Site icon Berita Kota Makassar

KKP Panen Padi Air Payau

BARRU, BKM — Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI melaksanakan panen padi air payau dan udang windu. Hasil dari panen merupakan Inovasi Teknologi Adaptif Perikanan Mina Padi Air Payau (INTAN-AP) padi udang windu (PANDU) di lahan idle (menganggur) Desa Lawallu, Soppengriaja, Kabupaten Barru, Minggu (5/5).
Panen Mina Padi air payau ( INTAN – AP dan PANDU) ini dihadiri langsung Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan ( BRSDM), Syarief Wijaya, bersama beberapa pejabat Kementerian, Bupati Barru Suardi Saleh, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulsel, Sulkaf S.Latif.
“Teknologi ini menarik, dan merupakan teknologi baru, yang mencoba menggabungkan udang windu yang biasanya hidup di wilayah laut, dengan padi yang biasanya hidup di air tawar,” ujar Sjarief.
Menurut Sjarief dengan teknologi mereka bisa didekatkan. Padi dgn varietas khusus yang mampu bertahan dengan air payau sampai 10ppt. Udang windu yang tadinya 45ppt bisa diturunkan menjadi 10ppt. Setelah panen pertama berhasil, panen kedua ini luar biasa, berhasil juga, jadi kita lihat teknologi ini sudah mapan untuk bisa dikembangkan di masyarakat secara luas.
Panen dilakukan di lahan seluas ± 1 hektar (± 30 persen untuk caren udang dan ± 70 persenuntuk lahan padi). Lahan tersebut merupakan lahan persawahan milik kelompok masyarakat yang sudah ditinggalkan kurang lebih 10 tahun karena dianggap tidak produktif.
Dijelaskan Syarif bahwa tokolan udang windu yang digunakan adalah hasil riset perakitan strain udang windu unggul BRPBAP3, sedangkan varietas padi toleran salin yang digunakan adalah INPARI 34 dan 35 yang merupakan hasil riset perakitan varietas BBPadi.
“Perbaikan teknologi budidaya minapadi air payau pada tahun ini yaitu pencegahan serangan hama pada tanaman padi tidak lagi menggunakan pestisida kimia, namun menggunakan biopestisida atau pestisida nabati yang aman bagi kehidupan udang dan ramah lingkungan. Keberhasilan teknologi ini sangat bergantung pada pemeliharaan dan manajemen lingkungan yang sesuai untuk kehidupan udang windu dan padi karena udang windu dan padi mempunyai toleransi salinitas yang berbeda,” jelasnya .
Sementara itu Kadis Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulsulsel Sulkaf S Latief menyatakan kegiatan ini mendukung Program Gubernur Sulsel bagi kebangkitan udang windu di Sulsel. (udi/C)

Exit mobile version