dan Andi Jamaluddin Jafar dari Partai Amanat Nasional (PAN). Aryadi Arsal, Muh Jafar Sodding, dan Taslim Tamang dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), serta Wawan Mattaliu dan Ali Usman dari Partai Hanura.
Dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), masing-masing Sarce Bandaso dan Abddullah Tappareng. Sementara dari Partai Bulan Bintang (PBB), yakni Jumardi Haruna.
Dari 67 orang petahana ini, yang kini berada di ujung kegagalan lebih dari separuh atau sekitar 36 petahana (lihat grafis). Ada pula yang sudah lempar handuk. Namun, tidak sedikit caleg yang menunggu hingga adanya hasil rekapitulasi resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sulawesi selatan.
Caleg DPRD Sulsel dari dapil Sulsel 1 HA Kadir Halid, perolehan suaranya masih bersaing ketat dengan Sherly Farouk M Betta dan Andi Debby Purnama Rusdin Abdullah.
Di dapil Sulsel 2, Imran Tenri Tata memiliki suara bersaing dengan Rahman Pina, Andi Ina Kartika. Mereka menunggu hasil rekap untuk kursi kedua di dapil Sulsel 6. Sementara Rusni Kasman sudah tidak punya peluang di dapil Sulsel 7.
Sementara Andi Zunnun Halid juga masih menunggu hasil rekap KPU Sulsel, bersaing dengan caleg Demokrat Syahrir.
Sementara suara yang diraih Andi Marzuki Wadeng jauh di bawah dari target. Sedang Andi Tenri Sose juga masih harus bersaing dengan Andi Zulkifli Zain.
Caleg Golkar lainnya, yakni Soni Budi Pandin, Armin Mustamin Topitiri, dan Marten Rantetondok juga dipastikan tumbang.
Sementara caleg Demokrat Andi Januar Jaury Dharwis belum aman dari suara milik Nurlinda Salengke. Meski demikian, Andi Januar masih menunggu rekap resmi dari KPU Sulsel.
Tiga caleg Demokrat lain juga masih menunggu rekap dari KPU. Masing-masing Ikrar Kamaruddin di dapil Sulsel 3, Ni’matullah Erbe di dapil Sulsel 6 dan Syahrir. Sedang Surya Bobby dipastikan tumbang di dapil Sulsel 10.
Untuk caleg petahana dari Gerindra Edward Wijaya Horas masih bersaing dengan Andi Parenrengi. Sementara Yusran Sofyan kalah dari Andi Muktar Mappatoba di dapil Sulsel 5.
Caleh PAN Andi Yusran Paris dan Syamsuddin Karlos juga masih harus menunggu rekap resmi. Sementara Muktar Badewing sudah dipastikan kalah suara dari HA Edy Manaf.
Untuk Partai Nasdem, tiga elit DPW juga ikut tumbang. Masing-masing Muslim Salam, Pendi Bangadatu, dan Muh Rajab. Pendi Bangadatu kalah telak dari putri Bupati Tana Toraja Sarwindiye Biringkanae.
Dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), empat caleg juga belum aman. Masing-masing Wahid Ismail, Asrul Makkaraus, Mansyur Massang, dan Hafid Pasiangan. Sementara Amran Aminullah yang maju di dapil Sulsel 4, kalah telak dari Andi Sugiarti Mangunkarim.
Caleg PKS Baso Syamsul Rizal juga masih harus menunggu rekap resmi dari KPU. Sedangkan dua caleg Hanura hampir pasti tumbang, yakni Alex Palinggi dan Fadillah. Dua caleg lainnya masing harus menunggu rekap resmi, yakni Imbar Ismail dan Wahyudin Nur.
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) hanya mengkhawatirkan satu calegnya, yakni Alimuddin yang kembali maju lewat dapil Sulsel 4.
Untuk petahana dari PKB Wahyuddin AB Kessa dipastikan tumbang, sementara petahana dari PKPI Suzanna Kaharuddin juga masih menunggu rekap resmi dari KPU Sulsel.
Ketua DPW PAN Sulsel Ashabul Kahfi mengakui jika pemilu kali ini sangat dinamis. Selain karena munculnya partai baru, juga banyaknya caleg yang memiliki potensi. Termasuk keluarga penguasa.
“Ini tentu punya pengaruh. Dengan potensi itu maka bukan jaminan bagi petahana lebih unggul dari pendatang. Itu yang terjadi di lapangan. Termasuk kekuatan logistis pendatang baru,” ujar Kahfi yang sudah pasti lolos ke DPR RI ini.
Wakil Ketua DPD Gerindra Sulsel Darmawangsyah Muin yang dimintai tanggapannya terkait ada separuh pendatang baru di DPRD Sulsel, menegaskan hal tersebut wajar. “Mungkin itu sudah menjadi takdir,” ujar Darmawangsyah.
Ketua DPD II Golkar Takalar Fachruddin Rangga mengaku tidak ingin mengomentari partai lain. “Saya tidak ingin mengomentari orang lain. Saya hanya mau mengomentari diri saya bahwa masih ada pemilih menjunjung tinggi kualitas demokrasi dalam mempercayakan amanah dan mandat rakyatnya, tanpa harus ditransaksikan dengan rupiah,” ujar Faruddin Rangga.
Dosen politik dari Unibos Dr Arief Wicaksono menilai jika sudah jadi sifat dasar petahana, yaitu seringkali terlalu percaya diri untuk dapat duduk kembali, meskipun tanpa persiapan yang matang. “Kadangkala petahana juga tidak membuat kalkulasi yang cukup memadai soal daya dukung dapil dan memandang masyarakat hanya butuh dana aspirasi saja. Padahal, dari sisi masyarakat calon pemilih, dinamikanya juga cukup tinggi karena berbagai macam faktor,” ujar Arief Wicaksono, kemarin.
Apalagi bila di dapil tersebut terdapat sesama calon yang mungkin saja lebih militan cara melakukan pendekatan terhadap masyarakat. “Bila dari sisi calon pemilih saja kedodoran, bisa jadi dari sisi kompetitor bahkan lebih lemah,” pungkasnya. (rif)

Exit mobile version