MELIHAT kumpulan huruf di tato tentu orang-orang langsung mengaitkannya dengan hal-hal negatif. Stigma buruk masyarakat itulah yang ingin diubah oleh Eduward, seniman tato profesional asal Kota Makassar.
Laporan: ARIF QADRY
Sejak kecil, Aduward sudah hobi menggambar. Kecintaan pria kelahiran Ujung Pandang, 12 April 1980 itu pada seni gambar begitu kuat, hingga akhirnya memberanikan diri untuk mengekspresikannya dangan menato tubuhnya dan kemudian orang lain.
Ada perbedaan dirasakan bagi pria yang akrab dipanggil Edu pada saat pertama kali membuat tato. Ia merasakan jiwanya lebih puas. Dari situlah ia terus mencari gambar-gambar unik, dan mewakili perasaannya untuk kemudian dijadikan sebagai tato. Hasilnya, hampir semua bagian di tubuhnya di tato.
Pada 2013 lalu, Edu mulai membuka studio tato di Jalan Pengayoman, Kecamatan Panakkukang. Nama studionya adalah Inoru. Studio tato dibuka agar dirinya bisa lebih profesional lagi berkarya sebagai seniman tato. Di sana, di studio tatonya, Edu bekerja tidak seorang. Ia dibantu beberapa orang rekannya yang juga merupakan seniman dan artist tato.
Sejak studio tatonya buka, Edu aktif ikut kompetisi atau perlombaan. Awalnya tidak ingin mengejar juara, tetapi secara perlahan berhasil menyabet semua juara. Karya yang di tampilkan Studio Tato Inoru memang tak dapat menipu. Sang juri terkesima hingga memberikan juara. Adapun juara yang berhasil didapat diantaranya yaitu Maluku Tattoo Exhibition 2017. Di kompetisi itu, Studio Tato Inoru milik Edu, berhasil meraih juara pertama.
Semua penghargaan yang diperoleh Studio Tato Inoru terpajang di dinding studio. Tidak itu saja, sertifikat dari asosiasi tato juga ada. Itu menjadi bukti bahwa di studio tato milik Edu berkarya sesuai SOP dan benar-benar memperhatikan kebersihan peralatan dan peduli terhadap keamanan maupun kesehatan pelanggannya.
“Kami di sini tidak mau mengerjakan pesanan tato dari anak masih di bawah umur. 18 tahun ke bawah kami tak layani. Kalau pun memaksa kami meminta persetujuan dari orang tua. Kami juga tidak mau menerima pasien atau pelanggan yang kondisinya sedang mabuk. Untuk jarum kami selalu gunakan jarum baru. Satu pelanggan pasti jarum baru. Itulah kami membuka bungkusannya depan pelanggan buar memastikan kalau jarum yang digunakan itu baru dan tersegel. Jarum dan tinta di studio kami semuanya dipesan dari luar negeri,” kata Edu.
Jasa pembuatan tato di Studio Tato Inoru terjangkau. Sesuai dengan kualitasnya, tato dengan kategori black gray mulai dari harga Rp600 ribu dan full colour Rp1 juta. Kebanyakan pelanggan datang memilih ketegori realis atau gambar wajah. Gambar orang tua, istrinya dan anaknya.
Mereka yang ingin membuat tato harus menunggu. Ada jadwalnya. Lebih dulu konsultasi, atur jadwal, dan baru kemudian dikerjakan. Rata-rata paling lambat dua hari menunggu untuk dibuatkan tato.
“Tidak boleh langsung dikerjakan, calon pelanggan harus menunggu. Jadi pertama mereka datang konsultasi dulu, kategorinya apa, warnanya, dan harganya. Setelah itu kami jadwalkan waktunya dan memintanya untuk tidak sekali-kali datang dalam kondisi mabuk,” sebutnya.
Sebelum serius memulai bisnis jasa pembuatan tato, Edu mengaku sempat pernah bekerja di perusahaan kosmetik. Posisi jabatan terkahirnya pada saat itu sebagai manajer wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua (Sulampua). Berhenti karena ingin memuaskan batinnya terhadap seni gambar. Saat bekerja di perusahaan kosmetik, Edu sudah punya tato. Tapi belum banyak dan hanya di bagian tangannya.
Dari pembuatan tatonya itu, Edu menggantungkan hidup nya. Pendapatan dari pembuatan tatonya selain mampu memenuhi kebutuhan hari-harinya, juga telah berhasil menambah pundi-pundi rupiah membuka bisnis usaha barunya yaitu kedai kopi shop yang berdiri di samping studio tatonya.
“Saya melihat masyarakat sudah mulai menerima dan menaruh image sebagai trend bagi orang bertato, 75 persen secara umum di Indonesia. Seperti hal di Bali, di sana banyak orang-orang bertato. Saya terus-terusan berbagi kepada pembuat tato untuk selalu perioritaskan kebersihan dan kesehatan. Berkarya sesuai SOP yang ada,” katanya.
Sebagai seniman tato yang telah banyak mendapat penghargaan dan prestasi atas karya seni tatonya, Edu ingin memberikan bukti di mana orang-orang yang memiliki tato bukanlah preman. Termasuk juga memberikan edukasi kepada pekerja seni tato untuk profesional dan bersih membuat tato.
“Ada Standar Operasi Prosedur (SOP) dalam melayani pembuatan tato. Di mana setiap orang jarumnya baru dan bersih. Yang mau tato harus di atas usia 18 tahun, tidak sedang mengkonsumsi alkohol atau narkotika. Ini yang kami terapkan. Kadang pula kami meminta pada anak usia 18 tahun ke atas yang mau buat tato untuk membawa persetujuan orang tua. Kalu tidak kami pasti tidak layani. Kami mau hindarkan masalah, termasuk penyakit berbahaya,” sebutnya. (*)
