BUKAN gagasan teknis yang dibawa oleh bakal calon wali kota Makassar Muhammad Ismak untuk maju dan bertarung di pilwali 2020. Melainkan ide yang lebih besar. Mengubah mindset dan perilaku masyarakat.
HADIR pada sesi diskusi Mempoki ri BKM (Membahas Problematikan Kota Kita di BKM), Jumat (16/8), Ismak menegaskan bahwa untuk maju di pilwali, dirinya tidak berangkat dari ide teknis. Alasannya, ide serta gagasan teknis saat ini tidak ada yang baru lagi. Sehingga hal itu menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja.
Selain itu, gagasan-gagasan teknis juga dianggapnya sudah sering diterapkan oleh para wali kota sebelum-sebelumnya. Namun tetap saja belum berhasil menata kota ini menjadi lebih baik seperti yang diharapkan masyarakat.
Olehnya, mengubah pola pikir masyarakat menjadi perilaku yang baik, dianggapnya sebuah gagasan besar. Hal ini inilah yang disebut Ismak bisa membuat Makassar menjadi lebih baik.
“Saya tidak berangkat dari ide teknis. Ide teknis tanpa mengubah pola pikir tidak ada gunanya. Jadi mengubah mindset dengan gagasan besar bisa menjadi lebih baik,” ujarnya di depan para kru redaksi BKM yang menghadiri diskusi.
Meski begitu, ia bukannya tidak merencanakan suatu program. Sebagai seorang yang sangat mencintai seni, ia pun ingin menghidupkan Makassar melalui seni. Sebab seni dan budaya masyarakat Makassar dulunya pernah berjaya.
Ismak berjanji, dirinya akan membawa Kota Makassar menjadi lebih berseni. Pertunjukkan seni akan menjadi salah satu prioritas programnya jikakelak terpilih memimpin kota ini.
Ismak mengatakan, salah satu ciri kota dunia adalah menjunjung tinggi kesenian. Kesenian baginya tak bisa dipisahkan dari perilaku masyarakat dunia.
Saat ini Kota Makassar kerap dikaitkan dengan kota dunia. Karena wali kota sebelumnya terus menggaungkan Makassar sebagai sebuah kota dunia. Namun kesalahan yang fatal, Makassar justru mengesampingkan berbagai kegiatan seni.
Olehnya, kandidat berlatar belakang advokat ini menegaskan, dirinya akan kembali membawa pertunjukkan kesenian seperti yang dulu sering dipertontonkan di Makassar.
“Kita jangan terus memakai otak kiri dalam memimpin Makassar. Perlu juga dipakai otak kanan terkait dengan seni, supaya Makassar semakin berimbang dalam pembangunannya,” jelas Ismak.
Ismak mencontohkan, walaupun saat ini kegiatan kesenian di Makassar tidak didukung secara sarana dan prasarana, namun masyarakatnya tetap masih bisa membuat berbagai film karya lokal. Bahkan mampu berbicara di level yang lebih tinggi.
“Berkesenian sekarang tidak difasilitasi saja, banyak adik-adik kita yang bisa membuat film. Coba bayangkan bagaimana kalau pemerintah memfasilitasi itu, pasti lebih baik lagi,” tandasnya.
Sejak memutuskan untuk bersosialisasi dalam rangka bertarung di pilwali Makassar, Ismak telah menemui sejumlah kalangan. Salah satunya budayawan. Termasuk pihak kampus almamaternya Fakultas Hukum Unhas.
Dari pertemuannya dengan budayawan Makassar, ada salah satu ‘tantangan’ yang terlontar dari mereka. Meski terkesan sepele, namun sangat patut untuk diperhatikan. Yaitu, bagaimana caranya menghilangkan nyamuk.
”Persoalan nyamuk ini erat kaitannya dengan drainase. Wali Kota Risma di Surabaya mampu melakukan banyak perubahan selama kepemimpinannya. Kenapa Makassar tidak bisa?” tandasnya.
Selain itu, terungkap pula bahwa peradaban yang dimiliki Makassar telah tergerus dan hilang. Ismak pun ditantang untuk mengembalikan peradaban tersebut.
Tujuannya maju untuk berkontestasi di pilwali, bukanlah kemenangan yang utama. Bagi Ismak, beradu gagasan menjadi hal yang lebih penting. Karena jika kemenangan menjadi faktor utama, maka apapun akan dilakukan oleh calon tersebut.
“Kalau berpikir untuk menang, pasti kita akan lakukan cara hanya untuk menang, gagasan dikesampingkan. Efeknya, setelah menjadi wali kota, kita akan berpikir mati-matian mengembalikan uang kampanye. Jadi bukan untuk menyejahterakan rakyat,” tandas Ismak.
Mindset inilah yang perlu ditanamkan juga oleh masyarakat. Menurut Ismak, mindset soal gagasan menyejahterakan rakyat harus lebih diutamakan. Bukan hanya fokus pada kemenangan.
“Takutnya kita justru akan habiskan energi untuk bicara politik. Nah saya harapkan juga jangan ke situ terus. Ujung-ujungnya kan tentang masyarakat. Beradu pikiran untuk kesejahteraan jauh lebih penting,” terangnya. (nug/rus/b)
