DI MANA ada usaha di situ ada jalan. Inilah yang diyakini anak-anak muda yang berada di bawah naungan Kurir Langit. Sebuah masjid mereka bangun tanpa mengedarkan proposal permintaan bantuan. Lalu dari mana mendapatkan dana?
JIKA kita berkendara dari Kota Makassar menuju Kota Parepare, akses jalan poros yang dilalui adalah Kabupaten Barru. Di jarak kurang lebih 100 km, setelah melewati kantor bupati Barru, kini bisa didapati sebuah masjid yang masih dalam pengerjaan.
Letaknya memang tidak di pinggir jalan poros. Melainkan berbelok kiri sekitar 900 meter menyusuri pinggir sungai, sebelum jembatan di Jalan Anggrek, Kampung Ujunge-Maruala, Kelurahan Sumpang Binangae, Kecamatan Barru.
Namanya Masjid Kurir Langit. Berdiri di atas lahan seluas 441 m2. Tanah tersebut tidak dibeli. Melainkan merupakan wakaf dari warga setempat. Dibangun dua lantai berukuran 21 meter x 16 meter.
Peletakan batu pertamanya dilaksanakan 23 Mei 2017. Digunakan untuk salat berjamaah perdana pada 23 September 2018. Menjadi tempat salat Jumat pertama 8 Februari 2018. Daya tampungnya 250-300 jamaah. Ramadan 1440 Hijriah menjadi bulan puasa pertama masjid ini dimanfaatkan. Sekaligus lokasi pelaksanaan salat Idulfitri.
Lantai satu masjid ini digunakan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan. Terdapat poliklinik gartis, dapur umum, baitul maal, tijarah centre, kamar tamu VIP, asrama tahfidz Quran putri, MCK umum, dan anjungan wisata religi.
Sementara di lantai dua dijadikan ruang utama untuk salat. Dilengkapi tempat wudhu, MCK, ruang takmir, dan teras.
”Untuk saat ini pelaksanaan pembangunan fisiknya sudah mencapai 70 persen. Tapi untuk kegiatan keagamaan dan aktivitas sosial, semuanya sudah berjalan 100 persen,” kata Muh Nur Syahid, Presiden Kurir Langit yang juga Ketua Yayasan Masjid Kurir Langit saat berkunjung ke redaksi BKM, Selasa (18/6). Ia didampingi Direktur Wakaf Kurir Langit Muh Tahang, Direktur Dewan Masjid Kurir Langit Andi Arivai Yusuf, Sekretaris Dewan Masjid Muh Fajar, dan Manajer Penanganan Bencana Agistaril.
Nur Syahid menerangkan, Masjid Kurir Langit buka selama 24 jam. Pengurus serta relawannya adalah anak muda. Mereka tak ada yang digaji. Kecuali staf yang memang fokus bekerja dari pagi hingga sore untuk urusan yayasan.
”Sebagai bentuk pertanggungjawaban dalam hal pengelolaan keuangan, kami mempunyai akuntan profesional. Ini sengaja kami lakukan, karena Kurir Langit mengelola dana masyarakat,” tandasnya.
Untuk pembangunan masjid hingga saat ini, anggaran yang dihabiskan berkisar pada angka Rp1 miliar. Lalu dari mana uang itu diperoleh? Yang menarik, karena ternyata Kurir Langit tak pernah sekalipun mengajukan proposal permintaan bantuan, baik pihak pemerintah ataupun perusahaan.
”Kami menggalang dana melalui media sosial (medsos). Donatur adalah para warganet secara perorangan,” ungkap Nur Syahid.
Sejak mulai membangun Masjid Kurir Langit, antusias warganet untuk berpartisipasi sangat tinggi. Itu terlihat dari besarnya sumbangan dana yang masuk.
Dari hasil public ekpose dalam rangka milad ke-5 Kurir Langit bulan Mei lalu, tercatat ada Rp2,26 miliar sumbangan yang masuk. Itu yang dalam bentuk uang. Tidak termasuk bantuan berupa barang. Jika diakumulasikan secara keseluruhan, angkanya bisa mencapai Rp4 miliar.
Kurir Langit mencatat, sumbangan para warganet terus bertambah setiap tahunnya. Ketika di awal komunitas ini terbentuk lima tahun lalu, donasi yang diterima berada di kisaran angka Rp300 juta. Kemudian bertambah di tahun-tahun berikutnya, dari Rp400 juta, Rp900 juta hingga Rp2,26 miliar.
”Bantuan dan donasi yang masuk ke Kurir Langit juga digunakan untuk membantu sesama yang tertimpa bencana alam. Seperti bencana di Palu, banjir di Sidrap dan Soppeng. Kami punya dua unit ambulans yang dioperasikan secara gratis,” tuturnya.
Selain itu, bantuan juga disalurkan untuk membantu 3.900 santri anak yatim penghafal Quran di 48 pondok. Mereka tersebar di Makassar, Gowa, Parepare, hingga Timika, Papua.
”Setiap bulannya kami mengirimkan bantuan berupa beras premium untuk membantu mereka. Program ini sudah berjalan selama satu tahun terakhir,” imbuh Nur Syahid, yang diamini Muh Tang.
Yayasan Masjid Kurir Langit juga memberi perhatian terhadap pengembangan sumber daya manusia (SDM) warga sekitar. Mereka diberi keterampilan. Mulai dari desain grafis untuk anak muda, serta keterampilan membuat kerajinan tangan bagi ibu-ibu.
Diakui Nur Syahid dan Muh Tahang, kawasan lokasi berdirinya Masjid Kurir Langit saat ini dulunya dikenal sebagai wilayah ‘hitam’. Ada sejumlah warga yang berprofesi sebagai penjual minuman keras (miras) di tempat ini. Ada pula praktik prostitusi liar yang menempati rumah-rumah kos.
”Secara perlahan keberadaan masjid mampu mengikis praktik seperti itu. Ada di antara mereka yang dulunya berjualan miras, kini sudah berhenti. Begitu juga perempuan ‘nakal’ yang biasa menyewa kos di sekitar lokasi masjid, satu per satu tak lagi beroperasi,” imbuh Nur Syahid.
Hal menarik lainnya dari Masjid Kurir Langit, karena kas masjid tidak disimpan ataupun ditabung. Melainkan langsung dimanfaatkan untuk pelaksanaan kegiatan yang telah diprogramkan. Ratusan jamaah salat Jumat setiap pekannya disiapkan makanan prasmanan oleh ibu-ibu setiap pekan.
Masjid ini juga dilengkapi internet gratis yang berfungsi 22 jam. Selama dua jam, yakni Magrib hingga Isya, fasilitas gratis tersebut dihentikan.
”Internet gratis ini banyak dimanfaatkan oleh anak-anak muda untuk bermain game. Juga anak sekolah untuk mengerjakan tugas. Awalnya mereka hanya datang untuk tujuan itu, dan setelahnya langsung pulang. Tapi lama kelamaan, anak-anak muda tersebut sudah beramai-ramai salat di masjid. Ini menjadi salah satu cara untuk mengajak mereka dekat ke masjid,” tutur Nur Syahid. (rus)
