JARUM jam menunjukkan pukul 03.00 Wita, Rabu (8/5). BKM menyambangi salah salah satu rumah yang berlokasi di sebuah perumahan bilangan Jalan Landak. Rumah itu milik Penjabat Sekretaris Provinsi Sulsel Ashari Fakhsirie Radjamilo.
Suasana masih hening. Belum ada aktifitas yang terlihat dari para penghuni rumah. Kecuali kesibukan si empunya rumah Hj Enny Agustina. Dibantu asisten rumah tangganya, ibu tiga anak itu sementara mempersiapkan menu sahur untuk keluarga.
Sementara sang kepala rumah tangga masih menunaikan salat tahajjud. Selama ramadan, Ashari memang menekankan kepada keluarganya untuk rutin ibadah malam.
Tidak berselang lama, seluruh menu untuk santap sahur yang cukup menggugah selera mulai disiapkan di meja makan. Ada pallumara, sayur berkuah. Dan yang paling menarik adalah dendeng kuda. Menu yang terakhir ini menjadi makanan wajib dan andalan Ashari.
“Dendeng kuda harus selalu masuk dalam daftar menu sahur Bapak,” ungkap Hj Enny Agustina, istri Ashari.
Setelah semua lengkap, satu persatu penghuni rumah berkumpul di meja makan. Anak sulungnya bersama sang suami, dan dua anak lainnya bergabung di tempat duduk masing-masing.
Sambil menikmati menu sahur, pembicaraan ringan, menarik, dan penuh kekeluargaan mengalir. Diiringi bunyi sendok yang beradu dengan piring. Topik pembicaraan seputar aktifitas keseharian dan kejadian-kejadian menarik yang bisa membuat mereka tertawa. Ashari memang berusaha membangun komunikasi dengan keluarga saat di meja makan.
“Jadi saya itu kalau makan sahur, tidak lengkap rasanya kalau tidak ada dendeng kuda,” ungkapnya.
Bagi Ashari, dendeng kuda menjadi semacam suplemen atau pembangkit selera makan. Kalau tidak ada jenis makanan itu, rasanya tidak lengkap. Bagai sayur tanpa garam. “Dendeng kuda ini suplemen bagi saya,” katanya menegaskan.
Setelah menikmati makan sahur, Ashari berpindah ke ruangan tengah. Tak lama kemudian, secangkir kopi ditemani penganan ubi jalar disuguhkan untuknya.
Mantan kepala Biro Kerja Sama Pemprov Sulsel itu menuturkan, isterinya sudah paham benar dengan makanan kesukaannya. Jadi, usai sahur dengan makanan utama, sambil bersantai menunggu waktu imsak atau menahan, dia akan menikmati penganan tradisional nan sehat tersebut.
“Saya memang suka ubi jalar sejak dulu. Ibu sudah tahu itu. Jadi kalau sudah sahur, selalu suguhkan ubi jalar ditemani secangkir kopi,” ungkapnya.
Selain ubi jalar, Ashari juga mengonsumsi buah kurma.
Berbeda dengan sahur, kalau buka puasa, paling suka jika disuguhkan dengan es buah. “Saya tidak begitu suka dengan pallu butung dan sejenisnya. Lebih pilih untuk buka puasa dengan menu es buah. Es buahnya dicampur dengan kurma,” terangnya.
Kepada BKM dia mengemukakan, selama melaksanakan ibadah puasa, nyaris tidak pernah melewatkan makan sahur. Alarm memang sudah disetel dengan volume keras pada angka tiga.
Selain itu, makan sahur tidak pernah dilalui tanpa keluarga. Kecuali jika ada urusan dinas ke luar kota yang terjadwal untuk nginap.
Ritme itu dijaganya. Walaupun anaknya sudah ada yang berkeluarga, namun sedapat mungkin diusahakan saat makan sahur, mereka bisa berkumpul bersama. Menikmati momen itu di tengah kesibukan masing-masing.
Mendekati jadwal imsak, semua yang berhubungan dengan makan dan minum dihentikan. Dia kemudian ke kamar mandi untuk sikat gigi dan berwudhu. Bersiap menunaikan salat subuh.
Saat azan berkumandang, bersama menantu dan anak lelakinya, Ashari beranjak ke masjid guna menunaikan salat berjamaah.
Untuk menjaga kebugaran tubuh, usai salat subuh, Ashari menyempatkan diri berolahraga. Setelah itu, tidur sebentar untuk kemudian melanjutkan rutinitas sehari-hari yang sangat padat.
Satu tips lagi untuk menjaga kebugaran tubuh, dia rutin minum air hangat sesaat setelah bangun tidur. (rhm/rus)
