GERABAH atau perkakas yang terbuat dari tanah liat, masih bisa ditemui meski tidak mudah. Contohnya, panci dan alat memasak. Meski sepi peminat, tetapi para pembuat dan penjualnya masih tetap semangat seperti Jumariah Dg Ngasseng.
Laporan: JUNI SEWANG
Kepada penulis Jumariah mengaku telah bertahan 30 tahun lebih menjual gerabah di dalam Kota Makassar yang dibantu kedua anaknya. Namun dalam beberapa tahun terakhir ini penjualan gerabahnya susut drastis.
“Dulu di tahun 1980 dan 1990 an jualan saya ini laris manis. Namun sekarang masyarakat lebih suka yang plastik karena ringan dan praktis,” ucapnya.
Meski begitu, Jumariah tidak menyerah. Dia tetap bertahan kendati dihadapkan dengan kenyataan. Bahwa menjual gerabah sudah semakin susah.
Dalam usianya yang sudah renta, Jumariah masih fasis menjawab pertanyaan penulis. Menurutnya, kebutuhan gerabah pada saat kelahiran bayi, nikahan, dan kegiatan lainnya. “Meskipun banyak yang suka plastik, tapi masih ada saja yang membutuhkan alat dapur yang terbuat dari gerabah,” katanya.
Untuk mengatasi sedikitnya peminat, Jamariah berinisiatif untuk lebih memerbanyak produk kebutuhan rumah tangga lainnya. Semisal tempat celengan.
Warga Desa Sandi Kecamatan Pattalassang, Kabupaten Takalar, ini mengaku hidup bersama suami dan punya dua anak laki-laki di rumah yang tidak terbilang luas. Dia turut membantu sang suami yang menjadi tulang punggung untuk menafkahi keluarga kecilnya.
Selama ini dia dan suami hanya mengandalkan penghasilan dari menjadi buruh tanam padi dan panen padi pada orang, perlahan lahan tenaga dirinya dan suaminya mulai tidak dibutuhkan dikarenakan para pemilik lahan mulai menggunakan mesin panen.
Akhirnya pasangan suami istri ini membuat kerajinan tangan dengan membuat gerabah tradisional dari bahan baku tanah liat mengikuti para pengrajin tanah liat yang ada disekitar rumahnya.
“Penghasilan saya untuk kebutuhan keluarga selama ini hanya dari buruh tanam dan panen padi, perlahan lahan tenaga kami tidak lagi dibutuhkan karena orang tanam dan panen padi sudah pake mesin,” cerita Jumariah Dg Ngasseng.
Setiap hari rata-rata Jumariah Dg Ngasseng mampu memproduksi enam hasil kerajinan tangan yang ia pelajari secara otodidak, seperti panci masak, guci kecil, asbak dari bahan baku tanah liat yang dia beli oleh suaminya dimana harga satu karung seharga Rp12.000.
“Satu hari rata-rata hanya mampu saya produksi sendiri enam buah, dengan harga jual mulai dari Rp15.000 hingga Rp20.000 per buahnya, kata dia.
Pasarannya hingga ke Kota Makassar, jelas Jumariah dibantu oleh dua orang anaknya yang telah berumah tangga. gerabah tersebut dibawa pakai mobil bak terbuka.
“Saya dibantu dua anak laki-laki ku jika ada pemesanan di Makassar termasuk sekalian berjualan di pinggir jalan. Tidak tiap hari ja di Makassar, karena tidak mampu ma, anakku mami yang lanjutkan ki,” katanya.
Kepada penulis, ia juga berharap ada bantuan modal usaha kerajinan tangannya dari pemerintah untuk meningkatkan produksi dan penghasilan guna membiayai anak bungsunya yang bercita cita menjadi Tentara.
“Itu ji kodong saya mau wujudkan cita cita anak bungkoku, Mauki jadi tentara karena masih bisa umurnya masuk tentara prajurit,” tuturnya. (*)
