Site icon Berita Kota Makassar

Akhirnya Bisa Merenovasi Rumah

KUATNYA persaingan di pasar, terlebih lagi penjualan ayam potong yang didominasi kaum laki-laki dibandingkan perempuan, membuat Nirwana harus bersaing.

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

Meski kadang badan Perempuan anak pertama dari tiga bersaudara ini terasa lelah namun hal itu tidak ia hiraukan. Jika ia merasa lelah, ia hanya berhenti sejenak dan lelah hilang iapun melanjutkan menguliti ayam dan satu demi satu ia jualkan ayam potong tersebut hingga habis dagangannya.
“Capek pasti karena namanya juga kerja di pasar, yah kalau capek istrirahat dulu kalau tidak ada pembeli. Tapi lebih banyak tidak istirhat iya, karena harus cari pembeli, beda dengan bulan puasa begini biasanya ada terus ji datang,” ungkapnya beberapa hari yang lalu.
Lanjutnya, dari hasil berjualan ayam potong Wana mendapatkan untung yang lumayan besar. Apalagi dibulan ramadhan ini pasokan ayam yang diduga mengalami kelangkaan, membuat harga daging ayam naik. Namun dengan kenaikan itu, Wana mengaku tak sedikit konsumen yang membeli daging ayam meskipun harganya cukup mahal.
“Ada ji iya beberapa bilang kenapa mahal ki, tapi rata-rata mengerti ji memang kalau harganya sekarang memang begitu. Saya jual ayam potong selama puasa itu, yang ayam potong ukuran kecil saya jual Rp50 ribu yang besar ada harga Rp60 ribu sampai Rp70 ribu yang jumbo,” bebernya.
Dari hasil jualan satu ayam potongnya, Wana menuturkan mendapatkan untung sebesar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu. Dalam sehari Wana mampu menjual ayam potong hingga 30 ekor ayam potong dengan stok yang selalu disiapkan sebanyak 50 ekor, namun selama puasa hingga jelang lebaran, Wana menambah jumlah pasokannya hingga 100 ekor.
“Karena sekarang itu sistemmnya harganya itu, menyesuaikan dengan stok kiriman ayam yang ada. Kalau kurang mahal ki juga dan tidak bisa dijual dibawah, karena rugi ki, kerugian pasti ada kalau hari biasa, karena tidak setiap hari orang makan ayam dipasar, biasa busuk mi ayam dan itu harus dubuang mi,” katanya.
Kini Wana membeberkan bahwa kehidupan keluarga jauh lebih baik dengan berjualan dipasar dan mendapatkan keuntungan. Bahkan hasil dari jualan dipasar, kini keluarga mampu melakukan renovasi rumah.
“Apa dih, tidak ada ji mungkin saya minta. Alhamdulillah ji juga bisa perbaiki rumah dari hasil kumpul-kumpul uang hasil jualan, karena rumah yang lama dulu banyak mi yang bolong-bolong dan retak dindingnya, bisa mi sekarang di perbaiki, semoga saja orang tua sehat-sehat saja,” tutupnya. (*)

Exit mobile version