Site icon Berita Kota Makassar

Anaknya Ikut Berjualan di Jeneponto dan Enrekang

BAKPAO, penganan khas masyarakat Tionghoa cukup banyak digandrungi masyarakat umum di Kota Makassar. Selain memiliki citarasa lembut dan juga nikmat, panganan ini mudah ditemui di pinggir jalan kota. Inilah menjadikan penganan tersebut tetap laris, seperti yang dijual Supu Daeng Tompo.

Laporan: NUGROHO

Untuk menikmati penganan nikmat ini, bisa saja langsung ke Jalan Hertasning Raya depan Lapangan Emmy Saelan. Supu Daeng Tompo mengaku sudah empat tahun jualan bakpao hangat. Ada isi daging, cokelat, keju, dan kacang ijo.
Harga satu bakpao yang ditawarkan Supu, sapaan akrab nya terbilang cukup murah, yaitu sebesar Rp5 ribu. Dari empat jenis rasa yang ditawarkan, bakpao berisi daging ayam paling banyak dipesan. Namun kembali lagi semua tergantung selera masing-masing.
Kue bakpao yang dijajakan pria kelahiran Jeneponto, 01 Agustus 1971, hasil produksi istrinya yang kemudian ia jualkan setiap sore dari pukul 14:45 wita sampai pukul 21:00 wita. Usaha jualan bakpao ini cukup menjanjikan.
“Sejak awal jualan pada Januari 2016, saya tidak pernah pindah tempat. Sudah empat tahun jualan bakpao di sini (Jalan Hertasning). Apalagi sudah banyak yang kenal dan cari bakpao saya,” kata Supu kepada penulis.
Agar langkahnya lebih jauh lagi mengelilingi lorong kota menawarkan panganan bakpao nya, suami Lasri itu pun memodifikasi sepeda motornya dengan menambah bak gerobak di belakang. Sehingga bakpao bulat warna putih susu di taruh ke dalam bak tersebut.
Setiap harinya, Supu membawa sebanyak 80 kue bakpao untuk dijual. Penjualan bakpao setiap hari tak menentu, dan jarang sekali semua bakpaonya laku terjual. Paling banyak bisa menjual 50 bakpao selama tujuh jam jualan.
“Jarang sekali bakpao laku semua, paling banyak setiap hari bisa 50 bakpao terjual. Untung bisa bertahan dua hari untuk satu bakpao, jadi besoknya saya bisa jualan lagi,” ucapnya.
Supu jualan bakpao di Jalan Hertasning Raya tidak cuma sendiri saja. Satu anaknya sering membantunya jualan di jalan poros ini. Sedangkan dua orang anaknya juga turut membantu jualan bakpao di Jeneponto, dan satunya ada di Enrekang.
“Anak saya bantu saya jualan bakpao. Ada sendiri gerobak motornya. Mereka ikut tinggal sama nenek dan tantenya di Jeneponto dan di Enrekang,” imbuhnya.
Dia mengaku sangat menikmati bisnis usahanya ini. Dia juga berharap empat tahun kemudian dapat membuka satu rumah toko (ruko) untuk jualan bakpaonya hingga mengembangkan bakpao buatannya lebih luas. (*)

Exit mobile version