GOWA, BKM — Kadis Perdagangan dan Perindustrian (Perdastri) Kabupaten Gowa, Andi Sura Suaib, mengatakan, Pertamina punya kebijakan baru. Isi kebijakan barunya yakni mengarahkan masyarakat agar membeli gas di agen atau pangkalan.
Dari kebijakan itulah muncul masalah. Dimana, beberapa pengecer/toko tidak lagi didistribusikan tabung elpiji 3 kilogram (Kg) untuk dijual. Alasannya, Pertamina akan membentuk satu agen satu kelurahan atau desa.
”Menurut info Pertamina, tidak ada pengurangan distribusi tabung. Meski begitu, dampaknya tetap ada. Masyarakat menilai, elpiji 3 Kg langka karena tempat/toko dimana selama ini mereka beli, tidak lagi menjual. Karena tidak didropkan lagi dari agen. Di sisi lain, tidak ada pangkalan dekat yang mereka tahu. Padahal, masyarakat kalau beli elpiji 3 Kg di pangkalan harganya lebih murah, yakni Rp15.500,” beber Andi Sura kepada Berita Kota Makassar, Kamis (25/7).
Dikatakan, hal lain yang membuat elpiji 3 Kg kadang cepat habis, karena ada indikasi penggunaan yang salah sasaran. Padahal, elpiji 3 Kg ini penggunaannya hanya kepada masyarakat kurang mampu sesuai data masyarakat miskin yang dimiliki Pertamina.
Elpiji 3 Kg, tambah mantan Camat Pattallassang ini, peruntukannya masih untuk masyarakat kurang mampu sesuai data Pertamina yang diperoleh dari statistik serta usaha mikro kecil dan menengah.
Kenyataannya, elpiji 3 Kg banyak dipakai kalangan ASN, usaha laundry, usaha peternakan, mesin pompa air, dan rumah makan yang tergolong menengah ke atas. Padahal, itu tidak dibolehkan.
Selain kebijakan tidak memasok lagi ke pengecer, Pertamina juga mengeluarkan kebijakan penukaran tabung bagi kalangan yang tidak dibolehkan (masyarakat kalangan ekonomi menengah ke atas). Kini, Pertamina memberikan kesempatan kepada para agen untuk menerima penukaran dua tabung elpiji isi 3 Kg menjadi satu buah tabung elpiji isi 5 Kg. (sar/mir)
Warga Tetap Kesulitan Dapatkan Elpiji 3 Kg
