Site icon Berita Kota Makassar

Dulu Penjual Es Mambo, Kini Jadi Pengusaha Sukses

BERAKIT-RAKIT ke hulu, berenang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Peribahasa ini layak disematkan kepada Syarifuddin Daeng Punna, salah seorang bakal calon (balon) wali kota Makassar 2020.

PROSES tak pernah mengkhianati hasil. Seseorang yang berjuang dengan kerja keras, tak dipungkiri akan meraih sukses. Jangan lupa, doa dari orang-orang terdekat. Terutama orang tua.
Syarifuddin Dg Punna atau yang akrab disapa SaDaP, lahir di Ujung Pandang tahun 1964. Atas kerja kerasanya selama ini, ia mampu menjadi salah seorang pengusaha sukses. Ada ratusan orang dengan latar belakang berbeda yang telah dipekerjakannya.
Syarifuddin merupakan putra satu-satunya pasangan F Yusuf TH dan Era Dg Baji. Ayahnya adalah seorang petinggi Bank Dagang Negara (BDN) kala itu. Ia pernah bertugas di Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) pada tahun 1964. Sementara ibunya seorang ibu rumah tangga biasa.
Meski anak tunggal dari seorang petinggi bank, Syarifuddin tak bisa menikmati masa kecilnya dengan bersenang-senang. Di kala usianya menginjak 8 tahun, Syarifuddin kecil sudah menjadi yatim. Ayah tercinta berpulang ke rahmatullah ketika kembali bertugas di Makassar. Saat itu keluarganya bermukim di Jalan Muh Yamin.
Duka itu membuat Syarifuddin terpukul. Tak ada lagi sosok seorang yang menjadi pengayom dan pelindungnya. Tempat untuk mendapatkan kasih sayang serta bercanda ria.
“Terkadang sering membayangkan sosok almarhum bapak. Beliau seorang pria yang baik. Rendah hati dan lemah lembut terhadap istri dan anaknya. Selalu meluangkan waktunya untuk keluarga, terutama saat hari libur,” kenang Syarifuddin.
Jadilah masa kecil Syarifuddin dijalani tanpa kasih sayang seorang bapak. Meski demikian, ia tetap bersyukur karena memiliki seorang ibu yang gigih dan penuh kesabaran mendidik anak semata wayangnya menjadi orang sukses di kemudian hari.
Usai kepergian sang ayah, Syarifuddin bersama ibu tercinta tinggal di sebuah lorong yang sempit. Tepatnya di Jalan Veteran Utara Lorong 46. Tak jauh dari kanal Kerung-kerung. Bersama ibunda dan neneknya, Syarifuddin berhasil menamatkan bangku Sekolah Dasar (SD) Maradekayya 2, Ujung Pandang.
Meski sang ibu berasal dari keluarga berada dan terhormat, serta memiliki garis keturunan keluarga kerajaan Gowa, ia enggan merepotkan kerabatnya. “Ibu saya punya pendirian kuat. Beliau tidak mau meminta bantuan kepada keluarganya. Meski beliau serba kekurangan di masa itu. Saya banyak belajar dari ibu saya. Beliau wanita hebat,” beber Syarifuddin.
Syarifuddin kerap mengutip pesan bijak sang ibu dalam melakoni hidup. ”Nak, punna tallasako rilino, teako takkaluppa riparangta tau. Jaga siri’nu dan siri’na tawwa. U’rangi karaeng Malompoa, Allah Ta’ala. Insyaallah salamako lino ahera.”
Artinya kurang lebih seperti ini; anakku, kalau umur kamu panjang dan menjadi orang sukses, jangan lupa untuk berbagi dan lupa daratan. Jaga kehormatan dirimu, keluargamu, dan orang lain. Jangan lupa beribadah kepada Allah. Insyaallah hidupmu akan sukses dunia dan akhirat.
Setamat SD, Syarifuddin kemudian melanjutkan pendidikan di SMP YP PGRI di Jalan Singa. Ia tinggal di Mariso, dekat Bonekom. Keluarganya tinggal di atas sungai yang dijadikan kanal.
Suka dan duka pun dirasakannya. ”Waktu itu saya harus memikul ikan dari gang ke gang. Termasuk ke asrama di Jalan Cendrawasih. Itu saya lakukan untuk bisa dapat uang jajan sekolah, serta membantu ibu membeli kebutuhan sehari-hari. Kalau pagi jual ikan. Sore jual es mambo,” ujar Syarifuddin.
Ia juga mengenang apa biasa dialaminya waktu itu. Syarifuddin kerap menjadi sasaran dipukuli anak-anak sebayanya. Karenanya, sang ibu kemudian mengizinkan putranya untuk ikut latihan bela negara.
”Waktu latihan, saya gunakan pakaian buata ibu dan tante saya. Bahannya terbuat dari kain pembungkus terigu disambung-sambung sampai jadi,” jelasnya.
Pada tahun 1981, Syarifuddin melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 5 Panaikang, Makassar. Ia kemudian tinggal di Jalan Angkasa, karena dekat dari sekolah. ”Untuk bis sampai ke sekolah, saya jalan kaki memotong setapak yang ada kuburan,” imbuhnya.
Di masa ini, pergaulannya sangat luas. Kelompok remaja yang ada saat itu ditemaninya bergabung. Dia pun akhirnya dijuluki Topan Sang Petarung Cinta Damai. Syarifuddin menamatkan pendidikan di SMA tahun 1984.
Sebenarnya, ia hendak melanjutkan kuliah. Namun ekonomi keluarganya tak memungkinkan. Tapi, ada seorang rekannya bernama Agus Purwanto yang meminta untuk ‘diwakili’ ke kampus. Agus saat itu tercatat sebagai mahasiswa jurusan teknik sipil. Dari situ, akhirnya Syarifuddin mulai paham tentang teknik sipil.
Selain itu, di masa lalu Syarifuddin juga menggeluti seni teater. Dari sini pula karakternya terbentuk, hingga pada pemahamannya tentang arti kehidupan.
Pada tahun 1985-1986, Syarifuddin mengadu nasib di Palu, Sulawesi Tengah. Ia berada di sana hanya setahun. Selanjutnya ke Balikpapan. Namun, tiga bulan kemudian Syarifuddin kembali ke Makassar lagi.
Di tahun 1986, Syarifuddn menikah dengan Devi Rimelda Yohannes. Pasangan suami istri baru ini lalu memulai dari nol. Mengarungi kehidupan rumah tangga. Namun kemudian bercerai di tahun 2012. Setahun kemudian, atau 2013, Syarifuddin kembali membina mahligai rumah tangga bersama Sanny Sibuea.
Di pernikahan pertamanya, Syarifuddin bekerja sebagai buruh di sebuah gudang yang ada di Pasar Sentral. Profesi itu digelutinya selama enam bulan. Di saat bersamaan ia menjual tiket pelni serta makelar mobil dan motor di Jalan Batu Putih.
Suatu ketika, Syarifuddin dikeluarkan dari perusahaan rokok tempatnya bekerja. Hal itu terjadi karena ia membela rekan para sopir perusahaan yang berlokasi di Jalan Cakalang.
Di tahun itu pula, pada malam hari Syarifuddin menjadi pedagang asongan di Pantai Losari. Hingga akhirnya tahun 1987 menjadi sales motor dan sopir kampas keluar masuk gang.
Berbagai jenis pekerjaan telah digelutinya. Hingga di tahun 1998 dipercaya sebagai direktur di perusahaan PT Pelasakti untuk mengerjakan gedung Bank Mandiri cabang eks BDN Kendari. Juga mengerjakan showroom dan kantor Bosowa sampai selesai di Kendari
Di tahun 2005, dari kerja kerasanya, Syarifuddin bisa memiliki saham 100 persen di PT Pelasakti, sekaligus sebagai owner. Proyek besar pun telah dikerjakannya.
Tahun 2017 ia juga diangkat sebagai direktur PT Bososi Pratama dan pemilik saham. Juga bergabung di PT Integra Bining Nusantara, untuk melakukan survei area potensi nikel di Sulawesi Tengah, khususnya di daerah Morowali. Kegiatan penambangannya masih terus berjalan sampai sekarang.
Di tahun 2007-2008, Syarifuddin mencoba untuk ikut di perhelatan pemilihan wali kota Makassar. Namun, saat itu ia tidak melanjutkan untuk bertarungan. Karena sudah ada tujuh pasangan calon yang berhadapan dengan Ilham Arif Sirajuddin selaku incumbent.
”Insyaallah, tahun 2020 mendatang saya berusaha keras untuk maju sebagai calon wali kota Makassar bila Allah Swt mengizinkan. Termasuk dukungan dari masyarakat,” jelasnya.
SaDaP ingin menjadi pelayan masyarakat Makassar dengan tidak membedakan suku, agama, dan ras. Mengutamakan sentuhan hati tanpa mengumbar janji. (ishak mappelawa)

Exit mobile version