Site icon Berita Kota Makassar

Pria Penuh Rajah Membunuh Gegara Dicegat ke Masjid

MAKASSAR, BKM — Minggu malam (4/8). Seorang lelaki berambut gondrong mendatangi Mapolsek Panakkukang. Sekujur tubuhnya, termasuk bagian wajah dipenuhi rajah aneka motif.
Namanya Agus Sulistiyo, atau biasa dipanggil Bagong. Usianya 29 tahun. Perawakannya tambun. Beralamat di Jalan Toddopuli, Makassar.
Ia ke kantor polisi untuk menyerahkan diri. Kepada petugas, Bagong mengaku baru saja menghabisi nyawa Andi Irsa Aditya alias Enda.
Aksinya itu dilakukan karena Bagong tersulut emosi. Sebab korban menganiaya dirinya saat hendak menuju ke masjid. Tiga kali bogem mentah dilayangkan korban ke wajah tersangka, cukup membuatnya naik pitam.
Aksi kejar-kejaran sempat terjadi. Begitu Bagong mendapati korban, seketika itu juga ia menyerangnya. Sebilah badik yang dipegangnya langsung dihunus. Selanjutnya dihujamkan ke tubuh korban.
Lima kali tusukan mengakibatkan Enda tumbang bersimbah darah. Tak lama kemudian korban tewas dengan luka parah di tubuhnya.
Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Panakkukang Kompol Ananda Fauzi Harahap, membenarkan jika Bagong menyerahkan diri usai membunuh. Dari hasil pemeriksaan, tersangka mengaku menikam korban hingga akhirnya meninggal dunia.
Menurut Bagong, peristiwa berdarah itu akibat terjadinya kesalahpahaman antara korban dengan dirinya. Kala itu korban tengah berpesta minuman keras (miras) jenis ballo. Ia ditemani rekannya, yakni Reski, Rifai, Iswandi, Petrus, dan Fikar.
”Di tengah asyiknya mereka pesta miras, datanglah tersangka Bagong. Ia bermaksud untuk bergabung bersama bermain gitar dan bernyanyi,” ujar Kompol Ananda, Senin (5/8).
Tak lama kemudian terdengar suara adzan dari masjid. Pertanda untuk menunaikan salat isya. Bagong kemudian berpamitan. Ia bilang hendak ke masjid untuk sembahyang.
Namun, tiba-tiba korban mencegat Bagong. Kemudian merangkul lehernya. Ia membisikkan ke telinga tersangka sesuatu yang bernada tudingan. Bagong sepertinya tak nyaman dengan tuduhan itu.
”Korban bilang ke tersangka kalau dia yang pernah membanpolinya. Tersangka bertanya, siapa yang bilang begitu. Kalau memang ada yang bisa menjadi saksi, terangka meminta ke korban untuk menghadirkan orangnya. Tersangka rela dipukul jika memang tudingan itu bisa dibuktikan,” terang Kompol Ananda menirukan pengakuan tersangka.
Mendengar hal itu, lanjut Ananda, korban yang berada di bawah pengaruh miras langsung bertindak. Ia melayangkan bogem mentah ke wajah tersangka.
Pertikaian di antara keduanya sempat dilerai oleh para saksi. Namun tersangka tak terima dipukuli wajahnya. Dia pun langsung gelap mata.
Bagong melakukan perlawanan, hingga terjadi saling kejar. Begitu berhasil mengejar orang yang diburunya, tersangka kain kalap. Sebilah badik yang dipegangnya langsung dihunuskan ke tubuh korban.
Tiga kali tusukan pada bagian dada membuat korban lari sempoyongan. Tidak berhenti sampai di situ. Lagi-lagi tersangka menikam satu kali pada bagian ketiak kiri korban, dan satu kali pada bagian lengan kiri. Seketika itu korban jatuh tersungkur.
Kompol Ananda melanjutkan, Tim Resmob Polsek Panakkukang yang dipimpin Panit 2 Reskrim Ipda Roberth Hariyanto Siga mendapat informasi pembunuhan itu saat sedang melakukan pemantauan Kamtibmas.
“Piket fungsi yang lebih dulu mendapat informasi, kemudian meneruskan ke tim Resmob Polsek Panakkukang yang sementara berada di lapangan,” ujarnya.
Selanjutnya polisi mendatangi lokasi kejadian. Selanjutnya mengevakuasi korban ke Rumah Sakit Grestelina guna mendapat perawatan medis. Namun, pihak medis mengatakan jika nyawa korban tak bisa tertolong dan dinyatakan meninggal dunia. (ish/rus)

Exit mobile version