Site icon Berita Kota Makassar

Raup Keuntungan Lebih di Kala Musim Hujan

MUSIM hujan menjadi momen untuk mengumpulkan rezeki. Dari pengalaman sepuluh tahun di bengkel sadel motor, Saiful Ahmad mampu raup dua kali lipat keuntungan dibanding hari biasanya.

Laporan: ARIF AL QADRY

Saat musim hujan, pemilik sepeda motor mulai bergantian datang ke bengkel sadel miliknya di Jalan Toddopuli Raya Timur, dakat lampu lalu lintas. Saat musim hujan pula, banyak pengendara mulai sadar bahwa sadel sepeda motor mulai rusak dan berlubang. Mereka sadar setelah celana basah usai duduk di motor. Tentunya kondisi itu membuat risih pemakai motor dan memutuskan untuk mengganti sarung sadel jadi baru.
“Kalau musim hujan banyak pembeli sarung sadel datang. Mereka biasanya mengeluh dan risih kalau celana basah karena sarung sadel motornya bolong. Jadi mereka pasti pilih mengganti daripada terus-terusan celananya basah. Disitulah momen mengais rezeki saat musim hujan,” kata Saiful.
Meskipun saat musim hujan ramai pemilik kendaraan mau mengganti sarung sadel motornya jadi baru, Saiful tetap tak mau menaikkan harganya. Yaitu, dari Rp50 ribu-Rp150 ribu per lembar sarung sadel, dan Rp20 ribu untuk papas busa sadel. Sedangkan tuk pembuatan plat nomor kendaraan dari harga Rp50 ribu sampai Rp100 ribu.
“Harga di musim hujan tetap sama alias tidak naik kecuali harga barangnya memang naik. Tetapi selama ini belum pernah ada kenaikan. Banyak yang beli saja itu sudah saya syukuri,” akunya.
Sudah sepuluh tahun, pria kelahiran Ujung Pandang 25 Juli 1982 menggeluti bisnis renovasi sadel motor dan ganti plat nomor kendaraan. Tepatnya dimulai pada 2008 lalu. Awal menggeluti bisnis renovasi sadel dari ikut dengan kakak kandungnya di Kabupaten Gowa.
Awal dia ikut bekerja sama kakaknya, tugasnya hanya sebatas melepas klip sarung sadel lalu menggantinya. Lambat laun, ia belajar cara memapas atau menambah busa jok hingga membuat plat nomor kendaraan. Proses belajarnya memakan waktu lima bulan.
Beberapa bulan pertama bekerja, tangan Saiful sering berdarah terkena klip. Dan jempolnya bengkak terkena palu saat mengerjakan plat nomor. Semua itu ia terima sebagai risiko dari pekerjaannya. Dia berharap dapat mengembangkan bisnis usahanya lebih maju dan lebih baik.
“Saya dulu juga bercita-cita menjadi PNS seperti orang-orang. Tapi susah. Jadi yang nyata saja seperti sekarang ini jelasnya ada uang untuk kebutuhan hidup sehari-hari saya sudah syukuri. Saya cuma berusaha terus bagaimana usaha saya ini berkembang dengan baik,” tutupnya.
Kedua tangannya terlihat cekatan membongkar sarung jok motor di bengkelnya yang ada di Jalan Toddopuli Raya Timur. Bengkelnya tidak jauh dari traffic light (lampu lalu lintas).
Hanya membutuhkan waktu 15 menit, dia mampu menyelesaikan renovasi satu jok sadel motor meliputi mengganti sarung jok sampai memapas busa jok.
Sarung jok untuk sadel motor begitu ramai terpasang di depan bengkel Saiful. Ada yang bermotif juga ada yang hanya berwarna hitam polos berserat. Selain ramai juga tidak kalah ramainya pembuatan plat nomor kendaraan sepeda motor dan mobil. Barang-barang itu dijual pria kelahiran Ujung Pandang 25 Juli 1982 dengan harga terjangkau.
“Dulu saya cuma ikut saja sama kakak bekerja di service perbaikan sadel motor di Gowa. Lima bulan belajar dan sudah bisa kerja sendiri, akhirnya kakak saya minta ke saya buka di sini (Toddopuli Raya Timur). Ya… sampai sekarang ini di sini,” ucap Saiful membuka cerita kisah awalnya membuka bengkel sadel motor.
Memapas busa sadel sampai memasang sarung jok sadel awalnya sangat sulit dirasakannya. Butuh waktu sampai 20 menit untuk menyelesaikan satu sadel. Namun lambat laun, tangannya pun mulai mahir mengerjakan itu. Dari 30 menit pengerjaan satu sadel menjadi 15 menit paling lambat.
Tangan berdarah karena kena klip atau paku sudah biasa terjadi padanya khususnya diawal-awalnya bekerja. Tak sampai disitu saja, jempolnya kadang sering bengkak-bengkak terkena palu saat dia mengerjakan plat nomor kendaraan.
“Awalnya itu susah-susah gampang. Saya berproses ada lima bulan baru bisa sempurna menghasilkan hasil usaha pekerjaan. Kalau sadel motor, waktu saya masih proses, busanya sering miring-miring kalau saya memapas atau menambahkan busa. Jadi diperbaiki lagi sampai benar-benar baik. Kadang tangan berdarah kena klip paku dan juga sering kena palu kalau buat plat nomor. Kalau dulu sampai 30 menit pengerjaan satu sadel, sekarang sudah bisa selesaikan kurang 15 menit satu sadel,” sebutnya.(*)

Exit mobile version