Site icon Berita Kota Makassar

Pelaut Cuti Kerja Demi Ikut Audisi

ADA banyak latar belakang para peserta yang mengikuti audisi Kontes Dangdut Indonesia (KDI) 2019 di gedung Phinisi Universitas Negeri Makassar (UNM). Salah satunya pelaut. Namanya Junaedi.
Mengenakan seragam serba putih khas pelaut, Junaedi datang ke lokasi di hari kedua audisi, Minggu (23/6). Alumni sekolah pelayaran yang telah bekerja pada sebuah kapal tugboat ini di Kalimantan. Dia mengaku sengaja mengambil cuti untuk ikut audisi, karena memang ada fasilitas seperti itu dari tempat kerjanya.
Dirinya ingin membuktikan bahwa seorang pelaut juga bisa bermain musik. ”Saya ikut audisi ini untuk membuktikan bahwa pelaut juga bisa bermain musik. Pelaut juga tahu musik. Selain bisa kerja di laut, kita juga bisa bekerja di darat,” ujarnya.
Keikutsertaannya dalam audisi ini, diakui Junaedi, juga atas dukungan dari orang tuanya. Pria asal Kabupaten Takalar ini mengatakan, orang tuanyalah yang juga menginginkan dirinya bisa ikut beradu vokal di ajang pencarian bakat dangdut nasional ini.
“Saya cuti dari pekerjaan di Kalimantan. Orang tua dan keluarga yang dorong saya. Mudah-mudahan bisa mewujudkan kemauan orang tua,” katanya.
Junaedi adalah alumni dari Politeknik Pelayaran Surabaya. Saat ini ia menyandang pangkat Perwira Muda.

Penjurian di Jakarta

Peserta yang dinyatakan lolos audisi di Makassar, akan diadu kembali untuk penjuarian di Jakarta. Total ada dua tahap penjurian sebelum masuk ke Kontes KDI.
Executive Producer KDI 2019 Gerry Danurwendo mengatakan, peserta saat ini masih berada pada tahap penjurian daerah. Yang lolos dalam tahapan ini akan dikirim ke Jakarta untuk penjurian yang dilakukan oleh para artis. Yang lolos pada penjurian artis berhak mengikuti kontes.
“Penjurian artis ini akan dikumpulkan semua yang lolos dari semua daerah di Indonesia. Artis yang akan menjuri adalah Iis Dahlia, Ayu Tingting, dan Ivan Gunawan,” kata Gerry.
Sementara pada penjurian daerah ini, peserta juga melewati tiga proses audisi. Yaitu penjurian pra audisi, penjurian audisi, dan penjurian final.
“Peserta hari ini (kemarin) kita uji dengan beberapa jenis lagu dari dangdut modern, lagu up beat, slow beat, rock dut, lagu India, lagu Arab sampai genre lain, seperti pop yang kekinian,” kata Gerry.
Makassar sendiri dipilih sebagai salah satu kota yang dipercaya menyelenggarakan big audition KDI untuk tahun ini. Dua kota lainnya adalah Jakarta dan Medan.
Gerry mengatakan, pemilihan Makassar sebagai salah satu kota yang menyelenggarakan big audition KDI bukan tanpa sebab. Selain karena juara KDI sebelumnya berasal dari Sulsel, audisi di Makassar dikatakan Gerry memang track recordnya selalu bagus.
“Big audition di tiga kota, Makassar, Medan (29-30 Juni 2019), dan Jakarta (6-7 Juli 2019). Makassar kota pertama. Karena Makassar track recordnya bagus, secara kualitas dan animo masyarakatnya bagus,” kata Gerry.
Sebagai kota pertama penyelenggaraan big audition, ada proses filming yang dilakukan di hari kedua pelaksanaan. Proses syuting ini yang akan ditayangkan di episode Ngantri KDI nantinya.
“Ada dua episode. Makassar adalah kota pertama di audisi besar. Jadi syutingnya mulai proses antrean, hiburan di ruang tunggu, sampai siapa yg terpilih mewakili Makassar,” jelas Gerry.
Di hari pertama pada Sabtu (23/6), telah ada 590 peserta yang mendaftar di proses audisi. Sementara hingga hari kedua kemarin, peserta yang mendaftar telah ada sekitar 700-an orang.
“Untuk hari pertama ada lima orang yang lolos. Kita berharap masih banyak lagi yang lolos dari Makassar. Pemilaiannya itu kita ranking dulu. Mulai dari suara dan penampilan. Mudah-mudahan bisa menemukan lagi yang lain,” harap Gerry.
Sebagai juri audisi sekaligus alumni KDI pertama, Safaruddin mengatakan KDI kali ini mencari penyanyi dangdut yang berkarakter. Memiliki ciri khas, baik secara vokal maupun penampilan.
“Kita seleksinya memang tidak yang umum. Kalau umum mungkin sudah banyak. Kita cari sekarang yang punya warna vokal. Jadi tipsnya jangan grogi. Kalau grogi, suara bisa tidak keluar maksimal. Tarik nafas dulu. Tenangkan dulu. Dan perbanyak perbendaharaan lagu,” jelas juara ketiga KDI pertama ini.
Safar melihat, pada audisi hari kedua ini antusiasme pendaftar masih sangat tinggi. Banyak penyanyi yang berbakat di Makassar ini. Dengan melihat audisi hari ini, ia optimis masih banyak regenarasi penyanyi dangdut Indonesia.
“Saya sudah melihat tadi, ada yang umur 15 tahun, materi vokalnya luar biasa. Suaranya sudah matang. Sebagian peserta juga banyak yang bagus-bagus. Mungkin mereka belajar dari pendahulu-pendahulunya,” ungkap Safar.
Ia tidak heran dengan kondisi ini. Makassar yang dianggap sebagai ‘kampungnya’ dangdut, memang selalu ada musik ini di setiap acara. Bagi Safar, penyanyi dangdut Makassar memang selalu memiliki kualitas yang bagus. (nug/rus/b)

Exit mobile version